Mataram, LombokInsider.com – Gubernur NTB Dr. TGH.M.Zainul Majdi, mengucapkan terima kasih dan rasa syukur atas dipenuhinya undangannya kepada Tokoh Agama (Toma) dan Masyarakat (Toma), serta para pemimpin di komunitasnya masing-masing, yang berfungsi sebagai katup pengaman atau pagar untuk memastikan agar semua dinamika yang terjadi di daerah NTB dapat diarahkan bersama-sama untuk menjadi sesuatu yang menghadirkan kemaslahatan bukan sebaliknya, demikian dikatakan Gubernur saat membuka acara “Silaturahmi bersama anggota FKPD, Tokoh Agama dan Masyarakat, Tokoh Pemuda, Pimpinan Pondok Pesantren, Ketua Ormas, Tokoh Wanita dan Tokoh Pimpinan Lintas Agama”.

Menurut Gubernur, acara yang berlangsung Senin malam (14/11) di Pendopo Gubernur ini merupakan silaturrahim antara pemimpin daerah dan masyarakatnya. “Walau kita jarang bertemu namun ada kedekatan dalam hati, komitmen yang sama untuk NTB. Saya harap komunikasi ini bisa tersempurnakan dengan silaturrahim seperti malam ini, sebagai satu kesatuan kita dalam negara ini diikat oleh sebuah konsep yang abstrak, yang sifatnya konsep dalam pikiran kita. Konsep tersebut adalah Pancasila, UUD 45 serta falsafah dan nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika,” tegas Gubernur mengawali pidatonya.

Gubernur Bersilaturrahim Bersama Toga, Toma dan Tokoh Pemuda dan Komunitas di NTB, Membahas Keamanan NTB dan Isu Nasional.

Gubernur Bersilaturrahim Bersama Toga, Toma dan Tokoh Pemuda dan Komunitas serta Tokoh Lintas Agama di NTB, Membahas Keamanan NTB dan Isu Nasional di Pendopo Gubernnur, Senin malam (14/11).

“Penghargaan yang tulus juga saya sampaikan atas upaya bapak dan ibu sekalian yang sering berjuang bagi daerah, namun luput dari apresiasi pemerintah. Sesungguhnya keberhasilan daerah kita merupakan buah dari kerja yang panjang dan kolektifitas yang utuh dari semua elemen masyarakat,” lanjutnya. Gubernur mengatakan bahwa tidak hanya jajaran pemerintah daerah, legislatif dan eksekutif maupun lembaga negara seperti TNI Polri dan Kementerian, tetapi para undangan yang hadir telah bekerja dilingkungannya masing-masing dengan ranah kultural yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

“Keberhasilan, kemanan dan sejahteranya masyaraat di daerah ini adalah buah dari karya dan khidmat bapak ibu sekalian. Untuk itu saya ucapkan terima kasih setulusnya atas apa yang telah diberikan untuk daerah, dan saya harap kita tetap punya semangat untuk terus memberi yang terbaik bagi daerah yang kita cintai,” jelas Gubernur. Gubernur menambahkan, walaupun dengan bahasa yang berbeda, setiap agama pasti memiliki pemahaman dan konsep yang sama bahwa republik ini adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa, yang wajib dijaga, pelihara dan rawat sepenuh hati dengan sungguh-sungguh.

Gubernur mengatakan bahwa, untuk menjaga amanah ini butuh sinergi dan kekompakan. Artinya ada keterpaduan untuk menjaga negara kesatuan RI. Hal ini disampaikan sebagai latar belakang dari dua hal yakni saat ini kita tahu suasana kebatinan masyarakat Indonesia khususnya umat islam, tensinya sedang naik. Dimana ada peristiwa yang membuat umat islam sangat terusik, atas ucapan penistaan agama yang dilakukan oleh seorang pejabat publik.

Karena peristiwa tersebut sudah menyangkut Allah SWT, Rasul dan Al-Qur’an, jelas sudah beda sekali. “Ini merupakan tugas kita semua tentunya, jika internal Islam saya mengajak Pimpinan Pondok Pesantren, Toma dan para Pimpinan Ormas Islam, untuk bersama-sama mengobati luka ini, dengan selalu mengingatkan umat kita bahwa semarah marahnya, akal sehat tidak boleh hilang,” tambahnya. Gubernur mengingatkan bahwa ini merupakan ujian kedewasaan bagi umat islam, yakni bagaimana bisa mengelola emosi dan meningkatkan derajat kemanusiaannya dengan menahan diri dan memaafkan. Yang jelas segala sesuatu harus diselesaikan dengan proses hukum dan harus memenuhi asas yang berkeadilan.

Sedangkan untuk saudara-saudara diluar Islam Gubernur menghimbau agar situasi ini dipahami dan satu sama lain saling mengingatkan, serta menahan kemarahan. “Siapapun itu, kepada agama apapun terhadap kitab suci apapun. Umat islam juga tidak boleh menistakan, menyinggung kitab suci agama lain. Tidak boleh mengganggu, menyakiti umat lain. Mayoritas itu adalah mengayomi, tidak menghegemoni. Seperti itulah contoh yang diberikan Rasulullah SAW, ini bukan hanya sekedar teori atau himbauan kosong, namun demikian faktanya,” himbau Gubernur.

Gubernur Juga Turut Menandatangani Kesepakatan Bersama Tentang Keamanan di NTB.

Gubernur Juga Turut Menandatangani Kesepakatan Bersama Tentang Keamanan di NTB.

“Jangan sampai nila setitik merusak susu yang sebelanga, proses hukum juga sedang berjalan diharapkan segera terselesaikan. Satu sama lain mari saling menghormati, tidak boleh juga melebarkan satu masalah menjadi masalah yang justru berpotensi membawa kemudaratan bagi negara kita,” kata Gubernur. Gubernur menjelaskan bahwa jika judulnya penghinaan Al-Qur’an maka tidak boleh kemudian melebar menjatuhkan pemerintah, jangan sampai semangat pembelaan itu dibelokkan kearah tujuan politik.

“Saya yakin kita semua punya pemahaman dan keinginan yang sama, bahwa satu masalah jangan kita sikapi dengan cara yang membuat buat masalah itu melebar. Kita punya hati nurani untuk mengawasi proses hukum, pihak yang berwenang pasti akan amanah menyelesaikan masalah ini. Jangan ada wacana di daerah kita, seakan bahwa isu bela alquran ini jadi batu loncatan untuk menjatuhkan pemerintah, kalau itu sampai terjadi adalah tugas kita untuk memastikan jangan terjadi, ini penting supaya kita jangan salah arah.

Gubernur juga menegaskan, NTB melawan segala bentuk terorisme termasuk kejadian terakhir di Samarinda, yang menyebabkan meninggalnya orang anak kecil berumur 2,5 tahun. Itu salah satu contoh yang merusak dalam kehidupan bangsa kita, tidak boleh ditolerir oleh siapapun. Seluruh umat beragama serta masyarakat menentang dan mengutuk hal seperti itu, Insya Allah dapat dijauhkan hal seperti itu di NTB. Semua agama, budaya dan nilai kearifan yang ada dalam diri kita, mengajarkan untuk menghormati pemimpin.

“Saya minta kepada semua yang hadir, jangan ikut-ikutan mencela pemimpin, di NTB ini kita letakkan sesuatu dengan baik pada tempatnya jangan terprovokasi. Hormati kehormatan pemimpin karena kita tahu betul banyak sekali serangan terhadap marwah bangsa atau kehancuran suatu bangsa selalu dimulai dengan menyerang pemimpinnya,” pungkas Gubernur termuda ini. (LI/SP/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com