Home Destination News Destinasi Wisata di NTB, Meraup Rupiah Menuai Sampah

Destinasi Wisata di NTB, Meraup Rupiah Menuai Sampah

18
0
SHARE

Mataram, LombokInsider.com – Bicara tentang sampah memang tidak ada akhirnya, permasalahan sampah merupakan masalah global dan pariwisata
adalah sektor yang tidak bisa lepas dari sampah. Hampir dapat dipastikan setiap
kegiatan manusia meninggalkan sampah. Kini sampah bukan saja menjadi masalah
sosial namun global, demikian juga dengan destinasi-destinasi wisata yang ada
di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Seperti kita ketahui bersama, setiap destinasi wisata yang
indah dan banyak dikunjungi wisatawan pasti menghasilkan rupiah, baik dari
retribusi parkir, tiket masuk, oleh-oleh, pedagang asongan, makanan dan lain
sebagainya. Sejalan dengan itu, hasil dari kegiatan tersebut justru menuai
sampah untuk destinasi itu sendiri.

Gunung Rinjani menjadi sorotan dan contoh nyata, dimana destinasi wisata itu dapat meraup rupiah yang besar, sekaligus menuai sampah. Demikian juga dengan Gili Trawangan dan beberapa pantai di hampir seluruh wilayah NTB.

Rendahnya kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan,
khususnya di area destinasi menjadi salah satu permasalahan. Pengelolaan sampah
di destinasi misalnya, memerlukan cara dan penanganan khusus.

Kepedulian terhadap sampah inilah
yang mendorong Genpi Lombok Sumbawa, Ikom UNRAM dan KPID NTB berkolaborasi
mengadakan acara dialog terbuka tentang Destinasi Wisata, Meraup Rupiah Menuai
Sampah, pada Jum’at (20/9) lalu di Breeze Coffee, Mataram. Ini merupakan Dialog Lombok edisi ke 4 dengan
tema yang berbeda-beda.

Dialog Lombok menghadirkan Kadis LHK Prov NTB Madani
Mukarom, Gendewa Tunas Rancak, Dekan Teknik Lingkungan UNU NTB dan Pasek
Arianta Lombok Care Community.

“Sampah dapat bernilai eknomis jika dikelola dengan baik dan
benar, bank sampah UNU NTB misalnya. 
Mahasiswa sudah dapat membayar uang kuliah dengan sampah yang disetor
dan diakumulasikan selama 1 semester. Jadi kita setor sampah lalu dihitung
berdasarkan aplikasi dan muncul saldonya untuk bayar kuliah,” jelas Gendewa.

Sementara, Pasek Arianta yang merupakan salah seorang
pramuwisata yang tergabung dalam HPI NTB menyatakan bahwa kepedulian terhadap
lingkungan khususnya destinasi wisata menjadi sebuah keharusan.

“Sebagai guide tentu akan sangat malu jika destinasi kita
kotor dan siapapun kita dapat memulai dengan peduli terhadap kebersihan
lingkungannya,” kata Pasek, yang bersama komunitasnya Lombok Care Comunnity
telah beberapa kali melakukan kegiatan aksi bersih sampah di destinasi wisata.

Hal yang sama dipaparkan oleh Kadis LHK Prov NTB Madani
Mukarom, tentang program zero waste pemprov NTB. Bagaimana perencanaan dan apa
saja yang telah dilakukan.

“Sampah bisa menjadi industri dengan nilai tinggi dan memang
harus ada solusi serta sosialisasi tentang pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Hal ini sejalan dengan program Zero Waste dari Pemprov NTB,” kata Madani.

Menurutnya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB
bank sampah yang dibentuk di tiap-tiap desa tahun ini belum bergerak. Tahun
ini, Dinas LHK baru memberikan pelatihan kepada 74 bank sampah yang telah
dibentuk di kabupaten/kota.

Madani menjelaskan, sudah ada Memorandum of Understanding
(MoU) antara Gubernur NTB dan Bupati/Walikota se-NTB soal pembentukan bank
sampah di desa dan kelurahan. Ia mengatakan, dampak program zero waste memang
belum terlihat signifikan. Karena program ini baru berjalan enam bulan.

Mahasiswa yang hadir mengharapkan program ini dapat
terintegrasi antara dinas dan akademisi untuk melibatkan kampus dalam masalah
sampah.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 75 orang,
menjadi sarana diskusi yang seru serta dialog lintas kampus dan lintas
stakeholder. Berbagai pemerhati lingkungan hadir dan memberikan masukan serta
kritik demi kemajuan daerah khususnya dalam kebersihan destinasi wisata. (LI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.