Home Destination News Rumah Adat Sembalun Yang Unik dan Menarik, Sayang Kurang Terawat

Rumah Adat Sembalun Yang Unik dan Menarik, Sayang Kurang Terawat

0
SHARE
ADAT. Rumah Adat di Dusun Belek, Desa Sembalun Lawang, Memiliki Daya Tarik Bagi Wisatawan, karena telah Berumur Ratusan Tahun.

Sembalun, LombokInsider.com – Tidak diragukan lagi bahwa Sembalun telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Lombok, khususnya Lombok Timur (Lotim). Salah satunya adalah Rumah Adat Sembalun, yang merupakan rumah peninggalan dari orang atau warga pertama datang dan tinggal di Sembalun, konon rumah-rumah ini telah berumur ratusan tahun. Terdiri dari tujuh buah rumah yang terletak di lereng Gunung Rinjani yaitu di Dusun Belek, Desa Sembalun Lawang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

RATUSAN TAHUN. Tujuh Buah Rumah Adat Sembalun, Merupakan Cikal Bakal Komunitas Masyarakat di Sembalun.

Rumah Adat Sembalun

Bentuk fisik rumah adat ini memang berbeda dengan rumah adat Suku Sasak yang membentuk seperti setengah lingkaran. Hal inilah yang membuatnya lebih unik dan menarik dibandingkan dengan rumah adat lainnya. Sayang kondisis ketujuh rumah ini agak kurang terawat. Menurut penjaga pintu masuk tempat orang membayar karcis, jika hari libur dalam sehari mereka kedatangan tamu tidak kurang dari lima puluh orang. “Jika libur pendapatan agak lumayan, namun jika hari kerja yang datang tidak lebih dari sepuluh orang saja,” ungkap Darmin, salah seorang penjaga.

Baca juga:  Anggota Komisi VI DPR RI, Abdul Hakim Bafagih Kagumi Potensi Wisata Lotim

Minimnya pengunjung, bisa menjadi penyebab tidak adanya dana untuk melakukan pembenahan rumah-rumah tersebut. Keunikan ini memang menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke tempat ini, selain itu juga nilai sejarahnya yang telah berumur ratusan tahun. Karcis masuk kedalam lingkungan Rumah Adat tersebut sebesar Rp5000,- saja. Yang membuat rumah-rumah ini agak kurang terawat adalah karena tidak ditempati alias dibiarkan kosong.

“Lantainya itu dibuat dari adukan tanah dengan kotoran sapi saat pertama keluar, berfungsi menghalau nyamuk. Rumah ini dibangun dengan kayu jenis Suren Ritip untuk tiang rumah dan kayu pohon Nangka untuk tiang lumbung. Selain itu, atap rumah ini terbuat dari bambu dan atap ilalang,” kata Suparlan, yang merupakan keturunan generasi ketujuh dari warga Desa Sembalun Lawang, kepada LombokInsider.

SAMBUTAN. Wisatawan yang Berkunjung ke Desa Adat, Dusun Belek, Disambut dengan Pengalungan Kain Khas Lombok.

Sepintas tampilan dari rumah-rumah yang ada di Dusun Belek, Desa Sembalun Lawang ini mirip dengan rumah-rumah adat di Lombok pada umumnya. “Ruangan di dalam rumah ini dibagi menjadi dua. Satu ruang besar untuk menjamu tamu dan tidur. Yang kedua, ruang Bale Dalem untuk menyimpan barang-barang seperti hasil panen dan barang berharga,” lanjut Suparlan.

Baca juga:  Pemprov NTB Mulai Menata Landscape Islamic Center

Sejarah Rumah Adat

Menurutnya pada zaman dulu, rumah sengaja dibuat agak tinggi karena masih terdapat banyak sekali hewan buas. Selain itu, atap yang memutar membuat hawa dingin tidak bisa masuk ke dalam rumah. Suparlan menambahkan, sesungguhnya terdapat sembilan rumah di desa itu. Namun terjadi perpecahan karena dua pasangan tidak mau tidak mau tinggal di desa itu dan akhirnya tinggal di Desa Sembalun Bumbung.

“Awalnya itu ada dua pasang ngajak tinggal di Bumbung dan yang tujuh ngajak di Lawang. Karena menang tujuh dengan sistem voting dan dua kalah tetapi tidak mau ikut ke Lawang. Dua pasang orang tidak mau tinggal di Lawang. Mereka berkata berani hidup di Bumbung walau hanya dua pasang,” ungkapnya dengan semangat.

DESTINASI. Kadispar NTB (bertopi), saat Berkunjung ke Rumah Adat Sembalun, Sabtu (25/2) lalu.

Butuh perjalanan selama kurang lebih 2-3 jam dari kota Mataram untuk mencapai desa berjarak 91 kilometer dari pusat Kota Lombok. Dusun Belek ini terletak di lembah Gunung Rinjani dan menurut Suparlan merupakan desa yang pertama ada sejak meletusnya gunung itu.

Baca juga:  Gili Gede dan Desa Mekar Sari Jadi Destinasi Super Prioritas

Pembenahan

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) NTB, HL. Moh Faozal yang berkunjung ke Sembalun dalam rangkaian pemberian bantuan pasca bencana banjir di Desa Sembalun Lawang pada (25/2), mengatakan bahwa pihaknya siap membantu melakukan pembenahan ketujuh rumah adat tersebut. Hal ini disampaikan Kadispar kepada Kadus setempat, harapannya tentu dengan dilakukannya pembenahan kualitas destinasi ini akan meningkat, sehingga akan semakin banyak dikunjungi wisatawan, sehingga dapat memberikan pemasukan bagi dusun setempat. (LI/AA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.