Mataram, LombokInsider.com – Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Nusa Tenggara Barat (NTB) akan menggelar Lombok Travel Mart (LTM) VI dengan konsep yang sangat unik dimana para buyer yang datang akan diajak menikmati desa wisata Bonjeruk, Kabupaten Lombok Tengah dan dilakukan di persawahan serta bangunan tua peninggalan zaman penjajahan Belanda.

“Ini merupakan LTM ke VI dan termasuk yang paling unik, sejauh ini setiap tahunnya kami DPD ASPPI NTB selalu berusaha untuk mempromosikan destinasi wisata baru baik di Lombok maupun Sumbawa, tahun ini Desa Wisata Bonjeruk kita pilih sebagai venue dari kegiatan ini,” ujar Ahmad Ziadi Ketua DPD ASPPI NTB, Rabu (27/2).

Menurutnya, kegiatan yang akan berlangsung dari 1-3 Maret 2019 ini sudah ada sekitar 200 buyer yang menyatakan ikut serta dalam LTM kali ini dan kegiatan ini akan dirangkaikan dengan Rakernas ASPPI.

“Hingga saat ini sudah ada sekitar 200 buyer yang menyatakan akan ambil bagian pada LTM VI, tercatat ada 5 buyer dari Korea, 25 Malaysia, 1 India dan sisa dari Indonesia. Tahun ini LTM mengambil tema “Historical Bonjeruk,” jelasnya.

Sementara, Leja Kodi, Ketua Panitia LTM VI 2019 mengatakan, Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, dipilih sebagai lokasi LTM VI karena Desa Bonjeruk atau dulu disebut Bondjeroek pernah menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda di Lombok pada zaman kolonial dulu.

“Kalau LTM sebelumnya kami mengangkat museum, pantai, air terjun dan hotel sebagai lokasi utama. Tahun ini (LTM) VI kami mencoba sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Konsepnya “heritage” desa persawahan dan bangunan tua peninggalan zaman Belanda,” katanya, saat menghadiri jumpa pers di Kantor Dispar NTB.

Hal ini lanjutnya, masih bisa dilihat pada arsitektur bangunan-bangunan tua yang ada di desa tersebut. Seperti bangunan puri atau pusat perkantoran peninggalan Bondjeroek Hindia Belanda, bangunan rumah peninggalan Belanda dan sebuah masjid bernama Masjid Raden Nunu Unas.

“Nilai-nilai sejarah dan bangunan sisa peninggalan penjajahan Belanda ini yang coba kita angkat di LTM kali ini, selaras dengan temanya “Historical Bonjeruk,” ujarnya.

Menurut Ingoe, panggilan akrabnya, selain memiliki bangunan peninggalan Belanda. Desa Bonjeruk juga kaya akan atraksi budaya serta kuliner yang khas sehingga ini mempertegas bahwa Lombok memang kaya destinasi wisata yang beragam yang tidak ada di tempat lain.

“Lombok tidak hanya soal pantai atau air terjun dan gunungnya yang di nikmati, tapi ada kekayaan alam lain yang sesugguhnya memiliki potensi untuk bisa di jual yakni Lombok kaya dengan nilai sejarah dan budaya,” tegasnya.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL. Moh. Faozal, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam mendukun kegiatan ini.

“Pasti kami sangat mendukung apa yang dilakukan rekan-rekan ASPPI ini, disaat seperti ini LTM kita harapkan dapat membangkitkan kembali semangat pariwisata kita. Ditengah tekanan eksternal dari harga tiket mahal dan bagasi berbayar. Hampir semua wilayah memang cukup terdampak, kita berharap LTM dapat mendatangkan buyer-buyer berkualitas dan menghasilkan transaksi yang di tergetkan,” tegas Faozal.

Panitia berharap target potensi transaksi sebesar Rp10 Miliar dapat tercapai dan pariwisata NTB segera bangkit kembali setelah ujian yang datang bertubi-tubi. (LI/AA)

 

foto: dutalomboktour

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com