Mataram, LombokInsider.com – Berawal kegemarannya corat-coret sejak masih menjadi pelajar di bangku SMP-SMA, hal ini membuat bakat seni dalam diri Lalu Muhammad Syaukani semakin terasah. Bahkan kini, beberapa karyanya sudah melenggang ke luar negeri alias go internasional, banyak pelanggannya yang berasal dari Belanda, Jerman, Prancis, Kanada, Singapura dan Dubai baik yang hobi koleksi lukisan maupun dijual lagi di galeri yang mereka miliki di luar negeri, selain itu hasil karyanya banyak juga dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia. Siapa sangka pelukis asli Lombok yang sekarang terkenal ini, awalnya saat remaja membuka percetakan bersama beberapa orang teman pada awal 1980an, menurutnya saat itu belum ada percetakan dengan mesin printer seperti sekarang, sehingga segala sesuatunya dikerjakan secara manual.

Berawal dari Percetakan

Lalu Syaukani dengan Latar Belakang Lukisan Angel yang Fenomenal.

Lalu Syaukani dengan Latar Belakang Lukisan Angelnya yang Fenomenal.

“Waktu itu belum sistem komputer seperti sekarang, semuanya manual, setiap ada acara besar kelompok kami selalu dapat proyek pengerjaan baliho, papan reklame, billboard, spanduk dan lain-lain,” kenang Syaukani, saat ditemui LombokInsider.com dirumahnya, Jl. Leo no 16, Ampenan. Karena keahliannya, Syaukani selalu kebagian membuat sketsa dan juga mengairbrush ketika sketsanya sudah final, dari situlah perlahan namun pasti bakat seninya semakin terasah membuatnya merasa bahwa inilah dunianya. Berbagai lomba melukis tingkat daerah diikutinya ketika masih SMP-SMA dan selalu mendapat Juara I. Namun keinginannya untuk lebih mendalami bakat di bidang seni mendapat tentangan dari kedua orang tuanya, mereka menginginkan Syaukani belajar akademis.

“Saat itu sebenarnya saya diterima di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tapi dipanggil pulang ke Mataram oleh orang tua, untuk ikut tes dan ternyata lulus di Fakultas Hukum UNRAM,” jelas lulusan SMA 1 Mataram 1984 ini. Sebagai wujud bakti kepada orang tua, Syaukani pun menurutinya. Namun karena dorongan darah seni dalam dirinya yang kuat, walaupun sudah kuliah di Fak. Hukum, sambil kuliah Syaukani tidak berhenti untuk terus belajar secara ototdidak. Syaukani mengaku bahwa guru lukisnya yang pertama adalah I Wayan Pengsong, seniman senior Lombok yang telah tutup usia beberapa tahun lalu. “Selain sebagai guru beliau juga sudah seperti ayah bagi saya, secara teori dan teknik karya yang saya hasilkan sangat terpengaruh olehnya,” kata pria kelahiran 1966 ini, bahkan ia mengaku sudah dianggap keluarga oleh mendiang Pengsong dan keluarganya.

Bekerjasama dengan Temannya di Pamour Galeri Senggigi, Memamerkan Hasil Karyanya.

Hasil Karyanya Tersedia di Pamour Galeri Senggigi, Jl. Raya Senggigi.

Pengaruh Perasaan dan Pikiran

Biasanya setiap melukis Syaukani selalu melampiaskan apa yang ada pada perasaan hati dan pikirannya, juga dipengaruhi oleh keadaan sosial masyarakat yang sedang hangat untuk diungkapkan melalui lukisannya. “Saya selalu menumpahkan perasaan dan pikiran tentang masalah pribadi, kondisi sosial dimasyarakat, lingkungan dan juga kearifan keatas kanvas,” jelasnya. Hatinya sering merasa galau ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan yang seharunsya, hal ini sering menjadi inspirasi baginya untuk mulai memvisualisasikannya menjadi lukisan, menurutnya insting ini didapatnya ketika menimba ilmu hukum di UNRAM, dirinya menjadi peka terhadap hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Merambah Dunia Lukis Profesional

