Home Bima/Dompu Lestarikan Tenun Lokal, Festival Lawata 2019 Dapat Dukungan Kemenpar RI

Lestarikan Tenun Lokal, Festival Lawata 2019 Dapat Dukungan Kemenpar RI

115
0
SHARE

Bima, LombokInsider.com
– Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendukung Kota Bima untuk melestarikan kain
tenun lokal melalui Festival Lawata bertepatan dengan HUT ke-17 Kota Bima. Keindahan
wastra atau kain tradisional daerah yang ada di Indonesia, menjadi daya tarik
tersendiri bagi wisatawan. Tak jarang setiap daerah juga memiliki berbagai cara
agar kain tradisional mereka semakin lestari bahkan terkenal hingga penjuru
dunia.

Untuk melestarikan hal itu, Kota Bima di Nusa Tenggara Barat
(NTB) menggelar Festival Lawata pada 6-8 April 2019 di ODTW Pantai Lawata Kota
Bima, NTB.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani di Bima, Sabtu (6/4) menjelaskan, pihaknya mendukung penyelenggaraan Festival Lawata sebagai salah satu cara mengangkat dan melestarikan tenun lokal agar bisa bersaing dengan produk tradisional lain yang sudah terlebih dahulu populer.

“Kami mendukung daerah untuk melestarikan dan mempromosikan
tenun lokal. Dengan melibatkan desainer ternama Samuel Wattimena untuk
memberikan sentuhan idenya agar tenun Bima bisa terpromosikan dengan baik,”
katanya.

Festival Lawata di dalamnya dirangkai acara fashion show
oleh tim modeling dari Jakarta dan Kota Bima untuk menampilkan bahan tenun asli
Indonesia dengan tema “Bima Go Nusantara”.

“Selain orang-orang terpilih untuk menjadi model dari Kota
Bima, ada 2 model dari Jakarta yang juga hadir. Ini bagus, untuk memperkenalkan
kain-kain khas Bima,” ujar Ricky.

Sementara itu, Kabid Pemasaran Area II Regional III di
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, Hendry Noviardi menambahkan,
kehadiran timnya adalah dalam rangka ikut berpartisipasi dan merupakan salah
satu bentuk komitmen pemerintah pusat untuk mendukung kain tenun Bima agar
semakin dikenal.

“Ini salah satu bentuk komitmen pemerintah pusat untuk
melestarikan serta mempromosikan kain tenun Bima. Kami berharap agar
desainer-desainer muda juga turut serta memajukan kain daerah. Kedua, supaya
kain daerah tersebut mendapatkan sentuhan inovasi dan kreasi baru,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Samuel Wattimena berharap agar
melalui acara ini ia bisa menginspirasi para desainer muda untuk menunjukkan
potensi mereka dalam “memanjangkan” atau melestarikan umur kain tenun
yang sudah menjadi warisan budaya. Bukan hanya di Bima, melainkan juga di
berbagai daerah lain.

“Saat ini selera pasar, cara pemasaran, dan market yang
berkembang pesat pada era desainer sekarang, jauh berbeda dibanding era
desainer sebelumnya,” pungkasnya. (LI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.