Bima, LombokInsider.com – Seminar Sakosa, yang digelar pada Sabtu (8/4), menjadi seminar paling unik dan menarik yang pernah diadakan, karena dilangsungkan diatas kapal perang KRI Teluk Mandar, diperairan Teluk Bima, Kota Bima, NTB. Seminar ini membahas bagaimana Pengembangan Industri Kreatif Guna Mempercepat Pertumbuhan Industri Pariwisata di Pulau Sumbawa. Seminar ini juga merupakan rangkaian dari acara Festival Pesona Tambora (FPT) 2017, 5-11 April.

SEMINAR. Wagub NTB, Membuka Seminar Sakosa, Diatas KRI. Teluk Mandar, di Perairan Teluk Bima, Sabtu (8/7).

Potensi Wisata di Pulau Sumbawa

Hal tersebut ditegaskan Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, saat memberikan sambutan pada pembukaan Seminar Sakosa (Sangeang, Komodo dan Sape). “Potensi-potensi wisata baik yang ada di laut maupun darat harus dimaksimalkan, untuk menunjang kemajuan pariwisatanya,” jelas Wagub. Lombok dengan Mandalika dan Gunung Rinjaninya, sementara Sumbawa dengan Tambora, Sakosa dan kawasan Samota.

Selain itu Wagub menambahkan bahwa Pemprov NTB memang sangat mendukung pengembangan ekonomi kreatif yang ada disetiap Kabupaten/Kota yang ada, dari mulai proses pembuatan hingga pemasarannya. “Hanya saja perlu ditingkatkan kualitas manajemen kemasan dan promosi pemasarannya,” ungkapnya. Tak lupa Amin mengucapkan terima kasih atas seluruh kerja keras berbagai pihak yang telah menjadikan acara seminar ini dapat berlangsung.

“Yang terpenting adalah pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, air dan listrik untuk mendorong para investor mau masuk berinvestasi ke Sumbawa. Para wisatwan membutuhkan penginapan yang memadai dan fasilitas lainnya,” pungkas Wagub.

Demikian halnya dengan Bupati Kabupaten Bima Indah Damayanti Putri berharap, upaya yang sudah dilakukan Dinas Pariwisata NTB dapat mengangkat potensi pariwisata, khususnya di Bima. “Kami di Bima sangat bersyukur tema Sakosa diangkat, hal itu sekaligus memperkenalkan bahwa Sumbawa tidak hanya memiliki Gunung Tambora tetapi juga punya Gunung Sangiang yang bisa dijual untuk pariwisata, NTB dan Indonesia,” ungkapnya.

Tujuan Seminar Sakosa

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL. Moh mengatakan bahwa tujuan dari diadakannya seminar ini adalah untuk mengembangkan industri kreatif yang ada diseluruh Kabupaten/Kota yang ada di NTB. “Kami sengaja memfokuskan pada pengembangan ekonomi kreatif agar para pengusaha UMKM bekerja dan berkreasi untuk bisa lebih maju, sehingga produk yang dihasilkan dapat menunjang sektor pariwisata di daerahnya” tegas Faozal. Hal ini juga untuk membangkitkan kembali semangat perekonomian Bima pasca banjir beberapa waktu lalu.

Faozal menambahkan, FPT tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab tahun ini, rangkaian festival tidak hanya di Kabupaten Dompu, tetapi juga di Kabupaten Sumbawa dan Bima. Hal ini dilakukan untuk menghadirkan rasa keadilan bagi semua warga di Pulau Sumbawa. “Supaya adil, karena Tambora tidak hanya punya Dompu, tapi juga Sumbawa dan Bima,” katanya.

Menurutnya, dukungan pengembangan pariwisata untuk NTB, khususnya Pulau Sumbawa semakin besar, termasuk dari TNI baik darat, laut dan udara. Mulai dari pengamanan, peminjaman kapal (KRI) Teluk Mandar 514, selain itu, akan ada 18 orang penerjun dari Paskhas TNI-AU yang akan melakukan aksi terjun payung di Doro Ncanga, pada puncak acara 11 April mendatang.

GUNUNG API. Gunung Sangiang, Tampak di Kejauhan dari KRI. Teluk Mandar.

Daya Tarik

Faozal menyambut baik pengembangan kawasan wisata Sakosa. Destinasi ini menurutnya sangat potensial untuk dikembangkan. Kawasan ini adalah jualan baru bagi pariwisata NTB ke depan. Lebih lanjut ia menjelaskan, Gunung Sangiang juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tujuan baru wisatawan, gunung berapi yang masih aktif ini menawarkan pesona alam yang indah, serta menantang bagi para wisatawan yang hobi mendaki.

Kemudian Pulau Komodo yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga bisa menjadi daya tarik para wisatawan, untuk itu pemprov akan membenahi Pelabuhan Sape agar warga yang ingin ke Pulau Komodo bisa lebih dekat. Segitiga kawasan ini bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk dikembangkan.

KRI Teluk Mandar 514 Teluk Mandar merupakan kapal buatan 1980 di Korea Selatan (Korsel), dengan panjang 100 meter dan lebar 51,4 meter, setiap harinya bertugas untuk menjaga keamanan kelautan perbatasan Timur Leste dan RI. Seminar yang berlangsung selama hampir 3 jam ini dihadiri ratusan undangan, kapal perang buatan Korsel ini membawa para penumpang berkeliling melihat pemandangan di perairan segitiga yang ada di kawasan Gunung Sangiang, Komodo dan Pelabuhan Sape.  (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com