Mataram, LombokInsider.com – Membangun pariwisata suatu daerah tidaklah mudah, perlu waktu bertahun-tahun, puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Hal ini ditegaskan I Gde Pitana, Deputi Pengembangan dan Pemasaran Mancanegara Kemenpar RI di Mataram (22/2), saat memberikan sambutan dalam Rakor Sinkronisasi Program Kepariwisataan NTB sekaligus launching Calender Wonderful Event Festival Pesona Tambora 2018.

Pada kesempatan tersebut Pitana mencontohkan Pulau Bali yang saat ini menjadi kiblat pariwisata Indonesia yang begitu terkenal. Namun membangun hal itu tidak semudah dan secepat yang diperkirakan orang.

Pembangunan Pariwisata

“Membangun sebuah pariwisata tidak semudah membalikan telapak tangan atau menanam tanaman semusim, Bali bisa seperti sekarang setelah dipromosikan sejak 1920, berarti hampir 100 tahun,” ujarnya.

“Saya yakin Provinsi NTB dapat melakukan akselerasi untuk dapat mempercepat kemajuan di bidang pariwisata, apalagi sudah ada hal-hal yang secara teori bisa dipelajari dari Bali. Memang tidak mudah, tapi kita harus optimis,” lanjut Pitana.

Bahkan Pitana mengakui, potensi yang dimiliki NTB jauh lebih beragam dari pada Bali, baik dari segi seni, budaya dan destinasi alamnya.

“Apalagi saat ini NTB sudah menyumbangkan empat even daerahnya yang masuk dalam100 calender of event pariwisata nasional. Festival Pesona Bau Nyale dan Bulan Pesona Lombok Sumbawa di Lombok, serta Festival Pesona Moyo Pelaksanaan dan Festival Pesona Tambora di Sumbawa,” jelas Deputi.

“Saya yakin even-even di daerah seperti diatas merupakan wahana promosi yang efektif dan side impact-nya akan dapat dirasakan. Mungkin tidak pada saat pelaksanaan, tapi pasca even-even besar tersebut, kunjungan wisatawan akan meningkat,” tegasnya.

Festival Pesona Tambora 2018

Terkait Festival Pesona Tamboran 2018, Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL. Moh. Faozal menyatakan Festival Pesona Tambora telah menjadi salah satu kegiatan Wonderful Indonesia yang mendapat dukungan Kemenpar dan secara branding sudah terbangun bahkan sejak Gunung Tambora meletus dengan dahsyatnya pada 1815 silam.

“Seperti halnya Bau Nyale, Gunung Tambora dilihat dari sejarahnya saja sudah menjadi branding tersendiri, tinggal bagaimana mengemasnya agar menjadi daya tarik bagi wisatawan. Dari sisi destinasi Gunung Tambora selalu ramai oleh para pendaki,” ungkap Faozal.

“Kami telah lakukan persiapan bersama lima kabupaten/kota di Pulau Sumbawa yang nantinya dilibatkan untuk menyukseskan kegiatan tersebut,” tegasnya.

Akan ada 16 kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Pesona Tambora 2018 ini, dimulai dengan Pawai Budaya pada 1 April, Pameran Foto Budaya dan Pesona Tambora 2-7 April, Gemar Makan Ikan 4 April, Gema Budaya Religius 5 April, Ngaha Kawiri 6 April, Festival Kuliner 7 April, Tambora Challenge 320 k 4-7 April, Festival Mantar, Upacara Cera Labu April, Festival Jagung dan Kopi Tambora 10-11 April, Sepeda Wisata 10 April, Hiburan Rakyat 10-11 April, Lomba Mancing, Trail Adventure, Transplantasi Karang dan Puncak Festival Pesona Tambora 11 April di Doro Ncanga, yang dipastikan akan lebih atraktif dan berwarna dari tahun sebelumnya. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com