Etiket Perjalanan Bagian 2 2

Bagian 2: Dalam Perjalanan

LombokInsider.com – Sebentar lagi umat Islam Indonesia akan disibukkan dengan ‘ritual’ tahunan yakni mudik atau pulang ke kampung halaman. Nah, perjalanan jauh bukanlah urusan mudah. Karena itu diperlukan persiapan-persiapan yang matang baik aspek logistik maupun aspek fisik. Yang

Dalam perjalanan harus saling membantu.

Dalam perjalanan harus saling membantu.

tidak kalah pentingnya persiapan mental dan spiritual.

Berikut ini kami rangkumkan Etiket Bepergian dan Berteman Selama Perjalanan dari buku saku karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang diindonesiakan oleh Aguk Irawan dan diterbitkan oleh Zaman, 2015.

Dalam Perjalanan

Terkait dengan etiket berteman dalam perjalanan, secara umum hendaklah ia bergaul secara baik dengan teman-teman seperjalanannya dengan mcara menunjukkan akhlak yang mulia, bersikap menyenangkan (humoris), dan menghindari perdebatan dan perselisihan dalam segala hal. Kemudian menjaga komitmen untuk melayani teman-teman seperjalanannya dan tidak membahas siapa pun kecuali jika memang benar-benar mendesak, sembari berusaha tetap dalam keadaan suci selama perjalanan.

Etiket-etiket umum dengan teman seperjalanan ini lebih lanjut bisa dijelaskan dan dipraktikkan dalam laku-laku etis sebagai berikut:

  1. Mendampingi teman yang sedang sakit atau kelelahan.
  2. Memberinya minum jika ia kehausan.
  3. Bersikap lembut terhadapnya jika ia sedang jengkel dan mengomel.
  4. Meredam dan menenangkan dengan humor jika ia sedang marah dan emosional.
  5. Menjaga diri dan kendaraannya termasuk barang bawaannya jika ia sedang tidur.
  6. Lebih mengutamakannnya jika perbekalan menipis.
  7. Menghibur kesedihannya dengan sesuatu yang bisa membuka pikirannya.
  8. Tidak menyediri tanpanya.
  9. Tidak menyembunyikan rahasia darinya, namun juga tidak menyebar-luaskan rahasia kepadanya.
  10. Tidak memaksanya untuk menceritakan rahasia dirinya kecuali dengan lembut.
  11. Menolak berghibah dan menggunjing diri temannya.
  12. Mengingatkannya dengan cara yang santun dan tidak mempermalukannya di depan rombongan lain.
  13. Tidak mengadukan perlakuan buruknya pada rombongan yang lain dan tetap toleran atau bersabar menerima perlakuan buruknya.
  14. Memberinya nasihat ketika ia meminta saran.
  15. Menanyakannya nama, alamat dan nasabnya.
  16. Bersikap merendah dengan menunjukkan kepada teman-teman seperjalanannya bahwa ia mengikuti mereka, meskipun ia sebenarnya pemimpin mereka.
  17. Jika ia menjadi pemimpin rombongan, hendaknya ia menegur kesalahan yang dilakukan anak buahnya dengan nasihat yang santun, tidak mencela dan tidak membentak-bentaknya.

Selama dalam perjalanan, seorang muslim harus senantiasa berta’awwudz memohon perlindungan kepada Allah dari segala mara-bahaya tatkala ia singgah dan duduk di suatu tempat, atau bermalam dan tidur di lokasi persinggahan. (Habis)

 

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono