Tanjung, LombokInsider.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU), memberi batas waktu hingga kemarin (24/2) untuk para pelaku industri pariwisata di kawasan Gili Trawangan untuk membongkar bangunan yang mereka bangun di daerah ROI pantai, Trawangan. Hal ini dijelaskan Bupati Kabupaten Lombok Utara Najmul Akhyar pada saat menerima awak media seusai sholat Jum’at di Gili Trawangan, Jum’at (24/2). Menurut Bupati pembongkaran pada Jum’at kemarin telah mencapai 100%, artinya semua bangunan yang berdiri sepanjang ROI pantai telah dibongkar.

PENJELASAN. Bupati KLU, Najmul Akhyar, saat Memberikan Penjelasan Kepada Wartawan Tentang Kronologi Pembongkaran, Jum’at (24/2).

Pembongkaran

“Alhamdulillah hingga hari ini (Jum’at 24/2), pembongkaran telah mencapai 100%, yang terakhir adalah Hotel Aston. Kami juga menyediakan alat berat untuk membantu pembongkaran, jika dianggap perlu,” tegas Bupati. “Semua ini kami lakukan untuk lebih memberi ruang publik yang lebih luas dan memperbaiki penampilan pantai di Trawangan. Sosialisasi dan pendekatan yang humanis telah kami lakukan dengan intensif sebelum mengeluarkan keputusan ini,” jelas Najmul.

Menurutnya jika pemerintah saklek pada peraturan perundangan, bahkan 100 meter dari bibir pantai dilarang untuk mendirikan bangunan, karena dapat merusak keindahan pantai serta mempersempit ruang publik khususnya wisatawan yang datang. Kedepan Pemkab akan mengusulkan ke DPR untuk merubah peraturan tentang jarak yang mengatur bolehnya mendirikan bangunan di tepi pantai.

PUING. Sisa-sisa atau Puing dari Bongkaran Sebuah Cafe di Kawasan Gili Trawangan.

Tidak Sesuai Tata Ruang

“Jika sesuai perda  tentang tata ruang yang ada, jaraknya 100 meter dari bibir pantai, tentunya hal ini tidak dapat diterapkan di Trawangan yang pulaunya sangat kecil, karena akan banyak bangunan pengusaha yang harus dibongkar. Oleh karenannya perlu disesuaikan lagi peraturan yang ada, sehingga paling tidak berjarak sekitar 30 meter dari bibir pantai,” tegas Bupati.

Dukungan Menpar

“Kami telah berkomitmen tahun ini menjadi tahun pelayanan kepada wisatawan, jadi tidak hanya mengambil keuntungan dari kehadiran wisatawan, namun mengabaikan pelayanan,” lanjutnya. Bupati juga menjelaskan bahwa langkah yang ditempuh ini mendapat dukungan dari Menteri Pariwisata, Arief Yahya. “Langkah ini sangat didukung oleh beliau (Menpar, red), karena menurut Menpar keindahan pantai akan semakin mempesona jika tidak terganggu oleh berbagai bangunan yang berada di tepi pantai,” imbuhnya.

ANGKUT. Puing-puing sisa Bongkaran ini Selanjutnya akan Diangkut ke TPA di Trawangan.

Kooperatif

Dari hasil penelusuran LombokInsider.com, para pelaku industri pariwisata yang memiliki toko, café dan restoran serta hotel yang ada di Trawangan dan membangun di sekitar ROI pantai memang dengan sadar membongkar sendiri bangunannya. “Ya kami memang sudah sepakat dengan pemkab, karena sebelumnya sudah ada pertemuan dan pemberitahuan tentang pembongkaran ini,” ungkap Edi Johnson Sitompul salah satu pemilik toko baju dan peralatan renang di Trawangan.

Menurut Edi, pemerintah telah lama melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada para pengusaha di pulau ini. “Pada prinsipnya kami semua setuju dan mendukung apa yang telah menjadi keputusan bersama dari pemerintah dan pengusaha di Gili Trawangan ini, karena semuanya untuk kebaikan bersama,” imbuh Edi pemilik toko Gili Built. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com