Poster film Rudy Habibie

Resensi Film oleh Kasan Mulyono

Judul film: Rudy Habibie

Produser: Manoj Punjabi

Sutradara: Hanung Bramantyo

Penulis Skenario: Ginanti S. Noer

Pemain: Reza Rahadian, Chelsea Islan, Ernest PrakasaBoris Bokir

 

Mataram, LombokInsider.com – Sudah beberapa kali saya nonton film sejak dibukanya studio XXI di Lombok Epicentrum Mall dan Cinemaxx di Lombok City Center di Kota Mataram. Namun, kebanyakan saya tidak sungguh-sungguh menonton film karena hanya menemani anak-anak menonton film anak-anak. Bahkan kadang saya tidur di gedung bioskop saat anak-anak menonton.

Kemarin, saya benar-benar menonton. Sejak dari rumah saya sudah menyiapkan mental dan pikiran untuk menonton serta mencerna film Rudi Habibie. Saya berharap dengan menonton film ini saya bisa mengetahui perjalanan sejarah tokoh besar Presiden Dr BJ Habibie semasa muda. Saya juga ajak empat anak saya untuk menonton, termasuk yang paling kecil yang baru 8 tahun, meskipun ini film untuk 13 tahun ke atas. Saya berharap anak-anak bisa memetik pelajaran perjuangan salah satu putera terbaik negeri ini dan salah satu orang paling pintar di seluruh dunia ini.

Cinta dan Pengorbanan

Sekuel kedua film garapan sutradara Hanung Bramantyo ini dibingkai dalam tema besar cinta dan pengorbanan. Bedanya, dalam sekuel pertama Habibie & Ainun yang dirilis 2012, tokoh wanitanya adalah Ainun, isteri Habibie. Dalam sequel kedua ini, tokoh wanitanya adalah Ilona, seorang gadis perantauan Polandia, yang sempat berpacaran dengan Habibie.

Film dibuka dengan adegan Habibie kecil sedang bermain di bukit dengan teman-temannya ke-

Salah satu adegan film Rudy Habibie.

Salah satu adegan film Rudy Habibie.

tika tiba-tiba segerombolan pesawat tempur terbang rendah dan menjatuhkan bom. Itulah agresi Jepang yang kemudian memaksa ayah Habibie membawa keluarganya mengungsi dari Parepare ke Gorontalo. Dari sini kisah cinta dan pengorbanan itu dimulai. Pada ayah Habibie, Alwi Abdul Jalil Habibie (Donny Damara) cinta dan pengorbanan itu adalah saat dia melawan tabu sebagai orang Makassar menikahi wanita Jawa R.A. Tuti Marini Puspowardojo, Mami Rudy (dimainkan Dian Nitami) Pada Habibie kecil kecintaan itu adalah pada ilmu dan pesawat terbang dan pengorbanan itu adalah meninggalkan Indonesia; meninggalkan ibu dan saudaranya di Bandung, sepeninggal ayahnya, untuk melanjutkan kuliah di Aachen, Jerman.

Di Aachen, kisah cinta dan pengorbanan itu berlanjut dan menjadi bagian utama film ini ketika Habibie dewasa (diperankan oleh Reza Rahadian,) kuliah di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) mengambil teknik kedirgantaraan. Kecintaan Habibie pada ilmu, mengharuskan dia banyak melakukan pengorbanan. Dengan uang saku yang pas-pasan dari ibunya yang sudah menjanda, Habibie harus kos jauh dari kampus, di kamar sederhana tanpa pemanas ruangan, kamar mandi di luar. Ketika uang saku habis, dia harus menahan lapar, terpaksa berteduh dan sholat di gereja karena terlalu jauh untuk pulang. Dia terpaksa mengikat perutnya ketika rasa lapar itu tidak tertahankan. Ketika teman-temannya bersenang-senang, dia menghabiskan waktunya di perpustakaan atau melakukan ujicoba pesawat terbang.

Berkat pengorbanannya, dan juga karena kejeniusan otaknya, Habibie selalu menorehkan prestasi akademik yang menonjol. Dia pun jadi rebutan para mahasiswi. Tapi hatinya tertambat pada Ilona, mahasiswi keturunan Polandia yang diperankan oleh Chelsea Islan. Wanita ini pula yang banyak mendukung kiprah Habibie di kampus dan merawatnya saat terjatuh sakit tubercolosis tulang.

Konflik dan Nasionalisme

Konflik utama yang dibangun dalam film ini adalah perebutan pengaruh antar kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Aachen antara kelompok Habibie dkk dengan kelompok mahasiswa eks tentara pelajar. Konflik ini juga dibumbui politik dengan munculnya Presiden Soekarno di Aachen dan dampak gejolak politik di Jakarta yang terbawa sampai ke Aachen yakni pertempuran ideologi antara Barat dan Timur. Konflik juga diwarnai dengan asmara antara dua wanita yakni Ayu (Indah Permatasari), mahasiswi dari Solo dan Ilona, yang sama-sama mencintai Habibie.

Konflik-konflik itu pada akhirnya diselesaikan oleh sang sutradara dengan sebuah kompromi yang bernama keindonesiaan. Semua pihak yang bertikai sama-sama mengalah untuk menjunjung tinggi nama baik Indonesia dan demi menyelesaikan studi agar bisa kembali dan membangun Indonesia. Meskipun, karena sebagai satu-satunya mahasiswa yang tidak mendapatkan beasiswa negara, Habibie lebih berani melawan arahan yang diberikan Duta Besar RI di Jerman, meskipun dia memiliki sebuah cita-cita besar untuk membangun Indonesia dengan mengembangkan industri kedirgantaraan.

Karena alasan nasionalisme itu juga yang akhirnya memisahkan Habibie dan Ilona. Keduanya saling menyintai, namun karena kecintaan pada negara masing-masing, mereka tidak bisa bersatu. Karena kondisi politik yang tidak menentu di tanah air, Habibie pun memilih berkorban untuk tidak segera pulang ke Indonesia, namun melanjutkan kuliah dan bekerja di Jerman setelah sejenak pulang ke Bandung untuk menikahi Ainun, yang mengorbankan profesi dokternya untuk ikut Habibie ke Jerman demi sebuah cita-cita yang lebih besar, yakni membangun Indonesia. Dan film ini pun ditutup dengan menyatunya para mahasiswa Indonesia dan menangnya rasa kebangsaan Indonesia.

Dalam biografinya, Habibie lulus dengan cumlaude (nilai rata-rata 95) di RWTH kemudian melanjutkan studi doktoral dan lulus dengan sumacumlaude (nilai 100). Kepakaran Habibie di bidang teknik kedirgantaraan diakui dunia sehingga iapun dipanggil pulang oleh Presiden Soeharto dan diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi.

Film ini cukup inspiratif untuk para mahasiswa yang tengah sibuk menuntut ilmu, berorganisasi dan membina persahabatan. Ada nilai-nilai ketuhanan, kerja keras, persahabatan, cita-cita, prinsip, cinta dan pengorbanan dalam film ini. Sebagai sebuah karya seni, film ini menjadi satu lagi bukti kepiawian Hanung dalam meramu cerita, mengarahkan pemain yang semuanya bermain cantik, memadu gambar, musik dan mengatur irama hati sehingga kesedihan demi kesedihan, tawa demi tawa, terjaga dari awal hingga akhir cerita. Maka gedung bioskop pun banjir dengan air mata, riuh dengan tawa.

Selamat menonton.

 

Links:

http://movie.co.id/rudy-habibie/

 

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono