Mataram, LombokInsider.com – Keterlibatan masyarakat dalam usahanya berhasil membuat Bandar Sambal Lombok menembus pasar nasional, hal ini membuat Askar DG Kamis sebagai CEO Bandar Sambal merasa perlu untuk lebih melibatkan masyarakat, sehingga masyarakat dapat ikut menikmati kue kesuksesan itu.

Keterlibatan Masyarakat

Askar mengungkapkan hal ini kepada LombokInsider.com di rumah produksi Bandar Sambal, Komplek Orian View, Jl. Arya Banjar Getas, Ampenan. “Usaha kami ini adalah usaha milik semua, berbasis masyarakat. Saat ini usaha apapun yang saya lakukan selalu untuk masyarakat, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dari usaha ini,” ungkap Askar.

“Saat ini kami memiliki mitra kerja, masyarakat di daerah Lendang Nangka dan Nyiur Tebel. Mereka produksi bumbu masakan dan sambal, juga produksi lainnya, kami bantu dalam hal kemasan dan desain modern, sehingga nantinya bisa masuk kedalam platform dari Bandar Sambal,” jelasnya. Askar mengatakan begitu banyak potensi yang bisa dilakukan oleh masyarakat di desa-desa yang perlu dibantu untuk pengembangannya.

“Kami memang sangat ingin melibatkan semua orang dalam usaha ini, contohnya untuk penyediaan bahan baku seperti belut atau lindung dalam bahasa sasak. Jika satu UMKM membutuhkan sekitar 5 kilogram belut/hari saja, dengan harga belut yang mencapai Rp60-70 ribu per kilonya, dapat dibayangkan berapa banyak belut yang diperlukan dalam sebulan,” ujarnya.

Askar mengakui ada beberapa kendala awal atau keterbatasan saat merintis usahanya ini, terutama dalam hal branding dan modal. “Alhamdulillah berkat bantuan seluruh pihak, Bandar Sambal berhasil meraih beberapa penghargaan, termasuk salah satunya masuk dalam Katalog Food Startup Indonesia dari Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf),150 usaha rintisan makanan yang hanya tersedia di Istana Kepresidenan,” kata Askar.

Mengikuti Kompetisi Food Startup

PRODUK. Varian Sambal yang ditawarkan Bandar Sambal Lombok.

Bandar Sambal juga sempat ikut dalam kompetisi nasional, Food Startup yang dilaksanakan di Bali pada Mei lalu oleh dari Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf). Menurut Askar pihak BeKraf sangat banyak membantu dalam hal Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) dan juga masukan arahan, serta pelatihan kepada UMKM di NTB, termasuk Bandar Sambal.

FoodStartup Indonesia adalah acara yang diselenggarakan Bekraf untuk mendukung ekosistem subsektor kuliner di Indonesia. FoodStartup terdiri dari pelaku bisnis atau produk kuliner selama satu hingga lima tahun, mempunyai ide kreatif, memiliki inovasi produk, bisnis model, serta pemasaran, rekam jejak transaksi, mempunyai keunggulan dan tim yang tangguh dan berpotensi dikembangkan dalam skalabilitas dengan pertumbuhan yang tinggi serta menarik pemilik modal.

Askar berharap kedepannya usaha Bandar Sambal ini akan menjadi milik seluruh warga NTB. “Semoga nantinya branding Bandar Sambal akan menjadi branding lokal Lombok yang menembus pasar nasional bahkan mancanegara,” harapnya.

Saat ini pelanggan Bandar Sambal memang telah menyebar hampir di seluruh kota di Indonesia, bahkan produk ini telah sampai ke Malaysia dan Korea melalui wisatawan yang datang ke Lombok.

Ada beberapa varian produk sambal yang ditawarkan yakni, Sambal Lindung, Cumi, Bajo dan Kuda. Informasi lebih lengkap silakan kunjungi FB dan IG Bandar Sambal, atau bisa juga mengunjungi laman websitenya di www.bandarsambal.com. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com