Home Government Kasus Bayi Prematur di Dunia, Indonesia Peringkat 5 Besar

Kasus Bayi Prematur di Dunia, Indonesia Peringkat 5 Besar

0
SHARE
Indonesia, Peringkat 5 Besar Kasus Bayi Prematur di Dunia
Indonesia, Peringkat 5 Besar Kasus Bayi Prematur di Dunia

Mataram, LombokInsider.com – Kematian bayi di NTB masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Provinsi. Kematian bayi ini, memiliki kaitan dengan kesehatan ibu selama proses kehamilan.

Kalau tidak ditangani dengan baik, maka akan menyebabkan kelahiran prematur. Karena itu, untuk mencegah terjadinya kelahiran prematur, diperlukan sosialisasi dan edukasi yang masif dan luas kepada masyarakat.

“Kita merasa perlu edukasi tentang Penanganan Bayi Prematur seluas-luasnya disebarkan kepada Masyarakat, tidak hanya kepada Ibu Bayi Prematur, tetapi juga bagi calon-calon ibu,” kata Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data yang dirilis Humas RSUD provinsi NTB, menyebutkan setiap tahun di seluruh dunia, sekitar 15 juta bayi terlahir prematur. Sementara itu, Indonesia menempati peringkat ke-5 kelahiran prematur tertinggi di dunia, WHO mencatat ada 675.700 kelahiran prematur di Indonesia.

Berdasarkan data WHO, terjadi peningkatan angka kelahiran prematur selama 20 tahun terakhir. Bayi prematur memiliki banyak tantangan kesehatan setelah lahir, seperti gangguan pernafasan, peningkatan risiko infeksi, dan peningkatan risiko penyakit tidak menular atau non communicable diseases (NDS) seperti hipertensi dan diabetes di kemudian hari atau masalah kesehatan yang lain.

Baca juga:  LKPJ Gubernur Tahun 2020 Memenuhi Syarat Untuk Diterima DPRD

Salah satu cara mengurangi hal tersebut adalah dengan mengetahui faktor risiko ibu melahirkan anak prematur.

“Anak yang terlahir prematur berisiko memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus karena dapat berdampak pada tumbuh kembangnya, baik dalam jangka pendek ataupun panjang,” jelasnya.

Bayi prematur memiliki resiko stunting sehingga jika salah dalam pengolahan dan pengembangannya, maka pertumbuhannya tidak akan secepat anak normal.

“Mereka harus terus menerus dipantau karena ada masanya dia harus mengejar sehingga dapat tumbuh menjadi generasi berkualitas yang sama dengan anak normal pada umumnya. Tidak hanya sehat tetapi juga pintar dan cerdas,” ujar Wagub.

Perlu juga diingat bahwa masa depan anak tidak hanya ditentukan setelah ia lahir. Masa depan seorang anak dipengaruhi oleh status kesehatan pada 1000 hari pertama, dimulai sejak masih di dalam kandungan ibu (270 hari).

Oleh karena itu, ketika anak lahir prematur, salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah penanganan nutrisi untuk mengejar ketinggalan tumbuh kembang selama periode emas 1000 HPK tersebut.

Baca juga:  Kirab Obor, Menko Luhut Ajak Masyarakat NTB Sukseskan Asian Games 2018

“Beberapa kebijakan dan program pemerintah yang terkait penanganan masalah gizi pada balita dan intervensi stunting antara lain: Permenkes 23/2014 tentang upaya perbaikan gizi, kerangka kebijakan gerakan nasional percepatan gizi dalam rangka seribu hari pertama kehidupan (Gerakan 1000 hari pertama kehidupan)/ 2013, Perpres No 42/2013 tentang gerakan nasional percepatan perbaikan gizi dan juga progam “Intervensi Gizi Spesifik” di kementrian kesehatan melalui puskesmas dan posyandu,” tegas Wagub NTB. (LI/aa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.