Mataram, LombokInsider.com – Sebagai salah satu gunung tertinggi di Indonesia nama Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, sudah sangat dikenal keindahannya, baik oleh pendaki lokal, nasional bahkan internasional. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung atau pendaki dan wisatawan yang datang, bahkan mencapai ribuan orang, terutama saat libur panjang seperti pekan lalu.

Mereka datang ingin menikmati keindahan alam baik di kaki maupun dari puncak Rinjani. Namun patut disayangkan, mayoritas pendaki ini kurang peka terhadap kebersihan lingkungan, ini sudah sangat sering terjadi terutama saat musim ramai seperti libur panjang lalu. Semakin banyak pendaki yang naik, dipastikan juga volume sampah dipuncak dan sekitarnya juga ikut meningkat.

Bukan hanya membuang sampah sembarangan, para pendaki, khususnya yang baru naik ke Rinjani (newbie) juga memetik Bunga Edelweis, bunga yang tumbuh di Rinjani dan dilindungi. Beberapa waktu lalu dunia maya, media sosial viral dengan begitu banyaknya postingan tentang dipetiknya Bunga Edelweis ini.

Bahkan dengan tanpa rasa bersalah dan kebanggaan mereka berselfie dan wefie ria dengan berbagai caption, bersama bunga khas Gunung Rinjani yang telah dipetiknya. Padahal jika mereka para pecinta alam sejati tentunya akan mematuhi kode etik yang telah disepakati yakni, jangan ambil apapun kecuali gambar, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki dan jangan membunuh apapun kecuali waktu.

Sementara terkait masalah sampah yang selalu menjadi persoalan ketika kawasan Rinjani ramai dikunjungi wisatawan, Kepala Resort Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sembalun, Zainuddin, tak menyangkal. Namun menurutnya masalah sampah ini, mereka tetap melakukan penanganan.

“Caranya kami melakukan clean up yang melibatkan sejumlah organisasi pecinta alam. Baik itu dari Pecinta Alam, Kelompok Pemuda dan lainnya. Karena setiap bulan organisasi pecinta alam ini naik melakukan bersih-bersih sampah,” ujar Zainuddin.

Menurut Zainuddin hal ini memang tak bisa dihindarkan, jika pengunjung yang mendaki banyak maka dipastikan sampahpun akan banyak ditinggalkan. “Kesadaran akan kebersihan yang kurang dan semakin banyaknya pintu masuk pendakian menjadi salah satu penyebab sulitnya pihak TNGR untuk mengontrol para pendaki,” tegas Zainuddin.

Patut disayangkan memang gunung kebanggaan masyarakat Lombok-NTB karena keindahannya, yang bahkan telah diajukan untuk menjadi Global Geopark pada 2016 lalu, menjadi sangat dikenal karena banyaknya sampah yang ditinggalkan para pendaki dan juga dipetiknya Bunga Edelweis oleh tangan-tangan jahil.

Menjadi pekerjaan rumah (pr) kita bersama untuk dapat menjaga aset alam, agar tetap indah dan dapat dinikmati tanpa harus merusaknya, baik dari segi kebersihannya maupun hal-hal yang menyangkut segala sesuatu yang telah dilindungi. Harapannya, khusus bagi para pendaki baru (newbie), jagalah kebersihan lingkungan dimanapun kalian mendaki gunung, serta ingat selalu kode etik pecinta alam diatas. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com