Home General News Gubernur: Gong Industrialisasi Pertanian di NTB Sudah Ditabuh

Gubernur: Gong Industrialisasi Pertanian di NTB Sudah Ditabuh

33
0
SHARE

Tanjung, LombokInsider.com – Gong industrialisasi pertanian di NTB sudah mulai ditabuh. Satu per satu, benih industri berwujud aneka komoditas mulai tumbuh. Di Lombok Utara, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menyaksikan sendiri bagaimana perkembangan menggembirakan yang berhasil disuguhkan oleh tumbuhnya industrialisasi di sektor pertanian.

“Hari ini saya menyaksikan di Lombok Utara. Upaya ini mulai
menunjukkan bahwa memang ada cahaya di ujung terowongan. Betapa tidak,
petani-petani kecil berbinar matanya, bersinar wajahnya melihat tanah yang
tadinya gersang dan kering kini hijau siap dipanen,” ujar Gubernur, Kamis (7/11).

Pernyataan itu disampaikan Gubernur usai melihat lahan
pertanian jagung yang diairi dengan teknologi irigasi tetes alias drip
irrigation. Setelah diterapkan, teknologi ini rupanya berhasil melipatgandakan
produktivitas jagung di tanah kering tersebut.

“Jagung yang tadinya hanya bisa dipanen sekali setahun, kini
bisa minimal tiga kali setahun dengan hadirnya Drip Irrigation dengan hasil tiga bahkan empat kali lipat!”
jelasnya.

Gubernur meyakini, kesinambungan penanaman akan memungkinkan
ketersediaan bahan baku untuk pakan ternak yang kemudian memajukan peternakan
dan juga industri makanan di NTB. Terobosan ini sudah dimulai dari KLU.
Selanjutkan, Gubernur bertekad untuk mereplikasi terobosan serupa di
tanah-tanah kering lainnya di seluruh Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Dalam berbagai kesempatan, Gubernur selalu menegaskan
keyakinannya bahwa pengangguran dan kemiskinan akan bisa dikurangi dengan
industrialisasi. Sebab, industrialisasi memungkinkan hadirnya peningkatan
produktivitas. Komoditas yang tumbuh dari tanah-tanah di NTB, bisa menghasilkan
nilai tambah berlipat ganda berkat industrialisasi.

Konsep industrialisasi yang dimaksudkan Gubernur juga tidak
selalu harus berupa hadirnya teknologi yang terlalu rumit atau berupa
mesin-mesin besar. Justru, yang akan didorong adalah lahirnya teknologi
sederhana yang bisa mengolah hasil pertanian di NTB menjadi aneka produk
olahan.

Setelah diolah, nilai komoditas NTB ini, tentu saja akan
jauh lebih besar. Proses mengolah produk ini juga pasti membutuhkan tambahan
tenaga kerja. Dalam skala satu atau beberapa unit, jumlah tenaga kerja yang
terserap mungkin sedikit.

Namun, jika teknologi sederhana ini diterapkan secara massal
dalam bentuk sentra industri-industri rumahan di berbagai daerah di NTB, maka
akumulasinya akan melahirkan kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah yang besar.

Berdasarkan data terakhir yang dipublikasikan Badan Pusat
Statistik NTB, laju pertumbuhan industri pengolahan di NTB pada triwulan ketiga
2019 hanya mencapai 1,18 persen (y on y). Data ini memperlihatkan bahwa
industri pengolahan belum mencapai laju pertumbuhan yang diharapkan. Untuk
itulah, Gubernur menegaskan perlunya semua pihak terus berupaya mendorong
tumbuhnya industri-industri pengolahan di NTB.

Meski sulit, Gubernur meyakini langkah ini adalah sesuatu
yang harus ditempuh oleh masyarakat NTB. “Perjalanan panjang, memang harus
dimulai dengan langkah pertama,” pungkasnya. (LI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.