Tanjung, LombokInsider.com – Setelah sukses menanam dan menyebar 40 ribu flamboyan pada 2016, organisasi pegiat alam Lombok ini memberikan kado kedua untuk bumi. Pawang Rinjani Lombok kembali menggelar gerakan penghijauan, dengan menanam dua juta pohon untuk bumi.

Gawe Gawah 2017, merupakan kelanjutan dari program Daulat Pohon Pawang Rinjani. Melalui program ini, organisasi yang fokus menggarap konservasi ini siap merilis dua juta pohon. “Ya, dua juta pohon sengon, gatep, flamboyan, dan beragam jenis pohon-pohon endemik khas pulau Lombok,” kata Apink Alkaf, Humas Pawang Rinjani.

Gawe Gawah, dalam bahasa Sasak bermakna syukuran untuk hutan, ini dihajatkan semata untuk merawat dan melestarian lingkungan. Terutama di kawasan Lombok Utara yang seluruh lahannya masuk dalam kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Program merawat alam dengan membagikan dua juta pohon kepada ribuan warga dan perwakilan kelompok masyarakat di lima kecamatan se-Lombok Utara ini akan dilaksanakan pada 24 Desember 2017 di Green Camp Pawang Rinjani, Gangga, Lombok Utara. Rencananya, rilis dua juta pohon ini akan dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, anggota DPD NTB, para pegiat dan pecinta alam NTB.

“Program ini mendapat dukungan bibit dari BPDAS Dodokan Moyosari NTB, PDAM Lombok Utara dan Galuh Foundation. Selain melestarikan lingkungan, Gawe Gawah juga merupakan gerakan bersama mewujudkan mimpi Pawang Rinjani merancang Hutan Mini Kota di kawasan nonstrategis,” lanjut Apink.

BIBIT: Green Camp Pawang Rinjani, 2 Juta Pohon Siap Dibagikan.

Ruang nonstrategis bagi Pawang Rinjani menjadi bagian utuh dari program Daulat Pohon sebagai aplikasi bersama. Ruang nonstrategis sebagai skenario dalam pengelolaan lingkungan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebagai ruang non area publik yang terdiri dari hutan lindung, HKM, hutan konservasi, daerah tanggkapan air, DAS, areal perkembunan masyarakat. Baik di zona sabuk hijau, lahan kritis dan lahan lahan lainnya yang ditumbuhkan kembali dapat memberi dampak dan manfaat yang lebih luas.

Ruang ini dihajatkan sebagai ruang multi manfaat (combo). Selain sebagai daerah resapan air, kilang oksigen, juga bermanfaat untuk sumber daya alam lainnya. Juga mempunyai fungsi ekonomis secara luas dan tak berbatas. Dengan upaya tetap menjaga tegakan tetap tumbuh sebagai sumber penghasilan multikultur.

Pengelolaan, lingkungan dari rumahtangga dan lingkungan sekitar. Baik pengelolaan hutan lindung maupun hutan konservasi bagi masyarakat secara luas. Dengan sinergi dan strategi diharapkan dapat membangun sistem yang pengelolaannya bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Ruang nonstrategis ini sebagai salah satu upaya membangun psikologi bergantung manusia kepada alam. Juga terus berikhtiar membangun kesadaran masayarakat.

“Wabilkhusus tentang upaya perbaikan lingkungan yang terbangun sebagai penunjang ekonomi keluarga dan nasional. Menyulap lahan nonstrategis menjadi hutan mini kota terbukti bisa dilihat di base camp Pawang Rinjani,” ujarnya.

Dimana, lahan seluas satu hektar mampu dirubah menjadi hutan mini dengan aneka ragam pohon endemik Lombok. Gerakan ini juga sudah mendapat sambutan dari sejumlah sekolah tingkat SMA yang siap merancang hutan mini di sekolah masing.

“Sejauh ini, merubah ruang nonstrategis dan kering menjadi hutan mini ini siap diwujudkan SMA Kayangan dan MA Sunan Kali Jaga Tanjung. In Sya Allah, sekolah-sekolah lain menyusul,” tegas Apink, yang merupakan salah satu pendiri organisasi Pawang Rinjani ini. (LI/SP/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com