Mataram, LombokInsider.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pastikan akan segera membangun gedung Kampus Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Negeri Lombok, di Desa Puyung, Praya-Lombok Tengah (Loteng). Ini ditegaskan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) NTB, HL. Moh. Faozal pada acara Rapat Koordinasi Persiapan Pembangunan Poltekpar Negeri Lombok di Hotel Lombok Raya, Jum’at (4/8).

Pembangunan Kampus Poltekpar

“Ini merupakan berkah bagi NTB, sebagai salah satu daerah yang menjadi prioritas dari Kemenpar RI untuk membangun Poltekpar,” jelas Faozal memberikan laporan.

“Total keseluruhan pembangunan kampus akan memakan biaya sekitar 1,5 Triliun. Namun untuk tahap awal ini Kemenpar akan memberikan bantuan dana sebesar Rp130 Miliar sesuai APBN 2017, dengan lama pembangunan 143 hingga akhir Desember 2017. Kemudian secara bertahap setiap tahunnya akan diberikan bantuan untuk menyelesaikan pembangunan Poltekpar secara keseluruhan,” lanjut Kadispar NTB ini.

“Tentunya ini merupakan suatu kebanggaan bagi kita warga NTB, dimana Kemenpar menunjuk daerah kita untuk membangun sebuah Poltekpar, hampir setiap daerah menginginkannya,” kata Faozal. Menurutnya memang masih ada masalah sengketa, namun pemerintah telah melakukan upaya hukum untuk menyelesaikannya.

Senada dengan Faozal, Deputi Pengembangan Kelembagaan dan SDM Kemenpar RI, Prof. Dr. H. Ahman, M.Pd, menegaskan bahwa pihaknya telah memastikan bahwa segala sesuatunya telah beres sebelum diputuskan untuk melakukan pembangunan.

“Kami sudah pastikan dengan pihak Pemprov bahwa semuanya sudah clean and clear, sehingga proses pembangunan Poltekpar dapat segera dilakukan,” ucapnya.

Ahman Sya juga menjelaskan bahwa apa yang menjadi keputusan untuk segera melakukan pembangunan ini telah melalui proses yang begitu panjang dan berliku, sehingga dia berharap seluruh pihak akan mendukung pembangunan Poltekpar Negeri Lombok ini.

Perkembangan Pariwisata Lombok

“Dengan semakin berkembangnya pariwisata di NTB, Kemenpar melihat potensi yang sangat besar, sehingga Lombok khususnya dipilih menjadi 10 destinasi prioritas,yakni daerah KEK Mandalika di Kuta, Loteng,” katanya. Ia menambahkan, Lombok saat ini memang sudah sangat terkenal, karena memiliki keindahan alam, gunung, pantai, seni-budaya dan ini sangat diminati oleh wisatawan baik wisatawan nusantara (wisnus) dan mancanegara.

Ahman mengatakan bahwa dengan dibangunnya Poltekpar Negeri Lombok ini dipastikan akan memberikan multi efek yang positif, khususnya bagi perkembangan dan kemajuan pariwisata Lombok-Sumbawa, serta perekonomian daerah. “Masyarakat semestinya bangga dan mendukung, bukannya malah menolak,” tegas Ahman Sya.

Menurutnya saat ini pariwisata telah menduduki peringkat kedua, penyumbang devisa terbesar untuk negara setelah kelapa sawit, kemudian disusul oleh minyak bumi dan gas serta batubara, di peringkat tiga dan empat.

Ahman menambahkan bahwa peletakan batu pertama proses pembangunan rencananya akan dilakukan pada 10 Agustus mendatang, pemenang tender akan melaksanakan pembangunan tahap awal ini selama kurang lebih 143 hari, berdasarkan bunyi kontraknya. “Ini baru tahap awal, karena jika ditotal keseluruhan biaya pembangunan komplek gedung Poltekpar ini akan memakan biaya hingga Rp1,5 Truliun,” ungkapnya.

Dukungan Masyarakat Puyung

DUKUNG. Seluruh Komponen Masyarakat Puyung, Loteng, Mendukung Pembangunan Kampus Poltekpar, Jum’at (4/8).

Hadir pada acara tersebut pemangku kepentingan terkait dan seluruh stakeholder pariwisata di NTB, juga komponen atau unsur masyarakat Desa Puyung, yang seluruhnya siap mendukung pembangunan Poltekpar Negeri Lombok ini.

Ini ditegaskan oleh pernyataan Kadesnya, Lalu Edith Rahardian Wirasari. “99% masyarakat Puyung mendukung pembangunan Poltekpar ini, hari ini saya membawa 16 orang Kepala Dusun yang membawa aspirasi dukungan dari masyarakatnya,” tegas Kades yang terpilih pada 2015 ini.

Terkait masalah klaim tanah, Edith juga menghargai aspirasi beberapa orang warganya yang mengklaim tanah tersebut milik mereka, namun menurutnya gunakan jalur hukum yang baik dan benar, agar tidak terjadi pelanggaran, apalagi menentang Pemprov. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com