Praya, LombokInsider.com – Bagi penggemar nasi bungkus, nasi yang satu ini perlu dicoba, tidak seperti nasi bungkus lainnya, nasi ini memiliki nama yang cukup bagus jika dilihat dari segi branding/merek. Nasi Terbang, awalnya hanya nasi kaput biasa pada 2015 lalu, namun seiring perkembangannya dan banyaknya pelanggan, H. Muzakir pemilik usaha nasi bungkus ini mere-branding nasinya menjadi Nasi Terbang. Latar belakang penamaan ini menurutnya karena seringnya para tenaga kerja Indonesia asal Lombok, khususnya Lombok Tengah (Loteng), yang membawa nasi ini untuk bekal dalam perjalan terbangnya ke negeri seberang.

WISATA. H. Muzakir Biasa Menjajakan Nasi Terbang di Destinasi Wisata, Salah Satunya Desa Wisata Sade.

Nasi Terbang ini terdiri dari beberapa jenis yakni, Takilan Cupak Gerantang, Nasi Merangkat, Turun Tangis dan Kobra Piton (Komak Beragi Campur Pindang Tongkol). Desa Gemel, Puyung-Loteng menjadi pusat tempat pembuatan Nasi Terbang ini, menurut H. Muzakir Nasi Terbangnya sudah beredar kemana-mana, bahkan keluar negeri. “Nasi Terbang ini sering dibawa oleh TKI yang berangkat baik ke Saudi maupun Malaysia, rata-rata satu orang bisa membawa 10 bungkus,” jelas Muzakir, saat ditemui LombokInsider.com disela-sela liputan rangkaian Festival Pesona Bau Nyale yang lalu.

4 VARIAN. Salah Satu Contoh Isian Nasi Terbang yang Dijual H. Muzakir.

Muzakir mengatakan bahwa biasanya nasi yang dibawa oleh para TKI tahan hingga 2 hari karena lauk dan nasinya dipisahkan, selain isi dan rasanya yang khas, nasi yang terbungkus daun pisang ini juga memiliki tingkat kepedasan yang berbeda, disesuaikan dengan selera pelanggan. Selain sudah Go Internasional, kehebatan lain dari nasi ini adalah telah bersertifikasi halal, berdasarkan pengakuan H. Muzakir. Hal ini tentunya menjadi nilai tambah Nasi Terbang dikalangan pelanggannya. H. Muzakir biasa berkeliling dengan motornya, menjajakan Nasi Terbang ke destinasi-destinasi wisata di Loteng, seperti Desa Sade, Ende bahkan hingga ke Pantai Kuta.

BRANDING. Yang Khas dari Nasi Terbang H. Muzakir adalah Semuanya di Bungkus dengan Daun Pisang dan Diberi Merek Dagang.

Dengan 4 varian rasa dan tingkat kepedasan berbeda, Nasi Terbang ini sudah begitu terkenal dikalangan masyarakat Lombok, khususnya Loteng. Sepintas nasi ini mirip dengan nasi Puyung, namun menurut H.Muzakir, jenis lauk dan cara pengolahannya agak berbeda. “Dalam sehari kami bisa memproduksi ratusan bahkan ribuan bungkus Nasi Terbang, tergantung dari banyaknya pesanan. Seperti hari ini, menjelang pelaksanaan Bau Nyale kami mendapat pesanan sebanyak 1500 bungkus, belum lagi yang dijual selain pesanan,” akunya. Selain sudah terbang keluar negeri, nasi ini juga banyak mendapat pesanan di dalam negeri, juga banyak dipesan untuk acara-acara syukuran masyarakat di Loteng.

Walau tergolong baru memmulai usaha ini pada 2015, dengan harga nasi yang bervariasi dari kisaran Rp8000,- hingga Rp12.000,-, tergantung lauk yang digunakan, namun usaha nasi bungkus H. Muzakir ini tergolong maju. Dengan segala kelebihannya terutama tingkat pedasnya yang tinggi, tampilan bungkusnya, sertifikasi halal yang dimiliki dan kelihaian H. Muzakir dalam memasarkan produknya, Nasi Terbang dapat menjadi pilihan bagi para penggemar nasi bungkus dengan daun pisang khas Loteng ini. Akhirnya pagi menjelang siang itu nasi terbang H. Muzakir kami beli beberapa bungkus, sebagai pembebas rasa lapar yang menyerang, karena belum sarapan. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com