Home Bima/Dompu Uniknya Pacoa Jara Penunggangnya Joki Cilik, Tradisi Budaya yang Tetap Lestari

Uniknya Pacoa Jara Penunggangnya Joki Cilik, Tradisi Budaya yang Tetap Lestari

13
0
SHARE

Dompu, LombokInsider.com – Pacuan Kuda atau yang lebih dikenal dengan Pacoa Jara oleh
masyarakat di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, merupakan sebuah tradisi
budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Jika
biasanya ditempat lain joki atau penunggangnya adalah orang dewasa, tidak
demikian dengan yang terjadi di Pulau Sumbawa.

“Joki disini adalah anak kecil atau joki cilik, ini memang
budayanya,” ungkap Sukardin warga Kelurahan Bada, Dompu, Rabu (10/4) di Dusun
Lembah Kara, Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu.

Pagi itu merupakan puncak dari atraksi Balapan Kuda
Tradisional (BKT) yang sering disebut “Pacoa Jara” di Arena Pacuan Kuda Lembah
Kara, Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu.

“Acara ini sudah menjadi tradisi setiap tahunnya, wisatawan
dapat menikmati langsung suguhan atau atraksi tersebut. Yang membuatnya seru
adalah para penunggangnya yang berumur antara 5-10 tahun,” jelas Kardin.

Kebanyakan Joki Cilik tersebut sendiri merupakan anak-anak
sekitar Kabupaten Dompu yang disewa oleh pemilik kuda untuk menjadi joki.
Masing-masing joki tersebut mendapat bayaran antara Rp50-100 ribu dalam sehari.
Jika kuda yang ditungganginya menang, Joki Cilik tersebut akan menerima bayaran
antara Rp1-2 juta.

Salah satu Joki Cilik, Aditya Putra, menerangkan bahwa
dirinya telah memulai latihan berkuda sejak masih kecil. Aditya mengaku senang
mengikuti balapan kuda tersebut karena bisa menambah uang sakunya.

Saat ini Aditya baru berusia 5 tahun dan sudah berganti kuda
5 kali dari 5 orang pemilik kuda yang berbeda. “Kami joki turun temurun, dari
ayah saya dulunya juga seorang joki, ” tegas Aditya dengan nada bangga.

Di Dompu sendiri profesi menjadi Joki Cilik memang
diwariskan turun-temurun sebagai tradisi. Namun dalam prosesnya, orang tua si
Joki tidak pernah memaksa anaknya untuk menjadi penunggang kuda. Hal tersebut
karena mereka percaya, jika si anak menunggang kuda karena paksaan, maka hanya
akan mendatangkan celaka dalam prosesnya.

Sementara, Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh
Indonesia (Pordasi) Kabupaten Dompu sekaligus Ketua Panitia BKT-FTP, Muhamad
Amin Jafar, menerangkan bahwa balapan kuda tersebut sudah menjadi atraksi
budaya turun-temurun yang diselenggarakan oleh masyarakat Dompu dan sekitarnya.
Selain itu, BKT juga sekaligus memberikan kesempatan agar perekonomian
masyarakat meningkat.

Beberapa tahun terakhir, balapan kuda tradisional tersebut
mulai dijadikan even tahunan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Nusa Tenggara Barat
(NTB) sebagai rangkaian dari Festival Pesona Tambora (FPT) 2019 sekaligus
peringatan HUT Kabupaten Dompu ke-204.

“Ini merupakan salah satu cara kita untuk menjaga budaya.
Selain itu juga menumbuhkan pendapatan ekonomi masyarakat pencinta kuda. Kita
setiap malam mengalami perubahan pemilik (kuda, Red) karena mereka selalu
transaksi jual-beli,” tambah Amin, di sela-sela kegiatan.

Asisten III Setda Dompu ini juga menerangkan bahwa kuda-kuda
yang mengikuti BKT-FTP, yang semula harganya hanya belasan juta, bisa naik
hingga puluhan juta jiga sudah masuk ke putaran ke-tiga perlombaan. Hal
tersebut yang menjadi daya tariklainnya sehingga memancing peserta dari luar
Dompu.

“Selain dari NTB, ada juga peserta yang dari NTT, setiap tahun selalu ramai peserta, untuk tahun ini bahkan yang terbanyak hingga 600 kuda. Seluruh kuda tersebut akan berlomba adu cepat dalam satu putaran di lintasan sepanjang 1200 meter dengan ditunggangi oleh Joki Cilik,” pungkas Amin. (LI/AA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.