Home Destination News Penting, Komitmen CEO untuk Jadikan Pariwisata Leading Sector Daerahnya

Penting, Komitmen CEO untuk Jadikan Pariwisata Leading Sector Daerahnya

106
0
SHARE

Jakarta, LombokInsider.com – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menekankan pentingnya
komitmen pemimpin atau CEO daerah untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai
primadona bagi daerah-daerah di Indonesia.

Sektor pariwisata sudah ditetapkan sebagai sektor unggulan
oleh Presiden RI, yang diyakini mampu menjadi penyumbang devisa terbesar.
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, sejak ditetapkan sebagai leading
sector
, pertumbuhan pariwisata Indonesia
semakin tinggi bahkan mengungguli sejumlah negara tetangga.

“Selama ini pariwisata tidak pernah ditetapkan sebagai leading
sector
, baru sekali ini ditetapkan oleh
Presiden Jokowi. Manfaatnya, setelah ditetapkan, tidak ada yang tidak mendukung
pengembangan sektor pariwisata,” kata Arief Yahya saat menjadi Keynote
Speaker
pada acara Ngobrol @Tempo, di
Gedung Tempo Palmerah, Jakarta, Senin (15/4).

Setelah ditetapkan sebagai leading sector, pembangunan dan target pariwisata masuk dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang kemudian dirumuskan dalam
Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Menurut Arief Yahya, penetapan pariwisata
sebagai leading sector merupakan bentuk _CEO Commitment_ yang bertujuan untuk
menggerakkan perekonomian bangsa.

“Setelah ditetapkan sebagai leading sector, makin mudah mengembangkan pariwisata karena tidak
ada pihak yang tidak akan mendukung, apa yang dibutuhkan langsung dipenuhi,
maka sektor pariwisata kita bisa tumbuh di level double digit,” kata Menpar.

Ia menjelaskan dalam komitmennya untuk memajukan pariwisata,
seorang pemimpin di tingkat apapun atau CEO memiliki sejumlah tugas utama yaitu
menetapkan arah, mengalokasikan sumber daya, dan melakukan eksekusi. Sebagai
CEO dalam sektor pariwisata, lanjutnya, dibutuhkan suatu proses dan komitmen
yang kuat untuk mencapai pertumbuhan di level double digit.

“Dalam lima tahun ini, tantangan terbesar saya adalah
mengubah birokrasi menjadi korporasi. Hal tersebut tidak mudah. Birokrasi
mementingkan cara, sementara saya mementingkan tujuan,” ujarnya.

Tantangan terbesar di Kemenpar adalah birokrasi yang membuat
lambat. Karena itulah untuk mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata,
dibutuhkan transformasi dari birokrasi menuju korporasi melalui teknologi digital
dan dilakukan deregulasi. Ia mencontohkan Vietnam yang saat ini mampu menjadi investor
darling
dan tourist darling sejak menerapkan deregulasi besar-besaran di sektor
pariwisata.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Azwar Anas mengaku
pihaknya sudah mulai meminimalisasi hambatan birokrasi di wilayah dengan
membangun Mall Pelayanan Publik yang dikhususkan untuk layanan perizinan kepada
investor dan masyarakat. Ia juga mengatakan, sektor pariwisata telah menjadi
skala prioritas pembangunan di Banyuwangi.

“Saya sudah menerapkan kebijakan setiap bangunan baru di
Banyuwangi harus bernilai destinasi wisata. PT INKA akan membangun pabrik
kereta api tapi saya minta ada masjid dan museumnya. Akhirnya investor setuju
dan akan dibangun museum kereta api terbesar di Asia dengan desain ala
Banyuwangi,” ungkapnya.

Saat ini Banyuwangi juga telah menjadi salah satu tempat
studi banding daerah lain untuk contoh pengembangan pariwisata. Sepanjang 2018,
ada 47 ribu orang yang melakukan studi banding.

Sektor pariwisata juga telah menjadi skala prioritas bagi
Provinsi Jawa Barat. Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum
mengatakan, untuk menyukseskan pariwisata di Jawa Barat ada beberapa hal yang
dilakukan, di antaranya penataan alun-alun, pembangunan pelabuhan, pusat
bandara dan Bandara Kertajati.

“Sumber dana pembangunan di Jawa Barat berasal dari dana
solidaritas umat, dana swasta, dana koordinasi kota dan kabupaten, dana
provinsi dan dana pusat,” ujar Uu.

Saat ini, lanjutnya, wisata andalan di Jawa Barat antara
lain wisata bahari, wisata pegunungan, dan wisata religi. Namun, beberapa
kendala yang masih dihadapi yakni adanya anggapan sebagian masyarakat bahwa
pariwisata dekat dengan kemaksiatan.

“Kolaborasi dan inovasi menjadi dasar bagi pembangunan Jawa
Barat menjadi daerah pariwisata, kota yang maju dan menyejahterakan rakyatnya,”
kata dia. (LI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.