Home Destination News Sepi Wisatawan, Pengusaha Hiburan Senggigi Menjerit

Sepi Wisatawan, Pengusaha Hiburan Senggigi Menjerit

16
0
SHARE

Senggigi, LombokInsider.com – Wajah pariwisata Senggigi masih muram hingga kini. Dampak gempa bumi 2018 lalu belum lagi usai, disusul harga tiket pesawat yang mahal membuat kondisi Senggigi semakin terpuruk, sepi dan terkesan lengang. Selain hotel, sejumlah tempat hiburan pun tak bisa berbuat banyak tanpa perhatian dan good will pemerintah, untuk menormalkan kondisi ini.

Hal ini diperparah dengan kondisi infrastruktur penunjang
yang belum maksimal dan isu gempa bumi yang masih saja berhembus di tengah
masyarakat. Assosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Senggigi mengaku, dampak buruk
ini sudah dirasakan dan semakin parah belakangan ini.

“Jelas kami semakin terpuruk. Sudah dilanda gempa bumi
2018 yang dampaknya masih terasa sekarang, ditambah isu gempa dan banyak
masalah lain yang semakin membuat sepi. Ibaratnya wajah pariwisata Senggigi
saat ini suram,” kata Ketua APH Senggigi, Suhermanto, Rabu (17/7) di
Senggigi, Lombok Barat.

Suhermanto menegaskan, sejumlah pengusaha hiburan di
Senggigi saat ini benar-benar menjerit. Apalagi sejauh ini pemerintah daerah
Lombok Barat dinilai belum bersikap atas kondisi ini.

Pendapatan rata-rata usaha hiburan di Senggigi menurun
drastis. Dari yang biasanya bisa mengantungi omzet puluhan juga per hari, kini
untuk menembus Rp5 juta per hari pun terasa sangat sulit.

Padahal, mereka harus menanggung biaya operasional, gaji
karyawan dan juga pajak yang harus dibayar ke Pemda setempat. Kondisi ini,
papar Suhermanto, semakin diperparah dengan menjamurnya kafe-kafe liar di
sejumlah kawasan di Lombok Barat termasuk di Suranadi, Kecamatan Narmada.

“Keberadaan cafe-cafe liar illegal di kawasan Narmada
dan sekitarnya, itu menambah susah kondisi kami. Padahal kami ini legal dan
bayar pajak, sementara mereka kebanyakan tidak membayar pajak ke Pemda,”
katanya.

Suhermanto berharap, Pemda Lombok Barat bisa mencarikan
solusi untuk masalah ini.

Setidaknya, upaya penertiban cafe-cafe liar dan illegal di
Lombok Barat harus mulai dilakukan. Sebab, pertumbuhan mereka sangat masif di
Lombok Barat.

Sementara itu, Sekjen APH Senggigi Ketut Mahajaya
menambahkan, selain permasalan tersebut, kondisi infrasruktur penunjang
pariwisata di kawasan Senggigi juga perlu diperhatikan oleh Pemda Lombok Barat.

“Salah satu contohnya lampu penerangan jalan. Sekarang
kondisi Senggigi ini gelap gulita. Bayangkan seandainya tidak ada penerangan
dari tempat hiburan malam, mungkin akan semakin gelap,” cetus Mahajaya.

Selain lampu penerangan jalan, Mahajaya juga menyoroti
fasilitas umum lainnya seperti ketersediaan toilet umum dan juga tempat sampah
di kawasan Senggigi. Padahal, tekannya, NTB saat ini tengah mengusung program
unggulan NTB Zero Waste.

“Ini kan sangat disayangkan, bagaimana bisa Zero Waste
sementara tampat sampah saja tidak tersedia di kawasan wisata. Bule seringkali
harus mengantungi sampah untuk mencari tempat sampah.Ini kan ironis,”
katanya.

Terkait sejumlah masalah tersebut, jajaran APH Senggigi yang
terdiri dari belasan anggota pengusaha hiburan di Senggigi, akan melayangkan
surat kepada Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid agar sejumlah permasalahan di
kawasan Senggigi ini menjadi perhatian Pemda setempat.

“Rencananya dalam waktu dekat kita akan bersurat. Bukan
untuk kepentinngan pengusaha saja, tetapi agar wajah pariwisata Senggigi ini
bisa lebih berbenah,” tegas Mahajaya. (LI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.