Mataram, LombokInsider.com – Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) NTB, HL. Moh Faozal akhirnya memberikan klarifikasi tentang masalah yang terjadi antara dirinya dengan seorang jurnalis berinisial HB, yang terjadi usai pembukaan Pesona Khazanah Ramadhan, di Masjid Hubbul Wathan, komplek Islamic Center, Mataram pada Kamis malam (17/5) lalu.

“Memang sempat terjadi kesalahpahaman dan saya pikir masalahnya sudah selesai. Tapi kemudian ini menjadi masalah ketika ini dibesar-besarkan, bukan lagi ke masalah utamanya, sudah diluar substansi. Bahkan sudah muncul dugaan fitnah kepada saya,” tegas Faozal, Senin (21/5), saat menggelar jumpa pers terkait pelaksanaan PKR 2018, di kantor Dispar NTB.

Saat menggelar jumpa pers tersebut, Faozal didampingi Wakil Ketua Koperasi Assosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Indonesia (Amphuri), Budi Firmanyah. Amphuri merupakan organisasi penyelenggara Umroh Haji Travel Fair di arena PKR 2018, dimana kasus kesalahpahaman antara Kadispar dan oknum wartawan itu bermula.

Faozal menjelaskan, saat itu Kamis malam (17/5) usai seremoni pembukaan event PKR 2018 di kompleks Islamic Center NTB, HB mendatangi dirinya dan menanyakan soal media promosi Umroh Haji Lombok Travel Fair yang belum terpasang.

“Setelah acara pembukaan PKR selesai, tiba-tiba saya dihampiri dan dia bilang Dispar harus tanggung jawab ini (soal media promosi), ya saya tanya apa masalahnya? Kalau soal Travel Fair itu bukan urusan kami karena pelaksananya ada Amphuri dan Republika, tapi karena dia ngotot ya saya bilang oke lah PKR ini gawenya Dispar, ya Dispar akan tanggungjawab,” katanya.

Namun, menurut Faozal, HB tetap mendesak bertanya dengan nada yang tinggi, hingga akhirnya ia sempat mendekat dan menepuk bahu HB agar tenang.

“Kalau terjadi kesalahpahaman malam itu memang iya, tapi tidak ada sampai saya memukul seperti yang disebarkan oleh dia di WAG. Emang ada tampang saya tukang pukul? Kalau saya sampai memukul silakan visum dong. Begini, seandainya ada wartawan bertanya pada saya dengan cara yang baik dan suka cita, tentu saya jawab dengan baik dan suka cita juga. Tapi ini kan cara dia bertanya sudah beda, ya anda bisa pikir dan nilai sendiri lah,” jelas Faozal.

Selain soal media promosi, papar Faozal, saat itu HB juga menanyakan keluhan sejumlah peserta travel fair yang merasa rugi lantaran tidak ada pengunjung yang masuk dan melihat stand mereka.

“Itu juga ditanyakan. Padahal semua tahu acara pembukaan selesainya sekitar pukul 12 malam, jadi tidak memungkinkan kami arahkan lagi tamu undangan meninjau arena Travel Fair. Kami pikir ya besok kan masih ada waktu,” lanjutnya.

Lagipula, papar Faozal, Kamis malam itu belum semua peserta Travel Fair hadir, karena sebagian lainnya masih dalam perjalanan ke Mataram. Ia mengaku, tadinya berpikir bahwa masalah Kamis malam itu tidak berbuntut panjang. Sebab, saat itu HB juga sudah diajak berbicara baik setelah emosi sama-sama mereda.

Toh, masalah akhirnya berbuntut juga, setelah HB melaporkan kejadian tersebut ke organisasi pers, AJI dan IJTI perwakilan NTB. Pada Sabtu (19/5) AJI dan IJTI NTB pun merilis sikap organisasi menanggapi kasus yang menimpa HB.

Meski baru menerima laporan sepihak dari HB, AJI dan IJTI menyarankan kasus itu agar diselesaikan dengan jalur mediasi. Selain menilai kejadian tersebut hanya dipicu kesalahpahaman, mediasi juga menjadi jalan terbaik mengingat saat ini bulan Ramadhan.

Pernyataan sikap AJI dan IJTI yang dirilis terpisah itu, kemudian dikutip sejumlah media massa, dimana menurut Faozal, ruang dan porsi klarifikasi untuk dirinya tidak tersedia. “Jadi soal pernyataan sikap organisasi pers itu, saya juga tidak dimintai klarifikasi. Seolah saya sudah berada dalam posisi yang salah,” katanya.

Namun demikian Faozal mengaku sudah melupakan masalah ini, terutama terkait kesalahpahamannya dengan HB. Klarifikasi melalui jumpa pers, Senin (21/5), menurut dia agar masyarakat NTB dapat memahami persoalan yang terjadi sebenarnya, dari kedua belah pihak.

“Saya pribadi sudahlah, kita saling memaafkan. Kalau memang saya mau perpanjang ya bisa saja saya tempuh jalur hukum, karena belakangan muncul berita-beritan yang memojokan saya dan keluar dari substansi masalah sebenarnya,” tegas Faozal.

Hanya saja, Faozal mengaku tengah berkonsultasi dengan sejumlah pengacara, terkait dugaan penyebaran fitnah dan pencemaran nama baik yang belakangan mencuat pasca kesalahpahaman tersebut. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com