Jakarta, LombokInsider.com – Kota Mataram di Provinsi Nusa Tenggara Barat menempati peringkat 14 dari 29 Kota Islami seluruh Indonesia. Kota Jogjakarta, Bandung dan Mataram menempati peringkat pertama, kedua dan ketiga secara berurutan. Demikian hasil studi Maarif Institute yang dirilis Selasa, 17 Mei di Jakarta.

“Indeks Kota Islami merupakan upaya Maarif Institute untuk menyusun parameter untuk mengukur dan memeringkat kinerja pemerintah kota dalam mengelola kotanya berbasis nilai-nilai Islam dalam pelayanan masyarakat. Dalam penyusunannya, IKI berlandaskan prinsip-prinsip maqashid syariah. Prinsip-prinsip ini akan dielaborasi ke dalam beberapa dimensi seperti aspek keagamaan (al-kitâb), kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan (al-hukma), peradaban (al-nubuwwah), kemakmuran, dan keunggulan,” kata Ahmad Imam Mujadid Rais, Maarif Institute.

Dikatakannya, dari studi pendahuluan yang dilakukan oleh MAARIF Institute, untuk mendefinisikan Kota Islami harus diawali dari terminologi Islam, apa itu Islam? Islam adalah ad-din wa an-ni’mah (agama dan peradaban). Islam sebagai agama harus membawa perubahan nyata berupa ni’mah (keadaan baik/ al-hâlah al-hasanah—al-Asfahani) bagi yang lain.

“Bagaimanakah mengukur keadaan yang baik ini? Untuk mengukurnya, MAARIF Institute menggunakan metodologi maqashid syariáh dalam keilmuan Ushul Fiqh: hifzh al-mal (menjaga harta benda), hifzh al-nafs (menjaga kehidupan), hifzh al-‘aql (menjaga akal), hifzh al-din (menjaga agama), hifzh al-nasl (menjaga keturunan), serta hifzh al-bi’ah (menjaga lingkungan),” tambah Ahmad.

Dalam memahami maqashid shariah ini pun menggunakan perspektif maqashid kontemporer yang bernuansa pengembangan (tanmiyah/ development) dan pemuliaan Human Rights (‘Hak-hak Asasi’) daripada maqashid yang bernuansa ‘protection’ (penjagaan) dan preservation (‘pelestarian’). Penggunaan metode kontemporer ini akan mendorong isu ‘pengembangan sumber daya manusia’ sebagai salah satu tema bagi kemaslahatan publik masa kini. Konsekuensi dari penggunaan metode kontemporer ini, realisasi maqasih dapat diukur secara empiris melalui metode ilmiah dan merujuk pada ‘target-target pembangunan SDM versi PBB atau lembaga lain yang kredibel, tambahnya.

“Berdasarkan 6 prinsip tujuan syariah di atas, kami menyusun definisi kerja, bahwaKota Islami adalah kota yang aman, sejahtera, dan bahagia,” kata Ahmad.

Daftar Peringkat Kota Islami Indonesia 2016 versi Maarif Institute:

  1. Yogyakarta – 80.64
    "Kota Islami adalah kota yang aman, sejahtera, dan bahagia," kata Ahmad Imam Mujadid Rais, Maarif Institute

    “Kota Islami adalah kota yang aman, sejahtera, dan bahagia,” kata Ahmad Imam Mujadid Rais, Maarif Institute

    2. Bandung – 80.64
    3. Denpasar – 80.64
    4. Bengkulu – 78.40
    5. Pontianak – 78.14
    6. Serang – 77.82
    7. Metro – 77.50
    8. Semarang – 75.58
    9. Palembang – 74.36
    10. Malang – 73.72
    11. Ambon – 73.53
    12. Surakarta – 72.66
    13. Salatiga – 71.22
    14. Mataram – 70.71
    15. Manado – 70.10
    16. Batam – 69.94
    17. Surabaya – 69.74
    18. Tasikmalaya – 69.65
    19. Banda Aceh – 69.62
    20. Jayapura – 68.53
    21. Banjarmasin – 66.79
    22. Palu – 66.15
    23. Pangkalpinang – 65.71
    24. Jambi – 63.91
    25. Tangerang – 61.99
    26. Padang Panjang – 61.67
    27. Kupang – 59. 39
    28. Padang – 58.37
    29. Makassar 51.28

 

Kota Mataram

Kota Mataram mencatat nilai indeks kota Islami (IKI) total 70,71 dengan rincian Nilai Aman 65,00; Nilai Sejahtera 59,62 dan Nilai Bahagia 87,50. Sementara Kota Yogyakarta sebagai peringkat pertama mencatat nilai indeks kota Islami total 88,64 dengan rincian Nilai Aman 77,50; Nilai Sejahtera 76,92 dan Nilai Bahagia 87,50.

Dari ketiga nilai itu, Kota Mataram setara dengan Kota Yogyakarta dalam Nilai Bahagia yakni 87,50. Namun, Kota Mataram lebih rendah nilainya dalam nilai aman yakni 65,00 dibanding 77,50 atau lebih rendah 12,50 poin; dan nilai sejahtera yakni 59,62 dibanding 76,92 atau lebih rendah 17,30 poin. (LI/KM)

 

Silakan ikuti link berikut untuk siaran pers Maarif Institute:

http://maarifinstitute.org/id/program/20/indeks-kota-islami-iki#.VzwuXjV97IX

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono