London, LombokInsider.com – Menyambut peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017, berbagai kegiatan tidak hanya diadakan di tanah air, namun juga di mancanegara. Salah satunya, School of Oriental and African Studies (SOAS) The University of London bekerjasama dengan Indonesian Art Within the UK’s Cultural Diversity (ARTiUK) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London menyelenggarakan Indonesia Kontemporer Festival (IKON).

IKON merupakan festival tahunan yang mempromosikan budaya Indonesia di Britania Raya. Tahun ini, kegiatan diselenggarakan di SOAS University of London, tepatnya di Russel Square London. IKON tahun ini tidak hanya menampilkan artis Indonesia, namun juga penampilan dari masyarakat lokal Inggris, salah satunya para pelajar dari Whitefield School an Academy, London.

Para siswa Whitefield School menampilkan Tari Beriuk Tinjal khas kebudayaan Sasak yang diciptakan oleh Abdul Hamid di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Keenam siswa/i tersebut adalah Chanuti yang merupakan warga Inggris keturunan Sri Lanka, Miguel warga Inggris yang memiliki darah Afrika Selatan, Dean warga Inggris keturunan Filipina, Amalie asli Inggris, serta Daniela yang berasal dari Rumania.

Ketertarikan para pelajar Inggris terhadap kebudayaan Indonesia berawal dari dibentuknya kelas ‘After School Club’ Bahasa dan Budaya Indonesia di Whitefield School. Sejak pertengahan 2017 ini, Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud RI bersama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London menugaskan seorang pengajar Bahasa dan Budaya Indonesia untuk merintis program Bahasa Indonesia di sekolah negeri yang terletak di kawasan Barnet, London.

Bagi masyarakat Inggris, Indonesia belum sepenuhnya dilihat sebagai potensi untuk bermitra. Karenanya perlu kerja keras mengenalkan budaya Indonesia kepada warga setempat. “Saya bersyukur, di Whitefield School pengajaran Bahasa dan Budaya Indonesia bisa langsung diserap bukan hanya oleh warga Inggris, tetapi oleh siswa dari berbagai bangsa,” ujar Ni Putu Ari Pirgayanti, pengajar Bahasa dan Budaya Indonesia di Whitefield School London.

Pirgayanti juga mengatakan bahwa perintisan program Bahasa dan Budaya Indonesia ini memang tidak mudah. Untuk bisa diterima, Pirgayanti harus masuk dan bekerja sama dengan beberapa departemen di sekolah tersebut. Selain itu, ia mengajarkan Bahasa Inggris kepada para imigran dari Eropa dan timur tengah sembari perlahan mengenalkan tari-tarian Indonesia.

Sementara, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Prof. E. Aminuddin Aziz menegaskan komitmennya terhadap promosi Bahasa dan Budaya Indonesia. “Kami memang mengedepankan strategi yang kreatif untuk mengenalkan bahasa Indonesia kepada khalayak di sini. Karena itulah kami masuk melalui kebudayaan,” tegas guru besar Universitas Pendidikan Indonesia yang akrab disapa Aminudin.

Beliau juga menegaskan, keberlanjutan dari program ini akan menjadi prioritas bagi Kedutaan Besar Republik Indonesia di London. “Sudah selayaknya, Sumpah Pemuda kita maknai secara terukur dan konkret,” pungkas Amin. (LI/SP/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com