Ojik Gaffar guide senior

Mataram, LombokInsider.com – Profesi pramuwisata di Lombok sama tuanya dengan industri pariwisata itu sendiri.  Di Inggris, profesi operator tur dimulai pada 1758 oleh perusahaan Thomas cook. Di Lombok, kegiatan ini bermula ketika wisatawan mulai datang ke Lombok pada dekade 1980.

“Waktu itu saya masih SMP saat saya pertama kali melayani tamu. Saya masih ingat, tamu tersebut berasal dari Perancis dan menginap di hotel Zahir di Ampenan,” kata Fahrurozi Gaffar atau biasa dipanggil Ojik, seorang pramuwisata senior.

Dari Amatir ke Profesional

Sambil belajar mempraktekan bahasa Inggris yang dikuasainya Ojik remaja terus bergelut dengan dunia pariwisata sebagai guide. “Seingat saya kota Ampenan yang menjadi cikal bakal pariwisata di Lombok, karena dulu pelabuhan lautnya di sana. Jadi banyak tamu yang masuk dari pelabuhan laut dan menginap di hotel-hotel di sekitar sana,” kenang Ojik enam bersaudara dari pasangan Syafiuddin Gaffar dan Sukaryah kelahiran Ampenan, 1970.

Perlahan namun pasti pariwisata Lombok mulai berkembang, hal ini tentu saja menuntut Ojik untuk semakin serius dan membekali dirinya dengan lisensi pramuwisata yang legal, sehingga tidak dijuluki “amatiran”. “Tidak mudah untuk mendapatkan lisensi karena para pramuwisata harus menguasai paling tidak satu bahasa asing, serta sudah berpengalaman di bidangnya, memiliki pengetahuan umum yang luas, mempunyai keterampilan public speaking dan mengikuti pelatihan yang diadakan pemerintah dalam hal ini Dishubpar NTB,” terang Ojik.

Setelah menggenggam lisensi resmi, selepas SMA Ojik muda melanjutkan petualangannya sebagai pramuwisata. “Banyak sukanya di dunia pramuwisata ini, karena otomatis kita para pramuwisata mengikuti ritme kehidupan para tamu yang dilayani,” kata Ojik.

“Jadi kalau tamu makan atau menginap di hotel dan restoran mewah, kami juga ikut menikmati hal yang sama. Sedangkan dukanya adalah masih adanya pandangan negatif masyarakat tentang kehidupan seorang pramuwisata,” jelas Ojik.

Host TV Pariwisata

Ojik sempat istirahat dari dunia kepramuwisataan saat dia beralih profesi menjadi manajer hotel di Bali dan Lombok. Namun hatinya yang sudah menyatu dengan dunia pramuwisata, memanggilnya kembali ke dunia yang dicintainya itu. Bahkan berkat kiprahnya sebagai pramuwisata telah membawanya ke dunia televisi saat dia dipercaya menjadi host acara pariwisata di sebuah stasiun TV Belanda. “Pengalaman lainnya yang paling berkesan adalah saat saya direkomendasikan oleh tamu dari Inggris untuk menduduki jabatan sebagai Island Representative bagi tour operator Kuoni di London,” terang bapak lima anak dari pernikahannya dengan Susi Novianti.

Tugasnya di Kuoni antara lain memastikan tamu-tamu yang berasal dari Kuoni mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga mereka puas dan mempunyai kesan positif terhadap pariwisata NTB dan Indonesia secara umum. Kuoni sendiri merupakan salah satu tour operator tertua di London.

Dengan pengalamannya sebagai host TV, Ojik kemudian terlibat dalam pelbagai kegiatan talk show di beberapa televisi pariwisata dan radio asing sepert: Bernama TV, Al-Hijrah TV, Strait News Time serta beberapa surat kabar di Malaysia, yang dilaksanakan di Islamic Center terkait Lombok sebagai salah satu destinasi wisata halal.

Promosi Pariwisata

Kini Ojik berkiprah di arena yang lebih luas dengan panggung yang lebih besar. Dalam beberapa tahun terakhir, Ojik menjabat sebagai Direktur Promosi di Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, yang berkantor di Jalan Langko. Jabatan itu selaras dengan pengalaman dan bakatnya dalam dunia media massa dan juga pengalamannya sebagai Wakil Ketua Humas di Himpunan Pramuwisata Indonesia Cabang NTB.

“Pekerjaan ini sangat menantang karena di sini kita berkiprah untuk mendukung pemerintah mempromosikan pariwisata NTB. Kita dituntut kreatif membangun program-program promosi agar bisa meningkatkan kunjungan wisatawan,” jelas Ojik yang menyukai novel thriller suspense ini.

Meskipun sudah lama malang melintang di dunia pramuwisata, Ojik masih terus belajar. “Kita harus terus belajar karena industri pariwisata juga terus berkembang,” pungkas Ojik yang masih sesekali menjadi pramuwisata. (LI/AA)

Ojik dan puterinya.

Ojik dan Dahlan Iskan (foto utama) dan dengan puterinya.

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono