Bagian 1: Menjelang Perjalanan

 

LombokInsider.com – Sebentar lagi umat Islam Indonesia akan disibukkan dengan ‘ritual’ tahunan yakni mudik atau pulang ke kampung halaman. Nah, perjalanan jauh bukanlah urusan mudah. Karena itu diperlukan persiapan-persiapan yang matang baik aspek logistik maupun aspek fisik. Yang tidak kalah pentingnya persiapan mental dan spiritual.

Berikut ini kami rangkumkan Etiket Bepergian dan Bertem

Meminta restu orang tua sebelum bepergian.

Meminta restu orang tua sebelum bepergian.

an Selama Perjalanan dari buku saku karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang diindonesiakan oleh Aguk Irawan dan diterbitkan oleh Zaman, 2015.

Menjelang Perjalanan

Kewajiban pertama yang harus dilakukan ketika hendak melakukan perjalanan meninggalkan kampung halaman adalah:

  1. Meminta keridhaan orang yang sedang bersengketa dengannya, meminta restu kedua orang tua atau orang yang sestatus dengan mereka, yakni kakek dan nenek.
  2. Meninggalkan perbekalan yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan selama masa perjalannya, atau mengajak dan membawa mereka turut serta bersamanya.
  3. Memastikan perjalanannya benar-benar untuk menjalankan amal ketaatan.
  4. Selanjutnya sholat sunnah safar, kemudian memohon do’a kesuksesan hajatnya, setelah itu barulah pergi. Do’a selepas sholat sunnah safar:  https://shafiqolbu.files.wordpress.com/2012/08/doa-safar-musafir.jpg

 

Terkait dengan waktu, hendalah ia mencari waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan, yaitu pagi hari Kamis, Sabtu atau Senin.

Kemudian ketika telah siap di atas kendaraan yang akan membawanya pergi, hendaklah ia berdoa:

سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَـهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

“Mahasuci Dzat yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesunggunya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (GS. Az-Zukhruf [43]: 13)

Kelak ketika kembali dari perjalanan, maka setiba di rumahnya hendaklah ia shalat dua rakaat dan berdo’a selepasnya sebagaimana dicontohkan oleh Nabi saw. Dengan do’a berikut:

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

“(Kami adalah) orang-orang yang kembali, bertobat, dan beribadah, sembari memuji Tuhan kami.”

 

Dalam Perjalanan

Selama dalam perjalanan hendaklah ia memegang etiket-etiket sebagai berikut:

  1. Jangan mengangkat diri sebagai pemimpin rombongan jika memang sudah ada yang memimpin mereka.
  2. Berusaha menjadi teman seperjalanan yang baik dan memberi manfaat bagi teman-temannya, lebih banyak diam dan menghindari obrolan yang bersifat desas-desus.
  3. Tidak singgah di tempat-tempat yang tidak aman.
  4. Tidak menggelar pernikahan selama berada dalam perjalanan, sebab hal itu makruh.
  5. Menjaga lisan agar tetap berada di jalur makrifat.

(Bersambung)

 

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono