Mataram, LombokInsider.com – Sebagai bagian dari upaya membantu mengembangkan kuliner di wilayah Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar roadshow sosialisasi kompetisi dan konferensi FoodStartup Indonesia di Kota Mataram, acara ini berlangsung di Aston Inn Hotel Mataram, pada hari Senin, (17/4). Dihadiri oleh sekitar 62 peserta yang berasal dari daerah seluruh NTB, yang mayoritas adalah pelaku kuliner.

“Harapan kami, acara ini mampu mengembangkan kuliner di Indonesia, memaksimalkan potensi foodstartup, membentuk ekosistem foodstartup, membuka akses permodalan pemerintah serta swasta dan memasarkan produk ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar global,” ucap Direktur Akses Non Perbankan Bekraf, Sugeng Santoso. “Berdasarkan data dari BPS, serapan tenaga kerja dalam bidang ini sangat luar biasa, pada 2015 saja telah mencapai 15 juta orang, padahal target kami 13 juta orang pada 2019,” lanjut Sugeng.

Tentang Bekraf

Bekraf adalah sebuah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertanggung jawab di bidang ekonomi kreatif. Saat ini, Kepala Bekraf dijabat oleh Triawan Munaf. Sebelumnya pada 2011-2014 menjadi satu bagian dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Bekraf mempunyai tugas membantu Presiden RI dalam merumuskan, menetapkan, mengkoordinasikan dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio.

 FoodStartup Indonesia adalah acara yang diselenggarakan Bekraf untuk mendukung ekosistem subsektor kuliner di Indonesia. FoodStartup terdiri dari pelaku bisnis yang berkecimpung dalam penyedia jasa atau produk kuliner selama satu hingga lima tahun, mempunyai ide kreatif, memiliki inovasi produk, bisnis model, serta pemasaran, rekam jejak transaksi, mempunyai keunggulan dan tim yang tangguh dan berpotensi dikembangkan dalam skalabilitas dengan pertumbuhan yang tinggi serta menarik pemilik modal.

Sebelum di Mataram, Bekraf juga telah menyelenggarakan roadshow sosialisasi kompetisi dan konferensi FoodStartup Indonesia di Medan dan setelah ini sosialisasi kompetisi dan konferensi  juga akan hadir di Makassar (21/4), Surabaya (26/4) dan Jakarta (2/5). Bekraf mengundang pelaku usaha kuliner, pengusaha pendukung usaha kuliner, komunitas kuliner, praktisi kuliner, media publikasi, lembaga pembiayaan (skema pinjaman & skema investasi) pada sosialisasi ini.

KULINER. FoodStartup Indonesia, dilaksanakan hampir diseluruh Kota di Indonesia, Termasuk Mataram.

Proses Kurasi

Bekraf melaksanakan kurasi dan memilih 100 startup untuk mengikuti demoday di Bali (22-24/5) dan di Bandung (17-19/7). 50 startup yang melaksanakan demoday di Bali diumumkan pada 10 Mei 2017, sedangkan 50 startup yang melaksanakan demoday di Bandung diumumkan pada 7 Juli 2017 melalui portal www.foodstartupindonesia.com.

Dalam demoday, para startup subsektor kuliner mengikuti mentorship dengan mentor dari berbagai keahlian yang sesuai dengan kriteria melalui koordinasi Bekraf. Setiap foodstartup diberikan waktu selama 15 menit untuk picthing yaitu memaparkan pitch deck di hadapan mentor. 25 foodstartup akan dipilih dari 50 foodstartup untuk melaksanakan picthing di depan umum selama 5 menit. Para juri akan memilih 10 foodstartup terbaik untuk masuk Final Pitching Day.

Pitch deck adalah materi presentasi yang berisi profil produk & ide kreatif produk serta latar belakang produk, target market produk, proses produksi, timeline progres produk, model bisnis, kompetitor, strategi pengembangan produk, skalabilitas, profil tim dan investasi yang diperlukan dalam meningkatkan skalabilitas & (next) strategi.

“30 foodstartup terbaik dari demoday Yogyakarta (2016) dan Bali, dan Bandung (2017) akan tampil di Final Pitching Day di Jakarta. Semua finalis demoday ini berhak mendapat fasilitasi HKI dan akselerasi program dari Bekraf,” pungkas Sugeng.

Pada sosialisasi kompetisi dan konferensi FoodStartup Indonesia di Mataram ini, Bekraf juga melakukan sosialisasi terkait perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan program kerja Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi Bekraf dalam pengembangan subsektor kuliner dan yang terkait FoodStartup Indonesia yang disampaikan oleh Robinson Sinaga selaku Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual, Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi Bekraf. Robinson menjelaskan betapa pentingnya perlindungan HKI ini, karena dapat melindungi hak produsen dari plagiatisme yang sering terjadi di dunia kuliner. (LI/SP/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com