Setelah lulus dari Fak. Hukum Unram, Syaukani pun mulai fokus kembali ke lukisan, salah satu langkah pertamanya masuk ke dunia lukis professional dimulai saat mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Galeri Nasional dengan tema ‘Tepian Masa’ dan saat itu dia terinspirasi oleh rencana pembangunan Lombok Internasional Airport (LIA) di Kabupaten Lombok Tengah. Syaukani yang menganut aliran Impresionis Dekoratif, mengaku pada waktu itu sebelum melukis dirinya melakukan riset ke Disbudpar Loteng untuk menggali informasi terkait rencana pembangunan LIA disana, hal ini tentunya untuk menguatkan konsep lukisan yang akan ikut dilombakannya, yang akhirnya pada waktu itu menang dan diundang untuk datang mengikuti pameran di Galeri Nasional Indonesia. Sejak itu Syaukani sering diundang untuk mengikuti pameran lukisan di seluruh Indonesia, seperti baru-baru ini di Papua, Manado dan Bandung, dia juga sering pameran bersama di Taman Budaya dan Museum NTB.

Angel’ Karya Fenomenalnya

Beberapa Hasil Karyannya juga Tersedia di Rumahnya.

Beberapa Hasil Karyannya juga Tersedia di Rumahnya.

Selama menjadi perupa/pelukis professional tercatat sudah ratusan karya dihasilkannya, tapi ada satu yang sangat laris manis dan booming di pasaran yakni ‘Angel’. “Lukisan ini banyak serinya, awalnya dari kesedihan hati yang memuncak saat ibu meninggal pada 2005 lalu, untuk mengenang segala kebaikan dan pengorbanan seorang ibu muncullah lukisan bertema Angel,” tutur suami dari Evi Shantiavi ini. Syaukani mengaku tidak percaya karena begitu dilempar kepasaran lukisan ini mendapat respon yang luar biasa khususnya penggemar lukisan dari luar negeri, jumlah lukisannya yang bertema angel sendiri telah mencapai 80an buah. Untuk setiap lukisannya dibandrol dengan harga Rp3,5-4juta untuk ukuran 40x40cm, sedangkan ukuran 120x140cm bisa mencapai Rp20 juta. Beberapa karyanya juga terpampang di Pendopo Gubernuran dan Walikota, Bank BPD, Bukopin dan Lombok International Airport (LIA) ruang VIP A, Syaukani juga sering mengadakan pameran tunggal di hotel-hotel dan hasil karyanya selalu terpampang di Pamour Galery, Jalan Raya Senggigi atau dirumahnya.

Sebagai Wujud Kepedulian Sosialnya, Syaukani dan Teman-temannya Membentuk Yayasan 'Sopo Angen'.

Sebagai Wujud Kepedulian Sosialnya, Syaukani dan Teman-temannya Membentuk Yayasan ‘Sopo Angen’.

Kegiatan Seni dan Sosial di Masyarakat

Meski sibuk melukis Syaukani tidak serta melupakan lingkungannya, dalam kehidupan sosialnya, bersama beberapa perupa lainnya dan bekerjasama dengan Global Develop Associate dari Kanada. “Kami membentuk sebuah yayasan yang diberi nama ‘Sopo Angen’ yang berarti satu rasa, dimana yayasan ini bergerak dibidang sosial kemasyarakatan non profit, seperti menggiatkan pemberantasan buta aksara (kejar paket), pengobatan gratis, penjaringan bakat dan pembinaan anak-anak SD-SMP seluruh Lombok yang memiliki bakat melukis,” pungkas bapak dua putra ini.

Selain itu dalam bidang organisasi daerah, Syaukani yang duduk sebagai koordinator pada divisi seni rupa pada Dewan Kesenian NTB bersama dengan Zaini Muhammad, selalu aktif mengajak teman-teman seprofesinya untuk giat mengadakan pameran dan kegiatan seni lainnya untuk lebih mengenalkan dan mempopulerkan seni rupa kepada masyarakat. Karena lewat karya lukis mereka dapat menterjemahkan segala masalah yang ada di sekitarnya, inilah wujud kepedulian para perupa terhadap fenoma daerahnya dan bangsa Indonesia saat ini. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com