Lobar, LombokInsider.com – Sukarno (44) seorang korban gempa bumi di Lombok Barat berusaha bangkit kembali dari keterpurukan usai bencana gempa pada Agustus lalu. Rumahnya yang berada di Desa Bug-bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), rata dengan tanah akibat gempa 6.4 pada Kamis (9/8) lalu.

Sejak kejadian itu, ia tinggal di tenda pengungsian. Meski dalam kondisi bencana, perawat di Puskesmas Lingsar ini, tetap bertugas melakukan pelayanan kesehatan, termasuk bagi korban gempa.

Lebih dari dua bulan pascagempa, belum ada kejelasan soal bantuan dana stimulan untuk dirinya. Dari hasil pendataan pemerintah desa, namanya tidak tercantum sebagai calon penerima bantuan meski rumahnya masuk dalam kategori rusak berat.

“Nama saya tidak masuk daftar, ingin protes juga, ada rasa ketidakadilan, verifikasi tidak masuk itu yang saya sesalkan,” katanya, Senin (15/10) di Desa Bug-Bug.

Akhirnya ia mengambil inisiatif untuk membangun rumahnya, tanpa menunggu bantuan pemerintah. Uniknya, rumah yang dibangun bukan rumah biasa. Model rumah mengusung konsep rumah terbalik atau bersujud.

“Sengaja modelnya seperti ini, kita sebut rumah sujud, karena posisi rumah seperti sedang bersujud,” jelas Sukarno. Menurutnya, hal ini menjadi pengingat bahwa manusia tetap harus bersyukur kepada Allah SWT apapun keadaannya.

Sukarno memang sengaja membuat konsep rumah yang menarik. Dia berharap, hal ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Ia berharap warga sekitar mau mengikuti langkahnya membangun rumah dengan konsep serupa. Ide pembangunan rumah terbalik, dia katakan, dibantu sang kakak, Subhan, yang memiliki kemampuan dalam hal arsitektur.

“Kita coba browsing-browsing dan cari yang paling sederhana, buat miniatur dulu lalu konsultasikan ke tukang,” lanjutnya.

Sukarno mengaku menghabiskan sekira Rp50 juta untuk membangun rumah terbalik dengan menggunakan bahan material mulai dari genting ondovila untuk atap, kalsiplank untuk dinding dan sisa puing yang masih bisa digunakan seperti pintu dan jendela.

Rumah terbalik seluas 6×5 meter memerlukan waktu pengerjaan sekira tiga pekan. “Ini sudah jalan seminggu, mungkin sekitar dua minggu lagi rampung dan arsitekturnya In Sya Allah tahan gempa juga,” ujar Sukarno.

Rencananya, dia akan mengundang komunitas pendaki di Gunung Rinjani untuk menghadiri peresmian rumah sujud atau terbalik. Ia juga merencanakan adanya penggalangan dana untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) saat peresmian nanti.

Sukarno berkeyakinan idenya ini mampu menjadi daya tarik bagi sektor wisata baru di Lombok. Dia menilai, warga sekitar juga bisa merasakan dampak ekonomi dengan kehadiran pengunjung.

“Warga nantinya bisa berjualan makanan dan minuman, serta kerajinan tangan yang kalau bisa ada ciri khas tentang bencana gempa,” katanya.

Andi, kepala tukang, mengaku sempat kaget saat diminta Sukarno membangun rumah dengan model terbalik. Namun menyetujui permintaan tersebut.

“Kita kan sering bawa tamu ke Rinjani, namun kini Rinjani ditutup, katanya sampai dua tahun, jadi kenapa kita tidak mulai menciptakan objek wisata baru,” kata Andi. Ia berharap ide brilian Sukarno diikuti masyarakat lainnya yang ada di Lombok. (LI)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com