Gili Nanggu

Opini

Mengapa Wisata Halal untuk Lombok Sumbawa?

Oleh Dr Kasan Mulyono, Redaktur LombokInsider.com

Kebanyakan hotel berbintang di Mataram sudah ramah terhadap wisatawan Muslim. Hotel Golden Tulip

Kebanyakan hotel berbintang di Mataram sudah ramah terhadap wisatawan Muslim. Hotel Golden Tulip

Bagian 1: Apa Gerangan Itu Wisata Halal?

Akhir-akhir ini Pemprov NTB dan Kemenpera sangat giat mengembangkan wisata halal di Indonesia dan lebih-lebih di NTB. Mungkin banyak yang bertanya-tanya mengapa pemerintah menyibukkan diri dengan wisata halal dan mengapa tidak fokus membenahi dan mempromosikan wisata ‘umum’ yang sudah dimiliki. Tulisan ringkas ini mencoba memahami apa itu wisata halal, mengapa wisata halal itu penting bagi NTB, mengapa NTB perlu mengembangkan wisata halal dan apa saja peluang dan tantangan pengembangan wisata halal di NTB.

Apa Sih Wisata Halal Itu?

Tentu saja pertama-tama kita perlu memahami apa gerangan wisata halal itu. Definisi pertama tentang wisata halal adalah sebagaimana yang dimaktub dalam  Pergub NTB 51/2015 di mana wisata halal diperikan sebagai kegiatan kunjungan wisata dengan destinasi dan industri pariwisata yang menyiapkan fasilitas produk, pelayanan, dan pengelolaan pariwisata yang memenuhi unsur syariah.

Definisi kedua adalah yang disodorkan oleh akademisi M. Battour dan M. Nazari Ismail (2015)  yang memerikan wisata halal sebagai “semua obyek atau tindakan yang diperbolehkan menurut ajaran Islam untuk digunakan atau dilibati oleh orang Muslim dalam industri pariwisata.  Definisi ini memandang hukum Islam (syariah) sebagai dasar dalam penyediaan produk dan jasa wisata bagi konsumen sasaran yang utamanya orang Islam, seperti hotel halal, resort halal, restoran halal dan perjalanan halal. Menurut definisi ini, lokasi kegiatan tidak terbatas di negara-negara Muslim semata. Jadi, ini mencakupo barang dan jasa wisata yang dirancang untuk pelancong Muslim di negeri-negeri Muslim dan non-Muslim. Selain itu, definisi ini memandang bahwa tujuan perjalanan tidak harus bersifat keagamaan. Jadi perjalanan bisa dengan motivasi wisata umum.

Nah, dalam konteks NTB, bisa dikatakan semua destinasi yang ada di NTB bisa dikemas menjadi destinasi halal dan wisata halal itu bukan sekadar Islamic Center atau pondok-pondok pesantren; atau situs-situs keramat dan relijius. Di sini lebih ke soal apa yang dibutuhkan wisatawan Muslim saat berkunjung ke Lombok dan Sumbawa; dan bukan obyek wisata apa yang harus NTB persiapkan untuk wisatawan Muslim. Ini karena wisatawan Muslim memiliki kebutuhan-kebutuhan yang berbeda dengan wisatawan non-Muslim, misalnya, dalam berkunjung ke pantai. Mereka mengharapkan untuk bisa mengunjungi pantai yang terpisah antara wisatawan laki-laki dan perempuan sehingga para wisatawan perempuan bisa dengan leluasa bermain dan berenang di pantai tanpa merasa risih.

Hal-hal itulah yang menjadi 6 kebutuhan pokok pelancong Muslim yang diidentifikasi dalam studi Crescent Rating di 130 negara yakni 1) Makanan Halal Bagi traveler muslim;  2) Fasilitas salat; 3) Kamar mandi dengan air untuk wudhu; 4). Pelayanan saat bulan Ramadan; 5) Pencantuman label non halal; dan 6) Fasilitas rekreasi yang privat.

Lalu, mengapa pariwisata NTB melirik wisata halal? Apa pentingnya? (Bersambung)

Tags: ,
About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono