Mataram, LombokInsider.com – Sudah menjadi tradisi bagi Golden Palace Hotel Lombok (GPHL) dimana setiap bulan suci Ramadhan hadir, mereka selalu berbagi dengan sesama, terutama anak-anak yatim piatu disekitar hotel. Ramadhan tahun ini merupakan yang keempat kalinya mereka mengundang ratusan anak yatim, kali ini dari Yayasan As-Syuhada, Gebang dan Yayasan Al-Adiyaat Ponpes Athorpiyah, Kr. Tapen.

Ir. Teddy Sanyoto, MT. MBA yang merupakan Direktur Utama GPHL pada Jum’at (10/5), menjelaskan bahwa sejak berdiri dan beroperasi di Mataram, acara semacam ini sudah sering dilakukan.

“Ini kali keempat kami mengadakan acara buka puasa bersama, setiap tahunnya, ini merupakan tradisi kami GPHL. Kehadiran kami di lokasi ini harus dapat memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar, hal semacam ini salah satunya,” kata Teddy dalam sambutannya.

Teddy menambahkan bahwa GPHL ingin selalu berbagi, meski tahun lalu saat diterjang gempa hotel ini mengalami kerusakan cukup parah dan menghasbiskan biaya cukup besar.

“Meski tahun lalu dan awal tahun ini cukup sulit, namun kita tetap melaksanakan tradisi buka bersama. Semoga dengan doa kita bersama GPHL dan pariwisata NTB dapat bangkit seperti semula dan kita semua dapat beraktivitas dengan tenang, tanpa takut gempa lagi,” jelasnya.

Menyinggung recovery pariwisata NTB pasca gempa, Teddy berharap bahwa perpanjangan runway di Lombok International Airport (LIA) segera terlaksana.

“Semoga apa yang dijanjikan pemerintah pusat melalui Presiden RI segera ditindaklanjuti. Sehingga pariwisata kita di NTB segera bangkit dengan diperpanjangnya runway sepanjang 500 meter lagi, saya yakin pariwisata NTB akan semakin maju. Karena pesawat berbadan lebar bisa direct flight ke Lombok,” tegasnya.

Harga tiket mahal dan bagasi berbayar juga menjadi konsen Teddy dan juga Ernanda A. Dewobroto, CHA selaku manajemen dan pelaku pariwisata NTB.

“Tiket mahal jelas sangat berpengaruh terhadap pariwisata, kunjungan wisatawaan ke Lombok dan tamu yang menginap di hotel turun drastis, pasca gempa kemudian ditambah mahalnya harga tiket dan bagasi berbayar,” kata Ernanda, GM GPHL.

Menurut mereka, pariwisata adalah sebuah image, jadi harus jaga image NTB, dikelolanya isu bencana yang ada sehingga tidak memberikan efek negatif, namun justru sebaliknya, dapat memberikan dampak positif bagi pariwisata NTB.

Sementara, Ust. Lalu Mukri dan H. Muh. Said yang memberikan tausiah dan doa mengucapkan puji syukur kepada Allah Subhanahuwata’ala sehingga bisa kembali hadir di GPHL.

“Berkat hidayah dan petunjuk Allah, kami berdoa semoga GPHL makin jaya dan is the best, semoga tamunya lebih ramai lagi dan lebih dikenal lagi oleh para tamu baik dalam dan luar negeri,” ucap mereka sembari mendoakan pihak hotel. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com