Mataram, LombokInsider.com – Pelari muda, Lalu Muhammad Zohri, asal Kabupaten Lombok Utara (KLU) Nusa Tenggara Barat, berhasil meredam hiruk pikuk berita perhelatan Piala Dunia yang telah mencapai final dan memanasnya suhu politik jelang Pilpres. Ya, berita tentang keberhasilannya meraih medali emas dalam nomor bergengsi 100 M putra pada Kejuaraan Dunia U 20 di Finlandia (11/7) menjadi viral di media sosial, elektronik dan cetak.

Zohri berhasil menjadi juara setelah mencatatkan rekor tercepat dengan catatan waktu 10.18 detik. Sebelumnya di Jepang pada nomor yang sama Zohri juga berhasil meraih medali emas, pada kejuaraan atletik junior dengan catatan waktu 10.27 detik dan 7 emas pada Kejurnas 2017.

Siapakah Zohri sebenarnya? Zohri alias Badok, lahir di Dusun Karang Pansor, Desa Pemenang Barat, Kec. Pemenang, KLU 18 tahun lalu, tepatnya 1 Juli 2000. Dengan kedua orang tua ayah L.Ahmad Yani dan Ibu Saeriah yang telah meninggal dunia, Zohri muda hidup bersama kakaknya.

Ternyata kehidupan keluarga Zohri masih memprihatinkan, dibutuhkan perhatian lebih dari pemerintah guna membantu keluarga Zohri atas prestasinya mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Jika pulang ke Lombok, Zohri tidur di rumah bedek peninggalan orang tua. Diceritakan Ma’rib, kakaknya, semasa hidup, orang tuanya L. Ahmad Yani bekerja sebagai nelayan dan melakukan pekerjaan sampingan sebagai buruh tani. Sedangkan ibunya, Saeriah meninggal saat Johri duduk di bangku SD. Ayahnya menyusul hampir setahun lalu. Saat itu Johri sedang di luar daerah melakukan persiapan menghadapi salah satu kejuaraan bergengsi, namun terpaksa pulang untuk melihat orang tuanya terakhir kali.

“Semasa hidup, orang tua kami sangat mendukung Zohri untuk giat mengukir prestasi. Alhamdulillah amanat itu dijalankan dan sekarang telah mengharumkan nama Indonesia juga daerah. Kami sangat bersyukur,” kata Ma’rib.

Awalnya, saat pertama kali ditawari mengikuti kejuaraan, Zohri sempat menolak. Beragam alasannya. Salah satunya persoalan biaya yang menjadi pertimbangan. Namun dengan dukungan orang tua, Zohri pun menerima tawaran itu.

Zohri mengenyam pendidikan SDN 2 Pemenang Barat dan melanjutkan di SMPN 1 Pemenang. Belum tuntas menjalankan studi di SMP, Zohri mendapat tawaran untuk ikut dalam kejuaraan. Ia dianggap berpotensi dan berhasil hingga beberapa kali menoreh prestasi.

Sebagai kakak, Ma’rib selalu berpesan agar Zohri dapat mempertahankan prestasinya demi mengharumkan nama bangsa. Namun Zohri juga diingatkan tetap memperhatikan masa depannya.

Dengan apa yang telah berhasil diraih Zohri, Ma’rib sangat berharap pemerintah dari tingkat daerah bahkan hingga pusat dapat memberikan perhatian lebih atas prestasi adiknya, terutama melihat kondisi ekonominya yang sangat terbatas. (LI)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com