Mataram, LombokInsider.com – Sejak terpilih sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia pada 2015 lalu, saat ini wisata halal telah menancap dalam, sebagai jati diri Pulau Lombok. Oleh karenanya, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Pariwisata NTB menggelar kegiatan bedah buku “Muslim Traveller Solution” di Ballroom Masjid Hubbul Wathan, Kompleks Islamic Center NTB pada Rabu (7/6). Bedah buku merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pesona Khazanah Ramadhan selama bulan suci ini.

“Saat ini dunia sudah melihat industri muslim traveller menjadi satu industri yang sangat potensial. Kita terus berusaha agar negara yang kita kunjungi sediakan makanan halal dan menyediakan tempat ibadah,” kata Priyadi Abadi sang penulis buku “Muslim Traveller Solution”.

Menurut Priyadi, para pelaku industri pariwisata di Eropa sudah menyadari akan potensi besar muslim traveller. Bahkan, proyeksi nilai wisata halal pada 2020 bisa menyentuh 2,6 triliun dolar AS.

Dalam bukunya ini, Priyadi memberi contoh negara-negara Eropa Barat yang sering jadi destinasi wisata para pelancong muslim, tapi punya tantangan sendiri soal makanan halal dan fasilitas sholat. Selain itu, dia juga mencoba mengedukasi restoran dan hotel agar bisa memfasilitasi kebutuhan wisatawan Muslim.

ILMU. Ratusan Orang Menghadiri Acara Bedah Buku, Bagian dari Pesona Khazanah Ramadhan.

Priyadi melanjutkan, bagi seorang Muslim, kemanapun dia melangkah, tidak bisa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim untuk beribadah. Priyadi mengatakan, buku ini memberi gambaran bagi umat Islam jika ingin melancong ke sebuah tempat yang penduduknya mayoritas non muslim. Pasalnya, umat Islam sangat memperhatikan aspek kehalalan makanan dan minuman saat berkunjung ke sebuah tempat.

“Saya mencoba mengulas bagaimana muslim traveller bepergian atau bertadabur alam tapi tidak meninggalkan kewajiban kita sebagai seorang muslim,” lanjut Priyadi.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Ketua Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) ini menilai, banyak dari biro perjalanan wisata dalam negeri yang belum mampu mengakomodir kebutuhan para muslim traveller untuk melancong ke suatu tempat. Banyak para pelaku industri pariwisata belum memfasilitasi kebutuhan wisatawan Muslim. Oleh karenanya pihaknya di IITCF bersama dengan donatur lainnya telah melaksanakan program “Menebar Perangkat Sholat Se-dunia”.

“Para travel muslim yang hanya fokus pada urusan umrah dan haji. Tapi bagaimana kalau mau jalan jalan ke AS atau Australia bingung karena tidak diakomodir. Akhirnya pakai travel umum, tidak ada waktu shalat, makanan juga tidak tahu halal atau tidak,” ungkapnya.

Priyadi menilai Indonesia harus terus memantapkan diri dalam mengakomodir para wisatawan muslim yang berkunjung. Yang paling utama tentu adanya sertifikasi halal. Wisatawan muslim mancanegara sangat berpegang teguh pada sertifikat halal yang dikeluarkan otoritas setempat.

“Sertifikasi dan standardisasi sudah jadi acuan global. Kalau restoran mengaku halal, harus mencantumkan sertifikat halal. Sebab ini tuntutan dasar,” kata Priyadi menambahkan.

Pemerintah Indonesia sendiri sedang menggiatkan wisata halal nasional. Dalam Global Travel Muslim Index (GMTI) 2017 Indonesia berada di urutan ke tiga. (LI/SP/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com