Mataram, LombokInsider.com – Keputusan Mahkamah Agung (MA) yang memvonis Baiq Nuril 6 bulan penjara dan denda Rp500 juta, menimbulkan banyak simpati di kalangan masyarakat, keputusan tersebut dianggap tidak adil dan justru merugikan Baiq Nuril yang sebenarnya adalah korban.

Terkait hal ini, pengacara senior NTB DR. Ainuddin SH, MH, mengatakan prihatin dan siap membantu Baiq Nuril.

“Saya sangat prihatin dengan apa yang menimpa Baiq Nuril dan siap membantunya, tanpa perlu dibayar,” katanya di Mataram. Menurutnya, ada yang janggal dengan keputusan MA tersebut.

“Secara hukum, setiap orang berhak untuk melaporkan tindak kejahatan dan jika yang melaporkan justru dianggap bersalah, bagaimana kedepannya jika setiap pelecehan yang terjadi malah korbannya dianggap bersalah,” jelas Ainuddin.

Tidak hanya Ainuddin, bahkan pengacara kondang Hotman Paris juga menyatakan siap membantu Baiq Nuril untuk melanjutkan kasusnya ke tahap Peninjauan Kembali (PK).

“Nurani kami berdua sama dalam melihat ketidakadilan yang terjadi, apalagi sekelas Hotman Paris, intinya kami siap untuk membantu Bu Nuril,” ungkap Ainuddin. Keseriusan Hotman untuk membantu juga ditunjukan melalui rekaman video di akun pribadi media sosialnya.

Kasus Baiq Nuril berawal saat ia masih menjadi tenaga honorer di salah satu SMA Negeri di Mataram, ia sering mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oknum kepala sekolah tempatnya bekerja. Karena seringnya pelecahan terjadi, Baiq Nuril akhirnya memberanikan diri untuk merekam percakapan yang dilakukan.

Melalui akun Twitternya, SAFENet lembaga yang mendampingi Baiq Nuril menjelaskan pelecehan seksual yang dialami Baiq Nuril bukan hanya sekali. Nuril menyimpan rekaman tersebut dan tidak menyebarluaskan karena takut diberhentikan.

Justru rekan kerja Baiq Nuril, yang kemudian meminta rekaman tersebut dan menyebarkannya ke Dinas Pendidikan Kota Mataram dan lainnya. Kepala sekolah itu akhirnya dimutasi dari jabatannya.

Karena tidak suka rekaman percakapannya tersebar, Baiq Nuril dilaporkan ke polisi.

Kasus tersebut kemudian diproses di Pengadilan Negeri Mataram pada 2017 lalu. Namun Pengadilan Negeri Mataram memutuskan Baiq Nuril tidak bersalah. Ia tidak terbukti menyebarkan percakapan tersebut.

Semua saksi ahli mengatakan jika tuduhan atas Baiq Nuril mentransfer, mendistribusikan, atau menyebarkan rekaman percakapan asusila sama sekali tidak terbukti.

Saat itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan banding ke MA dan Baiq Nuril didakwa melakukan pelanggaran Pasal 27 Ayat 1 Pasal 45 Ayat 1 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

MA mengabulkan permohonan kasasi JPU kepada Kejaksaan Negeri Mataram dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Mataram yang sebelumnya menyatakan Baiq Nuril bebas.

Dalam putusan tersebut, Baiq Nuril dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana ITE dan terancam enam bulan penjara serta denda Rp500 juta. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com