Mataram, LombokInsider.com – Dalam dunia pewayangan, Srikandi dikenal sebagai seorang perempuan yang tangguh dan tangguh serta mahir mempergunakan senjata, khususnya panah. Sosok Srikandi terlihat juga pada diri Dewi Susanti, seorang perempuan pengemudi Blue Bird Group Lombok, ia terlihat tegar, tangguh dan bersemangat menjalani aktivitasnya setiap hari.

“Alhamdulillah bangga menjadi bagian dari Blue Bird Group Lombok, yang merupakan salah satu perusahaan penyedia jasa transportasi terbesar dan terbaik di Lombok-NTB, bahkan di Indonesia,” kata Dewi, panggilan akrabnya. Menjadi seorang pengemudi taksi bukanlah hal mudah, namun juga bukan hal yang sulit, menurutnya.

Berdasarkan pengalamannya saat melamar, proses perekrutan tidak terlalu sulit bagi Dewi. “Datang membawa SIM dan KTP, kemudian langsung di test drive, karena dianggap mampu, keesokan harinya diminta datang lagi dan melengkapi surat lamaran, kemudian menjalani masa percobaan,” ujar perempuan kelahiran Semarang, Desember 1982.

Saat ini Dewi telah resmi sebagai pengemudi professional di Blue Bird Group Lombok, setelah lulus dari masa percobaan selama kurang lebih 4 bulan. Dewi tampak tegar dan tangguh di tengah ketatnya jam kerja yang mencapai 20 jam sehari, dengan roster kerja 4:2, 4 hari kerja 2 hari off, memulai pekerjaan dari pukul 04:00 pagi hingga 24:00 malam.

“Pekerjaan ini mengasyikan, lebih banyak suka daripada dukanya, bisa kenal banyak orang, sehingga bisa lebih bersosialisasi, selain itu secara ekonomi dapat mencukupi kebutuhan kami sekeluarga dan jam kerjanya fleksibel,” lanjut single parent dengan tiga putra ini.

Namun sebagai pengemudi perempuan Dewi sering menjumpai penumpang yang iseng kepadanya. “Banyak juga sih yang iseng, tanya ini itu, masalah pribadi, bahkan ada yang sampai telpon-telpon dan kasi pulsa segala. Tapi semua kembali kepada kitanya, saya beri penjelasan yang baik sehingga tidak ada masalah,” ungkap Dewi yang hobi memasak.

Selain itu kendala yang paling dirasakannya adalah ketika ada masalah mesin malam hari dan jauh dari kota, demikian juga dengan pecah ban. “Pernah pecah ban di sekitar Pantai Nipah malam hari, syukurnya masih ada masyarakat sekitar yang bantu. Kalau masalah mesin juga pernah dari Sweta sampai jalan Majapahit, juga tentang tertib berlalulintas yang masih kurang dari masyarakat,” ucap Dewi, yang selalu berhijab saat bertugas.

Pesan Dewi untuk rekannya sesama pengemudi, agar tetap fokus dan berhati-hati di jalan, meningkatkan pelayanan pada pelanggan, serta bagi para perempuan yang ingin menjadi pengemudi taksi tidak perlu kuatir, karena tidak sesulit yang dibayangkan.

Jika di luar Lombok, sudah cukup banyak kita temui pengemudi taksi perempuan, tidak demikian di Lombok yang berjuluk Pulau Seribu Masjid, yang saat ini telah menjadi destinasi wisata halal terbaik dunia, hal ini cukup langka bahkan mungkin Dewi merupakan satu-satunya pengemudi taksi perempuan di Lombok. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com