Dompu, LombokInsider.com – Festival Pesona Tambora (FPT) selalu memiliki daya tarik tersendiri, mulai dari awal penyelenggaraannya pada 2015 yang lalu hingga penyelenggaraan keempat di tepi Pantai Sarae Nduha, Doro Ncanga, Dompu – Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (11/4).

Tahun ini, artis ibukota Anang, Ashanty dan Aurel serta sebelas penerjun dari pasukan Katak yang merupakan salah satu pasukan elite dalam kesatuan TNI-AL menjadi magnet daya tarik dari penyelenggaraaan FPT 2018.

Ketiga artis tersebut berhasil membius para penonton yang tadinya berada pada jarak cukup jauh dari pangggung untuk mendekat, bahkan ikut naik keatas panggung. Anang, Ashanty dan Aurel sempat menyanyikan 6 buah lagu, pop dirangkai dengan dangdut, sehingga masyarakat yang hadir sangat terhibur.

Tak kalah menariknya dari penampilan trio keluarga Anang Hermansyah tersebut, Pasukan Katak yang merupakan salah satu pasukan elite dalam kesatuan TNI-AL juga melakukan atraksi terjun. Sekitar 11 orang prajurit terjun dengan mengibarkan bendera kesatuan dan juga bendera kegiatan FPT 2018.

Bupati Dompu, Bambang M. Yasin, pada laporannya mengharapkan momentum peringatan 203 meletusnya Gunung Tambora ini sebagai inspirasi masa depan pariwisata NTB.

“FPT tahun ini sengaja lokasinya kita geser, agar dapat memberikan kesan dan nuansa baru kepada para tamu. Kami ingin semua dapat melihat bahwa dihadapan Gunung Tambora ada hamparan padang savana indah dan juga Pantai Sarae Nduha, yang merupakan salah satu destinasi andalan yang menjadi tujuan warga masyarakat Kota Dompu saat berlibu,” kata Bupati.

“Rangkaian kegiatan FPT 2018 ini cukup panjang, sejak 1-11 April, dimulai dengan Tambora Challenge 320K yang merupakan lari ekstrim dengan jarak terpanjang se-Asia Teggara. Selain itu, seluruh rangkaian kegiatan yang terbagi-bagi di beberapa Kabupaten dan Kota se Pulau Sumbawa, merupakan wujud semangat kebersamaan kami dalam membangun pariwisata Lombok dan Sumbawa,” ujar Bambang.

Sementara Sekda NTB, Rosiady Sayuti sangat mengapresiasi semua pihak yang telah mensukseskan penyelenggaraan FPT 2018 yang keempat kalinya ini, khususnya bagi Dinas Pariwisata NTB.

“Saya mewakili Gubernur NTB, berterima kasih dan sangat mengapresiasi suksesnya acara ini. Sinergi yang baik telah terlihat beberapa tahun terakhir dari berbagai pihak terkait untuk kemajuan pariwisata NTB,” jelas Sekda.

“Semoga semua dapat ditingkatkan sehingga tahun depan akan lebih baik dan meriha lagi, tak lain untuk dapat meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke NTB, 2018 ini target kami 4 juta, 2 juta wisnus dan 2 mancanegera. Momentum ini harus kita manfaatkan sebagai ajang branding bagi Lombok dan Sumbawa,” tutur Rosiady.

Demikian dengan Esthy Reko Astuti, Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenpar RI, menurutnya Lombok dan Sumbawa memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri untuk sebuah destinasi wisata.

“Acara ini tidak lain sebagai salah satu upaya promosi pariwisata Lombok dan Sumbawa (NTB), saat ini NTB telah memiliki banyak prestasi dalam hal kepariwisataan. Selain dari itu Lombok dengan KEK Mandalikanya telah menjadi fokus dari 10 destinasi prioritas,” ucap Esthy.

“FPT 2018 juga telah masuk dalam 100 Wonderful Event Kemenpar, Menpar berharap, kendala-kendala terkait akomodasi dan infrastruktur dapat dicarikan solusi dengan program strategis Nomadic Tourism,” jelasnya.

Esthy menegaskan Nomadic Tourism adalah solusi memaksimalkan destinasi wisata alam Indonesia yang luar biasa seperti Tambora dan sekitarnya misalnya, tanpa butuh waku lama.

“Nomadic tourism itu mudah dan murah. Hanya perlu ada atraksi pariwisata yang menarik, maka pengadaan akses dan amenitas bisa dilakukan dengan menggunakan bahan baku yang bisa dipindah. Misalnya pembangunan glamp camp atau dengan live on board,” ujar Esthy mengutip pernyataan Menpar pada Rakornas Pariwisata di Bali, belum lama ini.

Selain penampilan Anang, Ashanti, dan Aurel, serta para penerjun TNII-AL, ajang FPT 2018 disemarakan dengan Tari Nggahi Rawi Pahu yang melibatkan 203 orang penari merupakan manivestasi dari peringatan 203 tahun meletusnya Gunung Tambora. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com