Mataram, LombokInsider.com – Kedua Communication meliputi: Outreach, ease of communication dan digital presence hal ini mengindikasikan bahwa jaminan kemudahan dalam berkomunikasi, dengan sistem digital dalam mencapai target wisman menjadi 20 Juta pada tahun 2019. Komponen Environment meliputi: safety and culture, visitor arrivals dan enabling climate dengan bertujuan supaya wisatawan nyaman, aman serta bisa langsung disambut dengan hangat pada saat tiba di Bandar Udara Internasional Lombok.

Terakhir adalah komponen Services yang meliputi: Core needs: (Halal food and Prayers),Core services: (Hotel airports and unique experiences) dimana wisatawan muslim mendapatkan dengan mudah apa yang menjadi kebutuhan utamanya seperti makanan halal dan tempat beribadah yang memadai selanjutnya kebutuhan pelayanan yang meliputi penginapan, mendapatkan pelayanan lebih dan pengalaman unik yang berbeda dari biasanya (GMTI, 2018).

Prestasi diatas jika dikorelasikan dengan kondisi dan keberpihakan Pemerintah Daerah, muncul lah pertanyaan sederhana yang megatakan sejauhmana langkah Pemeritah NTB dan Pemkot/Pemkab dalam memproyeksikan kedatangan wisatawan muslim yang akan datang ke Indonesia terutama ke Lombok? Jika melihat perkembangan Wisatawan Muslim Global semakin tahun akan semakin bertambah.

Pada 2019 ini kemenpar RI menargetkan kujungan untuk wisatawan muslim mencapai 5 juta orang sedangkan pergerakan wisatawan muslim dunia mencapai 230 juta hingga 2026 (Anang, 2019). Sedangkan populasi Muslim dunia sampai 2030 adalah 2.2 Milliar atau setara dengan 26.4% sedangkan pada 2050 berjumlah 2.8 Milliar atau setara dengan 30% Populasi Ummat Islam di dunia (IHW, 2016).

Lebih lanjut tentang total pengunjung dan pengeluaran belanja wisatawan muslim (Muslim Expenditure) dari tahun ke tahun terus berkembang dengan signifikan yaitu 98 Juta Pengunjung pada 2010 berjumlah 121 Pengunjung tahun 2016 dan 158 Pengunjung pada tahun 2020 dengan Pengeluaran sekitar 300$ Miliar dolar sampai 2026 (GMTI, 2018).

Dari sekian banyak total kunjungan dan pengeluaran wisatawan muslim yang bergerak diseluruh dunia termasuk Indonesia dan Lombok yang merupakan satu satunya provinsi yang mendeklarasikan dirinya menjadi destinasi halal dunia di Indonesia maka, haruslah selaras dengan kebijakan nasional dan internasional yang didukung oleh ketersediaan ACES menurut IMTI dan 3A dari Kemeterian Pariwisata diatas.

Optimalisasi Pariwisata Halal NTB menurut pandangan penulis belum berjalan maksimal yang dibuktikan dengan belum adanya destinasi khusus untuk para muslim traveler yang berkunjung ke beberapa destinasi di Lombok. Wacana zona destinasi halal memang sudah dilakukan dengan pilihan beberapa destinasi yang ada tapi belum terlaksana dengan maksimal oleh para pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya yang terlibat.

Optimalisasi peran Pemerintah Daerah dalam percepatan pengembangan pariwisata halal sangatlah penting dikarenakan dengan telah adanya 1). Peraturan Daerah (PERDA) tentang Wisata Halal No. 2 Tahun 2016, 2). Pariwisata Halal sebagai pilihan/tambahan, 3). Populasi/Perkembangan Wisatawan Muslim dunia setiap tahun bertambah, 4). Adanya World Halal Travel Award 2015 di Uni Emirat Arab (UEA) dengan penghargaan World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destination sedangkan pada level domestik Lombok didaulat sebagai World’s the Best Friendly Family Hotel pada 2016. 5).

Tuntutan wisatawan terhadap pelayanan lebih yang akan disuguhkan sebagai konsekuensi logis dari Perda Halal, 6). Kewajiban dalam memberikan jaminan kenyamanan dan kesehatan terhadap destinasi dan makanan yang ditawarkan. Selain itu juga peran para pelaku pariwisata dan usaha pariwisata, masyarakat sekitar destinasi dan peran dari ancillary/kelembagaan pariwisata baik pada level pemerintah kabupaten/kota dan desa sangat menentukan keberlangsungan pengembangan pariwisata haalal tersebut diatas.

Adapun tawaran solusi penulis dalam optimalisasi pengembangan pariwisata berkelanjutan di NTB adalah Sbb:

  • Menentukan kepastian zona strategis kawasan pusat pengembangan
  • pariwisata halal berkelanjutan (Gili Meno, Pantai tanjung aan, Sembalun dll)
  • Memberikan perhatian lebih sebagai alternatif pilihan bagi wisatawan muslim maupun nonmuslim.
  • Membentuk tim percepatan khusus pengembangunan pariwisata halal.
  • Menyusun panduan teknis pengeloaan dan pengembangan pariwisata halal.
  • Memperbanyak promosi dikawasan negara arab dan atau timur tengah
  • Koordinasi intens terhadap para GM/Owner Hotel di Lombok terhadap pengebangan pariwisata halal.
  • Pelatihan khusus terhadap pengelola pariwsata, guide, travel agency dan memaksimalkan pembetukan paket wisata yang terintegrasi dengan budaya  lokal sekitar destinasi yang ramah lingkungan.
  • Labeling/Branding identitas Best Halal Tourism di tempat umum, seperti bandara, pelabuhan dan destinasi khusus. (LI)

Penulis: Ainul Yakin, M.Pd, Staff Pengajar Poltekpar Lombok

Tags:
About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com