Mataram, LombokInsider.com – Waktu terasa begitu cepat berlalu, sepertinya baru saja usaha kue yang dirintis Hermanto dan Hapsah istrinya pada 2005 lalu dimulai, ternyata sekarang sudah berlalu 11 tahun. Toko kue 3&4 berawal dari rasa kepedulian Hapsah pada saudara-saudaranya, yang pada saat itu ditinggal oleh ayah mereka meninggal dunia. Rasa empatinya kepada ibu dan saudaranya membuat Hapsah berinisiatif untuk membuat usaha kue rumahan, awalnya bermodal tepung terigu 1 kg hingga menghasilkan sekitar 50 buah donat yang dijual sekitar rumahnya di kawasan Seruni.

Berawal dari Donat

Kesibukan yang Terjadi Toko Kue 3&4 Setiap Harinya.

Kesibukan yang Terjadi Toko Kue 3&4 Setiap Harinya.

“Kami sekeluarga pindah ke Lombok pada sekitar 1998 dari Kalimantan, sebelumnya bapak (Hermanto suaminya, red) tugas di perusahaan Batubara. Pada 2005 usaha ini kami mulai, setelah bapak saya meninggal dan adik-adik masih kuliah, dari situ saya mulai berpikir untuk membantu ibu melanjutkan tanggung jawab bapak, membantu biaya sekolah mereka,” ungkap Hapsah pada LombokInsider.com saat ditemui di toko kuenya di Jalan Majapahit no.35A. Dari 50 buah donat yang dititipkan di warung tetangga, ternyata usaha kecilnya ini mendapat respon positif, kemudian berlanjut ke warung-warung lainnya dan kantin-kantin di sekolah, hingga mencapai 750 buah donat setiap hari yang harus diproduksinya, dengan harga Rp1000,-/buah.

“Memproduksi 15 kg tepung menjadi 750 buah donat cukup merepotkan, jalan beberapa tahun kemudian saya hamil lagi anak terakhir yang ketujuh, jadi sempat istirahat selama hamil sampai melahirkan,” kenangnya. Usahanya menjual kue pun berlanjut dengan membuka warung dirumah, seiring bayinya telah semakin besar. “Alhamdulillah sekitar 2008 ada yang menawarkan tempat di pinggir Jl. Majapahit ini, walaupun sedikit mahal, kami memberanikan diri membelinya,” lanjutnya. Sejak membuka tempat di Jl. Majapahit itulah usaha mereka mulai berkembang, dengan menggunkan nama, Toko Kue 3&4, bahkan yang awalnya hanya satu lokal toko, kini berkembang jadi tiga lokal.

Kasir di Toko Kue 3&4 Sibuk Melayani Pembeli, yang ramai Terutama dari Pagi Hingga Siang.

Kasir di Toko Kue 3&4 Sibuk Melayani Pembeli, yang ramai Terutama dari Pagi hingga Siang.

Jenis Kue dan Pelanggan

Toko Kue 3&4 ini menurut Hapsah diambil dari jumlah putra-putri mereka, dimana putrinya sebanyak 3 dan putranya 4 orang, hasil pernikahannya dengan Hermanto. Saat sekarang toko kuenya menjual hingga ratusan jenis kue baik yang basah maupun kering, mempekerjakan hingga 12 orang karyawan yang membantunya di rumah maupun di toko. “Karyawan yang membantu kami ada 12 orang dirumah dan toko, itupun masih terasa kurang ketika banyak pesanan,” jelas Hapsah. Sementara untuk pelanggan menurutnya kebanyakan dari instansi pemerintah dan swasta, universitas, hotel, mahasiswa dan ibu-ibu rumah tangga, Hapsah mengaku tidak memiliki manajemen layaknya toko kue besar, mengalir saja seperti air.

Dari seratus jenis kue ini, tidak semua dibuat sendiri olehnya, tapi banyak juga titipan dari orang, Hapsah merasa keadaannya yang sekarang dimana pesanan ramai setiap harinya pastilah tidak luput dari doa bersama dari orang-orang yang ikut menitipkan kue ditokonya. “Alhamdulillah setiap hari selalu ada pesanan kue, kadang bahkan hingga ratusan kotak yang harus disiapkan, toko kami buka setiap hari dari pukul 07.00-21.00,” imbuhnya. Dalam sehari toko kue 3&4 dapat menjual hingga ratusan kue dari berbagai macam jenis, baik dari pesanan partai besar kotakan, maupun pembeli yang datang membeli dalam partai kecil.

Berawal dari 50 buah Donat, Kini Toko Kue 3&4 Menjual hingga Ratusan Jenis Kue.

Berawal dari 50 buah Donat, Kini Toko Kue 3&4 Menjual hingga Ratusan Jenis Kue.

Suka duka dan Cabang Baru

Saat ini Hermanto dan Hapsah merasakan kesibukannya meningkat apalagi sejak akhir 2013 lalu mereka membuka cabang baru di daerah Gerung, Lombok Barat. “Jam 07.00 pagi biasanya antar kue ke Gerung, apalagi kalo ada pesanan, berangkat harus lebih awal, kembali ke toko di Majapahit sudah ditunggu pekerjaan berikutnya, begitu terus setiap pagi,” jelas Hermanto yang sebelumnya bekerja pada perusahaan tambang di Sumbawa Barat. Selama sebelas tahun menjalani usaha ini banyak suka duka yang mereka rasakan, terutama ketika banyak pesanan kue, dimana pemesannya sudah datang ke toko namun pesanannya belum siap.

“Selama ini kami berusaha untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan jadi bagaimana caranya pesanan harus sesuai dan tepat waktu dengan keinginan mereka,” jelas Hermanto. Seperti waktu operasional toko, Hermanto mencontohkan, dulunya mereka libur pada hari Minggu, namun karena permintaan konsumen, akhirnya sekarang mereka buka setiap hari tanpa libur, hal ini tentunya untuk memberikan rasa nyaman dan kepuasan bagi para pelanggan setia mereka. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com