London, LombokInsider.com – Di tengah cuaca dingin yang menusuk, Whitefield School, Barnet, di London Barat Laut tengah sibuk menyiapkan “Winter Concert” yang merupakan kegiatan andalan tahunannya pada 20 Desember 2017. Konser musim dingin semacam ini merupakan tradisi rutin sekolah-sekolah di Inggris sebagai kegiatan yang menutup akhir tahun mereka.

Ni Putu Ari Pirgayanti, sebagai pengajar Bahasa Indonesia dan budaya untuk Penutur Asing (BIPA) di Sekolah menengah dan Akademi Whitefield, menampilkan siswa-siswi binaannya yang membawakan tarian asal Maluku, Gaba-Gaba. Pirgayanti yang merupakan tenaga pengajar PPSDK, melihat ini sebagai kesempatan emas untuk mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat Inggris.

Mencermati pentingnya “Winter Concert” ini, Ni Putu Ari Pirgayanti, yang ditugaskan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) untuk membantu salah satu program kerja Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D tak melewatkan kesempatan tersebut.

Uniknya, Tari Gaba-Gaba yang ditampilkan di Whitefield School ini dibawakan oleh 16 siswa-siswi yang juga berasal dari latar belakang kebangsaan yang berbeda-beda, yakni

Zimbabwe, Somalia, Amerika Selatan, Uzbekistan, Bulgaria, Lebanon, Afghanistan, Romania, Filipina, Sri Lanka, Kolombia, dan Inggris. Menurut Pirgayanti, komposisi ini sengaja dipilih untuk menonjolkan nilai ‘Bhinneka Tunggal Ika’, atau dalam Whitefield School dikenal dengan ‘Unity in Diversity’.

Tari Gaba-Gaba merupakan tarian khas Maluku yang mengemas tari, permainan perkusi, dan nyanyian sekaligus. Lagu yang dinyanyikan oleh siswa-siswi ini adalah Lembe-Lembe yang kerap kali dipopulerkan oleh Daniel Sahuleka dalam berbagai konsernya. Tari Gaba-Gaba ini pada mulanya adalah tarian yang menggambarkan suasana gembira para pemuda maluku di tengah musim panen. Tentang pilihannya terhadap tarian ini, Pirgayanti mengatakan bahwa sudah saatnya kita mengangkat Indonesia bagian timur sebagai aset kebudayaan Bangsa Indonesia.

Konser semacam ini rutin dan dianggap cukup prestisius bagi sivitas akademika di sekolah-sekolah di Britania Raya. Pasalnya, konser ini menampilkan perkembangan para murid dalam satu tahun terakhir. Selain itu, pada umumnya orang tua dan kerabat juga hadir di konser ini, menjadikan konser ini medium sosialisasi yang cukup efektif kepada masyarakat setempat.

Sekitar 300 orang tua wali murid datang menyaksikan konser musim dingin 2017 ini. Salah satu wali murid bahkan menghampiri Prof. Aminudin dan menyampaikan bahwa ia dan keluarga sangat menikmati persembahan dari Indonesia. Kepala sekolah Whitefield, Elizabeth Rymer juga menyampaikan terima kasih sudah berkenan membina anak-anak dan ia senang sekali melihat anak-anak mempertunjukan salah satu kesenian dari Maluku. (LI/SP/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com