Dompu, LombokInsider.com – Pacuan Kuda atau yang lebih dikenal dengan Pacoa Jara oleh masyarakat di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, merupakan sebuah tradisi budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Jika biasanya ditempat lain joki atau penunggangnya adalah orang dewasa, tidak demikian dengan yang terjadi di Pulau Sumbawa.

“Joki disini adalah anak kecil atau joki cilik, ini memang budayanya,” ungkap Sukardin warga Kelurahan Bada, Dompu, Rabu (10/4) di Dusun Lembah Kara, Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu.

Pagi itu merupakan puncak dari atraksi Balapan Kuda Tradisional (BKT) yang sering disebut “Pacoa Jara” di Arena Pacuan Kuda Lembah Kara, Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu.

“Acara ini sudah menjadi tradisi setiap tahunnya, wisatawan dapat menikmati langsung suguhan atau atraksi tersebut. Yang membuatnya seru adalah para penunggangnya yang berumur antara 5-10 tahun,” jelas Kardin.

Kebanyakan Joki Cilik tersebut sendiri merupakan anak-anak sekitar Kabupaten Dompu yang disewa oleh pemilik kuda untuk menjadi joki. Masing-masing joki tersebut mendapat bayaran antara Rp50-100 ribu dalam sehari. Jika kuda yang ditungganginya menang, Joki Cilik tersebut akan menerima bayaran antara Rp1-2 juta.

Salah satu Joki Cilik, Aditya Putra, menerangkan bahwa dirinya telah memulai latihan berkuda sejak masih kecil. Aditya mengaku senang mengikuti balapan kuda tersebut karena bisa menambah uang sakunya.

Saat ini Aditya baru berusia 5 tahun dan sudah berganti kuda 5 kali dari 5 orang pemilik kuda yang berbeda. “Kami joki turun temurun, dari ayah saya dulunya juga seorang joki, ” tegas Aditya dengan nada bangga.

Di Dompu sendiri profesi menjadi Joki Cilik memang diwariskan turun-temurun sebagai tradisi. Namun dalam prosesnya, orang tua si Joki tidak pernah memaksa anaknya untuk menjadi penunggang kuda. Hal tersebut karena mereka percaya, jika si anak menunggang kuda karena paksaan, maka hanya akan mendatangkan celaka dalam prosesnya.

Sementara, Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Dompu sekaligus Ketua Panitia BKT-FTP, Muhamad Amin Jafar, menerangkan bahwa balapan kuda tersebut sudah menjadi atraksi budaya turun-temurun yang diselenggarakan oleh masyarakat Dompu dan sekitarnya. Selain itu, BKT juga sekaligus memberikan kesempatan agar perekonomian masyarakat meningkat.

Beberapa tahun terakhir, balapan kuda tradisional tersebut mulai dijadikan even tahunan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai rangkaian dari Festival Pesona Tambora (FPT) 2019 sekaligus peringatan HUT Kabupaten Dompu ke-204.

“Ini merupakan salah satu cara kita untuk menjaga budaya. Selain itu juga menumbuhkan pendapatan ekonomi masyarakat pencinta kuda. Kita setiap malam mengalami perubahan pemilik (kuda, Red) karena mereka selalu transaksi jual-beli,” tambah Amin, di sela-sela kegiatan.

Asisten III Setda Dompu ini juga menerangkan bahwa kuda-kuda yang mengikuti BKT-FTP, yang semula harganya hanya belasan juta, bisa naik hingga puluhan juta jiga sudah masuk ke putaran ke-tiga perlombaan. Hal tersebut yang menjadi daya tariklainnya sehingga memancing peserta dari luar Dompu.

“Selain dari NTB, ada juga peserta yang dari NTT, setiap tahun selalu ramai peserta, untuk tahun ini bahkan yang terbanyak hingga 600 kuda. Seluruh kuda tersebut akan berlomba adu cepat dalam satu putaran di lintasan sepanjang 1200 meter dengan ditunggangi oleh Joki Cilik,” pungkas Amin. (LI/AA)

Tags:
About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com