Tanjung, LombokInsider.com – Merawat alam untuk mencegah bencana, mutlak harus segera dilakukan. Menjaga sumber kehidupan lama dan membuat sumber air baru mendesak untuk digelar. Karena mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

Program bertema Tajuk Air 2017 kali ini menggandeng Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lombok Utara. Tujuannya adalah bergerak bersama untuk ibu bumi. Setelah menanam ribuan flamboyan, pegiat lingkungan Pawang Rinjani Lombok menggelar program penghijauan 1000 gatep (gayam) dan 50 pohon koak berdiameter 70 centimeter untuk Lombok Utara.

Total luas kawasan konservasi tahap pertama di sekitar sumber mata air Jong Plangka ini sekitar satu hektar. “Kita mulai melakukan penghijauan kembali kawasan sumber mata air Jong Plangka ini sejak 20 November 2017 sampai 20 Januari 2018,” jelas Raden Waliadin, Direktur PDAM KLU, usai penanaman Gatep Perdana, Senin (20/11) lalu.

TANAM. Bersama PDAM KLU, Pegiat Lingkungan Pawang Rinjani Menanam Pohon Gatep, Senin (20/11).

Bersama tim pendamping Pawang Rinjani, PDAM KLU kegiatan ini digelar di sumber mata air Jong Plangka, Desa Bentek, Kecamatan Gangga. Titik penanaman pertama di kawasan bak penampungan air dan sumber mata air.

Dijelaskan Waliadin, sumber mata air Jong Plangka ini merupakan sumber kehidupan ribuan warga di tiga kecamatan, Pemenang, Tanjung, dan Gangga. “Sumber mata air Jong Plangka ini sangat strategis dan merupakan sumber air utama PDAM KLU,” ungkapnya.

Menurut Ketua Pawang Rinjani, Cike Pramudia, Gatep merupakan salah satu jenis pohon endemik langka yang banyak tumbuh di kawasan hutan Rinjani, Lombok. Selain itu, jenis pohon gatep atau Inocarpus fagifer adalah jenis pohon anggota suku polong-polongan (Fabaceae) yang dapat tumbuh setinggi 20 meter dengan diameter empat hingga enam meter.

“Pohon gatep atau gayam, mampu menyerap air dengan akar tunggang yang sebanding dengan tinggi batang pokok. Menariknya, pohon gayam mengeluarkan air terus menurus melalui akar serabut atau akar halus memenuhi batang pokok bawah,” ujar Cike.

Pohon Gayam juga termasuk pohon kokoh dengan penopang banir (akar pohon keluar) yang mulai terlihat mencolok ketika pohon berusia dua hingga tiga tahun. “Pohon ini biasa ditanam di pedesaan sebagai peneduh pekarangan, penyangga sumber mata air dan wilayah penabung air. Pohon ini juga biasa tumbuh dengan proses alaminya,” lanjutnya.

Karena memiliki kemampuan menyerap air yang kuat lanjut Direktur PDAM KLU ini, pohon gayam dijuluki mesin air alam. Hebatnya, pohon gayam ini mampu menumbuhkan sumber mata air baru. “Kami berharap, gayam dengan keunikannya akan menjadi tren baru untuk membangun sumber sumber mata air baru di Lombok Utara,” harap Cike.

Selain sebagai pohon konservasi mata air, gayam menjadi pohon endemic yang buahnya mempunyai nilai ekonomis. Isi bijinya bisa dikonsumsi setelah direbus atau diolah lagi menjadi keripik dan cemilan lainnya. Buah gayam ini juga bisa menghilangkan racun saponin yang terkandung didalamnya.

“Selain sebagai penyangga mata air, program Tajuk Air ini diharapkan mampu memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Intinya konservasi gatep di sumber mata air ini memiliki segudang faedah.” pungkas lulusan Sekolah Gunung Wanadri ini. (LI/SP/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com