Mataram, LombokInsider.com – Sambil menangis ayah dari anak yang diduga menghina Jokowi di sosial media (Sosmed) pada, Minggu (20/1) di kediamannnya di Ampenan Kota Mataram meminta agar anaknya dibebaskan dari tahanan Polres Mataram.

“Supaya dibebaskan anak saya ini. Semoga diampunkan. Semoga dibebaskan dia (Imran anaknya). Minta maaf, saya yang minta maaf pada Presiden kita,” ucap Saidi sambil menangis didampingi sejumlah pengacaranya, Jumat (25/1) di Mapolres Mataram saat mengajukan penangguhan penahanan terhadap kliennya.

Saat anaknya ditangkap, ayahnya ini mengalami kondisi disabilitas karena kaget atas penangkapan IS alias Imran, karena menurutnya, sebelumnya tidak ada pemberitahuan atas penangkapan tersebut.

“Saat itu saya ada di rumah, tapi belum ada pemberitahuan. Nah tiba-tiba ditangkap jadinya ya kagetlah saya. Memang sudah nasib ya,” terangnya sambil menangis.

Sementara menurut koordinator tim pengacaranya, Muhanan, SH kepada media menyampaikan alasan penangguhan penahanan terhadap Imran kepada pihak Polres Mataram atas beberapa alasan.

“Alasan kami kalau kita melihat Imran ini umurnya masih dalam keadaan labil (belum cukup umur untuk ditahan), dia juga memiliki orang tua yang kurang sehat (disabilitas),” terangnya.

Dia menegaskan dalam surat penahanan tersebut tersangka Imran tidak akan melarikan diri, tidak akan mengulangi tindak pidana yang sedang dia jalanani.

“Ketiga, merasa bahwa orang tuanya butuh untuk dia ada di rumah,” alasannya.

Semua Ketua Relawan pendukung Prabowo-Sandi baik yang ada di daerah maupun nasional pun pun siap memberikan jaminan kepada Imran.

“Semua Ketua Relawan Pendukung Prabowo-Sandi siap menjadi penjamin terhadap Imran. Kita sudah koordinasi dengan semua relawan yang di NTB, baik relawan daerah maupun nasional,” tegas Amre, Ketua DPP Rumah SandiUno Indonesia.

Diketahui sebelumnya, IS telah ditahan karena diduga telah melanggar pasal 28 ayat (2) jo pasal 45 A undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE. Dia diduga melakukan ujaran kebencian dengan ancaman pidana maksimal enam tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar. (LI)

Tags: , , ,
About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com