media sosial u travel

Bagian 1: Mengapa Agen Mengabaikan Youtube dan Instagram?

Kasan Mulyono

Mataram, LombokInsider.com – Facebook tak bisa dipungkiri mendominasi pangsa pasar media sosial di Indonesia dan dunia. Dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 255 juta pada akhir 2015 (BPS, 2016) terdapat 82 juta pengguna Facebook aktif (Kompas, 2016). Ini berarti 32% penduduk Indonesia dari segala umur adalah pengguna Facebook. Dengan kata lain, satu dari tiga penduduk Indonesia adalah pengguna Facebook. Terdapat kenaikan 6% dari 2014 saat pengguna FB hanya 77 juta.

Namun, berdasarkan penelitian terbaru yang dirilis oleh website pencari perjalanan Hipmunk awal tahun ini, menunjukkan bagaimana generasi milenial (kelahiran 1980 – 2000) mencari informasi untuk perjalanan wisata mereka. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa mereka mendapatkan inspirasi perjalanan mereka 44% dari Youtube dan 28% dari Instagram. Demikian tulis Jamie Biesiada dalam kolomnya di Travel Weekly edisi 6 Juni 2016.

FB Mendominasi. Halaman FB Wonderful Indonesia.

FB Mendominasi. Halaman FB Wonderful Indonesia.

“Meskipun wisata merupakan produk yang paling visual, namun sungguh mencengangkan bahwa hanya sedikit agen perjalanan yang menggunakan flatform media sosial yang dibangun khusus untuk foto dan video. Mereka masih fokus pada Facebook,” kata Jamie Biesiada.

Kehadiran agen perjalanan dalam promosi via Facebook telah meningkat, namun mereka sangat kurang menggunakan flatform media sosial yang lain seperti Instagram dan YouTube, yang karena sifat bawaannya bersifat visual sangat cocok untuk produk-produk perjalanan dan bisa menjadi alat penarik penjualan yang hebat, kata Jamie.

RoI yang Kurang Jelas

“Secara keseluruhan, media sosial dalam landskap media pemasaran telah secara resmi menjadi kesempatan bagi industri perjalanan karena dua alasan,” kata Sam McCully, vice president of marketing di Avoya Travel.

Lebih lanjut McCully mengatakan bahwa kesempatan potensial tidak terbatas pada generasi milenial, karena semakin banyak pelawat dari pelbagai jenjang umur menggunakan media sosial selama proses perjalanan mereka, dari tahap perencanaan dampai mereka pulang ke rumah. “Ini merupakan kesempatan yang perlu diraih,” kata McCully.

Michael Nobiletti, director of education for Millennials in Travel, kelompok dagang untuk agen perjalanan yang didirikan pada 1975, mengatakan bahwa Instagram secara khusus seharusnya lebih banyak dipergunakan.

“Instagram betul-betul kurang banyak digunakan padahal Instagram memiliki bahan baku yang sangat cocok untuk industri perjalanan dan informasi perjalanan merupakan jenis informasi yang utamanya diperbagikan di Instagram,” kata Michael Nobiletti.

“Jujur saya katakan bahwa saya kira Instagram merupakan brosur perjalanan yang baru. Orang masuk ke Instagram untuk mendapatkan inspirasi untuk melakukan perjalanan. Instagram secara lahiriah sudah visual, secara lahiriah bersifat sosial. Namun sayangnya tidak memiliki ROI (return on investment) yang jelas, sehingga sering diabaikan,” jelas Michael.  (Bersambung)

 

Sumber:

http://www.travelweekly.com/Travel-News/Travel-Technology/Focus-Social-Media-Missing-big-picture

 

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono