Batu Gajah di padang pasir Arab Saudi.

LombokInsider.com – Ini kabar baik bagi warga Nusa Tenggara Barat dan warga Muslim di seluruh dunia yang suka jalan-jalan ke Arab Saudi. Bila selama ini hanya bisa mengunjungi Arab Saudi untuk keperluan haji, umrah dan bekerja saja, maka dalam beberapa tahun ke depan, Kerajaan Arab Saudi akan membuka diri untuk kunjungan wisatawan dengan menerbitkan visa bagi puluhan ribu turis setiap tahun secara selektif sebagai bagian dari reformasi nasional untuk ‘memamerkan’ kekayaan warisan budaya termasuk situs-situs sejarah pra-Islam.

Demikian diungkapkan oleh Pangeran Sultan bin Salman, kepala Komisi Nasional Pariwisata dan Kebudayaan Nasional kepada kantor berita Associated Press sebagaimana diwartakan oleh Al Arabiya pada 27 April 2016 lalu. Pernyataan ini disampaikan hanya sehari setelah pemerintah Arab Saudi meluncurkan Visi 2030 yang berencana meninggalkan ketergantungan pada minyak.

MEMBUKA DIRI. Pangeran Sultan bin Salman, kepala komisi pariwisata dan kebudayaan Arab Saudi.

MEMBUKA DIRI. Pangeran Sultan bin Salman, kepala komisi pariwisata dan kebudayaan Arab Saudi.

Prince Sultan bin Salman, mengatakan bahwa meskipun kerajaan akan membuka diri untuk pariwisata, namun kerajaan tidak akan terbuka secara keseluruhan bagi siapa saja yang muncul dan datang.

“Kerajaan terbuka bagi orang yang melakukan bisnis, bagi orang yang bekerja di Arab Saudi, berinvestasi di Arab Saudi, dan orang yang berkunjung untuk tujuan-tujuan khusus. Dan sekarang akan terbuka untuk pariwisata lagi secara selektif,” katanya.

Arab Saudi yang merupakan negara yang konservatif religius tidak mengeluarkan visa turis, meskipun pernah mencoba antara 2006 dan 2010 untuk menerima 25.000 wisatawan setiap tahun untuk situs-situs arkeologi Arab Saudi dan landskap gunung, pantai, lembah, gunung berapi dan padang pasir.

Belum ditetapkan kapan visa turis akan dikeluarkan lagi.

Meskipun Arab Saudi tampaknya bukanlah destinasi untuk liburan, negara ini memiliki daerah-daerah di mana masyarakat Kristen dan Yahudi pernah berkembang, benteng-benteng bersejarah, pantai Laut Merah yang menawan dan budaya yang kaya yang terbentuk dari rute perdagangan dan ziarah di masa lalu.

Pangeran Sultan memiliki visi untuk menjadikan kerajaan yang menarik banyak wisatawan dengan pengeluaran besar dari negera-negara Teluk. Para pelancong dari Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Oman diperkirakan akan membelanjakan $216 miliar dalam wisata dunia sampai 2030, menurut kajian perusahaan teknologi perjalanan Amadeus pada 2014. Studi ini mendapati para pelancong dari negeri-negeri ini secara rerata membelanjakan sekitar $9.900 per perjalanan di luar negara-negara Teluk.

Promosi wisata dalam negeri di kalangan warga Arab Saudi juga digalakkan untuk menangkap uang wisatawan tersebut dan juga untuk menempa identitas nasional yang lebih kuat di kalangan anak muda, yang ratusan ribu jumlahnya kuliah di luar negeri dengan beasiswa dan pengguna aktif media sosial dan internet.

“Merasakan aroma dan mendengar suara negeri mereka dan merasakan negeri yang multikultural ini merupakan sesuatu yang penting bagi negeri manapun yang ingin memandang masa depan dengan penuh percaya diri,” kata Pangeran Sultan.

“Banyak orang yang saat ini mungkin memandang negeri mereka semata hanya sebagai sebuah mesin ATM, yang sangat sangat menyedihkan,” katanya, terutama saat negara menghadapi tantangan domestik dan regional. Dia mengatakan kurangnya pemahaman mengenai bagaima suku-suku yang terpisah di Jazirah Arabia bisa bersatu di bawah kepemimpinan kakeknya, almarhum Raja Abdulazis, merupakan tantangan terbesar karena negeri ini membutuhkan warga Saudi yang memahami secara penuh sejarah negerinya.”

Visi 20130 yang telah disetujui oleh Kabinet Saudi merupakan rencana cetak biru nasional untuk menyiapkan negeri ini menghadapi era harga minyak yang rendah, yang telah menggerus kemampuan negeara untuk membiayai subsidi, gaji dan proyek infrastruktur.

Saat ini, 70 persen warga Saudi bekerja untuk pemerintah. Lebih dari setengah penduduk Saudi di bawah usia 25 tahun, dan jumlahnya jutaan, akan segera mencari kerja dan mencari perumahan yang terjangkau.

Pangeran Sultan mengatakan pariwisata merupakan salah satu industri yang menjanjikan untuk menciptakan pekerjaan yang nyata, bermakna dan jangka panjang yang disukai warga Saudi.

Angka komisi pariwisata menunjukkan bahwa sekitar 245.000 warga Saudi bekerja di sektor pariwisata. Target untuk meningkatkan jumlahnya menjadi 325.000 pada 2020 dan investasi pariwisata meningkat sebanyak $8 miliar untuk mencapai $46 miliar.

Pangeran Sultan mengatakan Arab Saudi bisa menerapkan banyak reformasi dalam peta jalan ini bila harga minyak di atas $100 per barel dan keungan negara mengalami surplus. Ia mengatakan banyak ide yang telah dibahas selama bertahun-tahun untuk mengembangkan situs-situs wisata Arab Saudi dan membangun museum-museum untuk menarik investor dan wisatawan.

Meskipun sekitar 11 juta Muslim dari seluruh dunia berkunjung ke Arab Saudi setiap tahun untuk melakukan ibadah Haji dan Umrah di kota suci Makkah dan Madinah, infrastruktur untuk pariwisata di luar kedua kota ini masih terbatas.

Pangeran Sultan mengatakan bahwa mengizinka jemaah haji dan umrah untuk tinggal sebagai wisatawan dan menciptakan industri untu mendukung hal tersebut akan menunjukkan kepada para wisatawan bahwa Arab Saudi tengah bergerak maju.

“Hal penting bagi kami adalah bagaimana orang bisa datang dan mendapati negeri ini stabil dan aman,” katanya. (LI/KM)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono