Sport tourism atau wisata olah raga merupakan perjalanan nasional atau internasional yang secara khusus dilakukan untuk menonton ajang-ajang olah raga. Contoh umumnya adalah ajang-ajang internasional seperti kejuaraan dunia (sepak bola, rugby, cricket, badminton), olimpiade, Grand Prix Formula 1, ajang-ajang regional seperti Liga Champions Eropa, Asian Games, ASEAN games, dan olah raga-olah raga berpeserta perorangan seperti tennis, golf dan balapan kuda.

Potensi Wisata Olah Raga

Ajang olah raga global paling populer adalah Piala Dunia Sepakbola dan Olimpiade, disusul oleh Liga Champions Eropa. Ajang lainnya yang banyak menarik wisatawan adalah Rugby Union World Cup dan Formula 1 Grand Prix.

Ajang Piala Dunia 2014 di Brazil menyedot 1 juta wisatawan dalam even satu bulan tersebut ditambah sekitar 3 juta wisatawan domestik dan menciptakan 3,63 juta pekerjaan dan lebih dari $17 miliar pendapatan bagi penduduk Brasil.

Dengan liputan media yang gencar, ajang-ajang olah raga akan semakin berkembang karena dikemas semakin menarik, didukung oleh infrastruktur yang lengkap dan juga adanya penerbangan berbiaya rendah. Secara keseluruhan sport tourism diperkirakan akan tumbuh sekitar 6% per tahun.  Khusus di Kanada, sport tourism tumbuh senilai $5,2 miliar pada 2014.

Pasar utama sport tourism secara umum adalah orang muda usia antara 18 tahun sampai 34 tahun, dan dalam kelompok sosial ekonomi menengah. Penyuka rugby dan cricket cenderung lebih tua dan dengan pendapatan yang lebih tinggi. Penyuka atletik cenderung muda, pendapatan rendah, sementara penyuka Formula 1 Grand Prix biasanya laki-laki usia 40an dengan pendapatan di atas rata-rata.

Negara asal pasar utama sport tourism meliputi Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Italia, Spanyol, Skandinavia, Australia dan Afrika Selatan. Sedangkan pemain utama yang bersaing dalam pasar ini adalah negara-negara yang menggelar ajang internasional tahunan yakni Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Australia dan Spanyol.

Kendala dan Tantangan

Memang Indonesia belum memiliki ajang-ajang olah raga internasional tahunan skala besar, namun mulai banyak menggelar acara sepeda, lari marathon dan kejuaraan dunia untuk badminton dan lainnya. Khusus untuk Provinsi NTB, beberapa ajang olah raga lari dan bersepeda internasional telah digelar dan mendatangkan banyak peserta. Dengan potensi alamnya yang indah, NTB cukup kompetitif untuk menjadi tuan rumah ajang-ajang olah raga skala besar. Hanya saja saat ini ketersediaan infrastruktur masih terbatas. Lapangan golf, misalnya, NTB baru memiliki 3 lapangan; yakni 2 di Lombok dan 1 di Sumbawa. Stadium olah raga untuk sepakbola, tenis, renang, atletik dll belum cukup memadai di NTB.

Tantangannya adalah bagaimana kita bisa mengembangkan wisata olah raga di NTB dengan potensi alam yang indah namun prasarana yang terbatas. Yang selama ini telah dilakukan oleh pemerintah dan pelaku wisata olah raga di NTB sudah tepat yakni menggelar ajang lari, bersepeda, seluncur air dll yang tidak memerlukan infrasatruktur yang khusus; memanfaatkan jalan raya NTB yang sebagian besar sudah mulus dan lintas alam pegunungan NTB yang indah. Ajang lari marathon, 10 K, sepeda Lombok Audax, sepeda gunung, mendaki gunung dll harus diperbanyak dilakukan di NTB untuk menjaring pasar wisata olah raga yang terus berkembang.

Tak kalah pentingnya adalah peran promosi. Baik media massa maupun publik NTB perlu mendukung promosi wisata olah raga NTB menggunakan pelbagai media sosial yang tersedia sehingga NTB semakin populer sebagai destinasi wisata olah raga serta mendukung target 3 juta kunjungan wisatawan pada 2016.

Dengan potensi alam yang indah, mengembangkan wisata olah raga di NTB bukanlah mustahil. Jadi, wisata olah raga di NTB, kenapa tidak?

 

Tags:
About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono