Hari Lingkungan Hidup Dunia 2016

 

Mataram, LombokInsider.com – Pada 5 Juni 2016 kita akan memeringati Hari Lingkungan Dunia. Program Lingkungan Persatuan Bangsa-bangsa (UNEP) mengangkat tema Go Wild for Life. Tema ini maknanya adalah ajakan untuk bersungguh-sungguh berupaya untuk menyelamatkan kehidupan liar yang semakin terancam kelangsungannya akibat perdagangan gelap hewan dan tanaman langka.

Menurut UNEP, hilangnya spesies-spesies ikonik seperti gajah, harimau atau penyu laut akan menjadi bencana bagi upaya-upaya konservasi. Namun, hilangnya spesies apapun, bahkan pada tingkat lokal, merupakan sebuah erosi keanekaragaman hayati yang menopanag sistem alam tempat kita bergantung untuk keamanan pangan, obat, udara segar, air, tempat tinggal dan lingkungan yang bersih dan sehat.

Karena itu kampanye Hari Lingkungan Dunia 2016 memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan parahnya kejahatan perdagangan hewan dan tanaman liar dengan slogan “Go Wild for Life” – untuk mendorong masyarakat untuk mengubah kebiasaan mereka untuk mengurangi produk-produk dari alam liar yang tidak legal, dan untuk menekan teman, sejawat dan pejabat untuk melakukan apa yang mereka bisa lakukan untuk menghentikan perdagangan gelap ini.

Seruan ini didasarkan pada harapan bahwa tindakan dan pernyataan individu-individu dapat menghadirkan perubahan besar dalam perilaku dan kebijakan atas perdagangan gelap produk alam liar.

Ancaman Kepunahan Rusa NTB

Nah, secara kebetulan penulis melihat ada postingan di Facebook oleh Bapak Badrul Munir, mantan Wakil Gubernur NTB, yang menguatirkan akan punahnya rusa NTB, binatang yang dijadikan maskot provinsi ini.

“Salah satu daya pikat Pulau Moyo dan Gunung Tambora sebagai “Taman Marga Satwa” adalah rusa. Dulunya, di kedua kawasan hutan itu, dihuni oleh populasi rusa yang cukup tinggi. Kondisi itu membuat Pulau Moyo disebut juga sebagai “Pulau Rusa” atau pulau menjangan. Namun, bagaimana kondisinya saat ini?,” demikian tulis Badrul Munir.

Dikatakannya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Barat yakin bahwa populasi Rusa Timor (Cervus Timorensis) yang menjadi maskot daerah itu, jumlahnya kini semakin berkurang. Bahkan dapat dikatakan nyaris punah. Menurut catatan BKSDA Nusa Tenggara Barat (2012), jumlah populasi rusa di NTB setiap tahun terus berkurang. Penyebabnya karena masih maraknya perburuan liar oleh masyarakat. Baik secara tradisional maupun menggunakan senjata. Belum lagi dampak dari kerusakan dan pengrusakan kawasan hutan sehingga merusak habitat rusa. Termasuk, maraknya perdagangan rusa secara ilegal.

“Hasil survei 1998 di Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa, sebagai lokasi habitat rusa terbesar di NTB, terekam jumlah rusa sekitar 11.000 ekor. Namun pada survei 2012 jumlah rusa menyusut menjadi 3.000 ekor. Berarti terjadi penurunan populasi rata-rata 5,2 persen pertahun. Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan. Jika tidak segera diatasi secara sungguh-sungguh dan menyeluruh, maka dalam waktu yang tidak lama, rusa hanya tinggal kenangan sejarah,” kata Badrul Munir, putera NTB asal Sumbawa.

Tanggapan

Kontan postingan Badrul Munir yang juga Direktur Eksekutif Regional Institute itu mendapatkan banyak tanggapan dari pengguna Facebook lainnya. Kebanyakan tanggapan bernada mendukung pentingnya langkah-langkah darurat untuk menyelamatkan rusa di provinsi NTB. Ada juga tanggapan yang bernada pesimis dan mempertanyakan apa yang telah kita perbuat untuk menyelamatkan rusa.

Dosen senior Fakultas Pertanian Unram, Prof Suhubdy Yasin, Ph.D. mengatakan bahwa masalah ancaman kepunahan rusa ini sudah disuarakannya pada 2003 saat memberikan pidato ilmiah pada dies natalis Unram.

Wahyu Arief menulis bahwa rusa merupakan komoditas buruan yang paling bergengsi di Sumbawa untuk dikonsumsi sendiri atau pun untuk oleh-oleh untuk orang kaya. Mereka bahkan memburu secara brutal.

Pengguna yang lain, Dedy Aris Septiawan, mengatakan lambat laun akan menjadi sebuah cerita dan dongeng untuk anak cucu kita. #savemayung.

Penangkaran yang masif perlu dilakukan seperti di Bogor, tulis Sukara Wibawajaya. Ini ditanggapi oleh Badrul Munir dengan mengatakan bahwa sudah ada sekitar 46 unit penangkaran, tetapi perlu lebih luas lagi.

Sedangkan Muhammad Furqan menulis bahwa ekowisata adalah solusi untuk masalah ini. Alam dan isinya tetap terjaga keberlangsungkannya, di sisi lain masyarakat juga mendapatkan nilai tambah secara ekonomi.

Penulis juga menanggapi positngan ini. “Saya usul diadakan kesepakatan moral seluruh masyarakat NTB untuk moratorium berburu rusa selama 20 tahun. Maka setelah itu kita akan lihat rusa berkeliaran dan bisa jadi obyek wisata,” tulis saya.

Postingan saya ini ditanggapi oleh Mulyadi Gole. “Menarik ini Pak Kasan. Smg aspirasi ini dapat ditindaklanjuti, dgn pengawasan yang ketat dari aparat baik TNI maupun POLRI. Yang jd pertanyaan, kenapa Pemerintah tidak serius untuk urusan ini yaaa…”

Dan Badrul Munir pun menanggapinya dengan mengatakan, “Usul cerdas. Perlu disuarakan menjadi narasi kebijakan.”

Selamat Hari Lingkungan Hidup Dunia 2016. Mari bersama-sama kita selamatkan rusa. Jangan memburu rusa.

Badrul Munir, Direktur Eksekutif Regional Institute

Populasi rusa di NTB sudah sangat mengkuatirkan. Perlu langkah penyelamatan segera. Badrul Munir, Direktur Eksekutif Regional Institute

Sepasang rusa timor di Sumbawa yang terancam punah. Foto oleh Badrul Munir.

Sepasang rusa timor di Sumbawa yang terancam punah. Foto oleh Badrul Munir.

Jangan membeli daging rusa. Jangan makan daging rusa. (LI/KM)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono