Sembalun, LombokInsider.com – Sejarah mencatat bahwa dulunya Sembalun memang menjadi pusat kebun kopi di wilayah Lombok. Karena hampir setiap penduduk, di halaman rumahnya pasti menanam kopi, bahkan rata-rata memiliki kebun kopi hingga 2 hektar. Hal ini disampaikan oleh Rusmala, koordinator pengumpul kopi yang ada di Sembalun. Selain itu bersama-sama dengan petani lainnya Rus panggilan akrabnya, bercita-cita mengangkat nama Kopi Juang Sembalun hingga ke taraf tertinggi.

Berawal dari semakin banyaknya konsumen penggemar kopi, khususnya saat ada acara adat atau begawe di kampung-kampung, Rusmala berinisiatif untuk mengembangkan usaha kopi rumahan di Sembalun yang telah lama terhenti. “Usaha ini baru kami mulai sekitar 2014, itupun hanya dengan membeli dari para petani di Sembalun. Hingga saat ini kami baru memiliki petani binaan sebanyak 12 orang,” jelasnya. Kopi Sebalun sempat terhenti

Perjuangan panjang ini pun membuahkan hasil, dengan modal awal sekitar Rp4,5 juta Rusmala membeli kopi dari para petani, kemudian mengolahnya secara tradisional serta berusaha mengemasnya dengan baik, sehingga berhasil terjual Rp15 juta. “Sejauh ini, pada penglahan pertama sudah pernah ada pesanan dari Jakarta dan Singapura, itu yang berhasil terjual hingga Rp15 juta. Untuk distribusi sejauh ini masih banyak di daerah sekitar Sembalun, bahkan belum banyak beredar di Mataram,” ujarnya.

“Tanaman kopi di Sembalun ini memang sudah melegenda, konon bahkan sebelum booming usaha hortikultura, kopi sudah ditanam di Sembalun ini. Mengapa diberi nama Kopi Juang, karena merupakan hasil perjuangan para petani untuk dapat merebut kembali tanah yang dulu pernah dimilikinya sejak 1964,” ungkap Rus.

“Awalnya pada sekitar 1964, para petani menerima120 ha tanah yang disiapkan berupa Kredit Usaha Tani (KUT) oleh pemerintah,” ucap Rusmala, mengawali obrolan. Jenis kopi yang ditanam di tanah seluas 120 ha kebanyakan jenis Arabica.

“Dulu sekitar 70 orang petani di Sembalun memperoleh tanah bantuan berupa KUT, setiap orang mendapat sekitar 1-2 hektar. Namun karena di tahun ketiga para petani mengalami gagal panen pertama, mereka harus rela membayar kredit dengan tanah pinjaman tersebut,” kata Rusmala. “Kasian para petani harus kehilangan tanahnya,” pungkasnya.

Kopi Juang Sembalun, terdiri dari 2 jenis kemasan seberat 200 gram, yang pertama jenis Arabica dijual dengan harga Rp50 ribu, sedangkan jenis Liberica Rp40 ribu, untuk mendapatkan produk tersebut bisa menghubungi Rusmala di nomor 087863458734, email: rusmala1185@gmail.com, FB: balenta coffee, Twitter: @rusmalasembalun. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com