Mataram, LombokInsider.com – Menjadi salah satu biro perjalanan terbesar dan pertama di Pulau Lombok, Bidy Tour & Travel telah meluluskan ratusan karyawan yang pernah dan masih bekerja hingga sekarang. Seluruh alumni lintas generasi ini bertemu kembali, setelah kurang lebih 32 tahun berpisah 1986-2018, di kantor Bidy Tour & Travel, Mataram-Lombok, pada Rabu malam (4/7).

Menurut Khotib, sebagai pembawa acara sekaligus ketua panitia reuni, meski dadakan acara reuni ini dapat berlangsung dengan meriah, semarak dan hikmat. Banyak dari para alumni ini yang bahkan telah menjadi kakek dan nenek, bahkan ada juga yang sudah meninggal dunia.

Kekompakan

“Ini semua berkat kerjasama seluruh pihak, baik teman-teman yang masih tinggal di Lombok maupun yang diluar daerah,” ujar Khotib yang pernah terpilih sebagai karyawan teladan nasional, saat masih bekerja di Bidy Tour.

Sementara pemilik Bidyd Tour, mengakui bahwa tanpa karyawannya, Bidy Tour tidak ada artinya. “Semua berkat bantuan dan jasa-jasa dari karyawan semua, baik dari tim guide maupun tiketing dan yang lain, masing-masing memiliki peran penting dalam membangun dan membesarkan Bidy Tour,” kata Bing Ha Midy.

“Tanpa kalian Bidy tidak ada artinya, kami mengucapkan banyak terima kasih dan merasa bangga bahwa beberapa dari mantan karyawan Bidy Tour sudah banyak yang sukses, semoga kedepannya kalian semakin sukses,” harapnya.

Memang pada pertemuan ratusan alumni Bidy Tour yang berlangsung Rabu malam (4/7). Beberapa dari mantan karyawannya memberikan testimoni, baik terkait pengalamannya bekerja di Bidy maupun kiat suksesnya hingga saat ini.

Diantara mereka bahkan ada yang sudah menjadi pengacara, dosen, camat, importir, pengusaha gerabah, pengusahan laundry dan lain-lain. Hal inilah yang membuat Bing Ha Midy sebagai pendiri Bidy merasa bangga dengan kesuksesan anak-anak didiknya.

Testimoni Alumni

Agus Winarko misalnya, mengaku memiliki banyak pengalaman berharga selama bekerja di Bidy. “Sangat banyak pengalaman unik dan berharga yang saya dapatkan disini. Bidy merupakan sekolah yang komplit bagi saya,” kata Agus. Dia juga menceritakan suka-duka usahanya selepas dari Bidy pada 2000 silam. Saat ini Agus mengaku telah menjadi seorang pengusaha offshore dan onshore sejak 2014 lalu.

Demikian juga dengan alumni Bidy yang lain, seorang pengacara kondang di Lombok, DR. Ainuddin, SH, MH, mengisahkan bahwa semasa kuliah, biayanya banyak dibantu oleh Bing Ha Midy.

“Pak Bing ini sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri, bagaimana tidak, semasa kuliah sering dibantu biaya oleh beliau. Pohon Mangga diluar itu menjadi saksinya, hanya satu yang dipesankan oleh beliau yakni, “Dendek badaang nyonyah” (jangan kasi tau nyonyah, red),” ujar Ainuddin menirukan, disambut gelak tawa para alumni lainnya.

Ainuddin juga menceritakan latar belakang mengapa dia lebih memilih bidang hukum saat kuliah, bukan memilih bidang yang sejalan dengan pekerjaannya sebagai pramuwisata.

Sebagai Ketua HPI DPD NTB, sekaligus Ketua Bidang Hukum HPI nasional, Ainuddin merasa dengan adanya kemajuan teknologi digital saat ini dapat menjadi ancaman bagi pramuwisata dan juga travel agen konvensional. Oleh karenanya ia merasa harus memberikan proteksi kepada para anggota HPI yang ada, agar kedepan tidak terlibas oleh kemajuan era digital.

Seluruh alumni merasa sangat beruntung pernah menjadi bagian dari Bidy Tour, khususnya tentang kepempinan Bing Ha Midy, yang tidak hanya menjadi pimpinan, tapi juga seorang guru, pembimbing dan orang tua bagi mereka semua. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com