Perjalanan wisata Batu Hijau Photography Club (BHPC) baru-baru ini adalah mengunjungi sebuah kampung di pulau kecil yang penghuninya bukan orang Samawa asli, tapi adanya di pulau Sumbawa, kampung Bungin namanya.

Kampung ini letaknya di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa Besar. Perjalanan menuju kampung Bungin dari Benete hanya ditempuh dua jam lamanya.

Pulau terpadat di dunia, demikian kita mengenal pulau Bungin, seperti halnya dunia juga melihat pulau Bungin dari situs-situs internet. Tak ada tepian pasir pantai disepanjang pulau Bungin, setiap bagian adalah rumah dan rumah.

Memang demikian adanya, nyaris tak ada lahan kosong, pepohonan pun nyaris tak ada yang tumbuh membesar seperti layaknya perkampungan lainnya di daratan pulau Sumbawa. Maka tak heran jika hewan kambing di Bungin lebih memilih makan kardus dan kertas ketimbang rumput yang tak pernah mereka temukan.

 

Para wanita Bungin tengah menjemur ikan.

Para wanita Bungin tengah menjemur ikan.

Suku Bajo

Kampung ini dihuni oleh suku Bajo (Sulawesi). Mereka menuturkan kepada kami, kalau mereka telah mendiami pulau kecil itu sejak ratusan tahun yang silam.

Kata Bungin sendiri berarti sebuah gugusan pasir di tengah laut. Awalnya gugusan pasir itu hanya seperlima dari luas yang ada saat ini. Dahulu, mereka berlayar dari Sulawesi dan singgah di Bungin untuk menjual hasil tangkapan ikan ke Alas, seiring waktu mereka mulai membangun rumah kecil diatas tumpukan batu karang.

Kampung Bungin kian bertumbuh, seiring berkembangnya keturunan mereka. Setiap pemuda yang akan menikah dan membentuk keluarga baru, diwajibkan untuk membuat rumah baru. Jika belum siap, maka keluarga wanita belum merestui untuk melangsungkan pernikahan.

Niat keras seorang pemuda untuk mengumpulkan batu karang sebagai pondasi rumah menunjukkan dalamnya cinta pemuda itu kepada calon pasangannya.

Johsan (30), Sekretaris Desa Bungin, menuturkan saat ini pulau Bungin dihuni oleh 991 KK terdiri dari 3.219 jiwa di atas lahan seluas 12 Hektar. Setidaknya ada 268 jiwa untuk tiap hektarnya. Tingkat kepadatan penduduk yang fantastis, wajar jika pulau ini disebut pulau terpadat di dunia.

“Luas lahan pertama kali dicatat pada 1984 adalah 4 hektar. Jumlah rumah dan penduduk saat itu masih sedikit, tapi sekarang sudah ada 700an rumah,” ucap Johsan.

Saat ini Bungin terbagi tiga dusun; Dusun Tanjung, Dusun Sekatek dan Dusun Bungin, imbuhnya.

Reklamasi lahan untuk perumahan diakui makin massif sejak 1984. Banyak warga yang telah memasang patok-patok kayu sebagai batas kepemilikan lahan di tiap tepian pulau Bungin. “Jika kita melihat gundukan batu karang walau jumlahnya tak seberapa, artinya lahan itu sudah ada pemiliknya,” jelas Johsan.

Pengumpulan batu karang untuk pondasi rumah, bukanlah kegiatan reklamasi dalam waktu yang singkat. Diperlukan bertahun-tahun lamanya untuk bisa mencari atau membeli batu sebanyak yang diperlukan untuk sebuah rumah.

Seperti yang dituturkan Majiu, pencari batu karang, ia mencari batu karang yang sudah mati hingga ke Pulau Panjang.

“Mungkin sekitar setengah jam dari Bungin, baru kita cari batu karang mati ini,” ucap Majiu dari atas perahu bututnya. Satu perahu harganya Rp50ribu, tambahnya.

Setelah pondasi rumah siap, pemilik rumah mulai menyiapkan kayu-kayu untuk jembatan menuju lokasi rumah. Segala jenis ranting pohon bahkan papan pecahan perahu juga mereka gunakan untuk jembatan. Struktur kayu inti lainnya untuk lantai, dinding, jendela, pintu dan atap mereka kejakan di darat. Pengerjaan kayu-kayu inipun terkadang lama, tergantung ketersediaan dana mereka. Hebatnya, rumah-rumah dibangun secara gotong royong antar warga, mereka tak mengeluarkan ongkos tukang.

 

Hubungan dengan Dunia Luar

Sejak tahun 2001, lanjut Johsan, Bungin telah terhubung langsung ke daratan dengan dibangunnya jalan batu di bagian barat Bungin. Sejak itu akses kami makin mudah untuk menjual ikan tangkapan.

Motor dan kendaraan makin ramai lalu lalang. Setiap pagi anak-anak sekolah naik motor dan angkutan umum yang hilir mudik dari Bungin ke Alas. “Kalau dulu yaa, kami harus naik perahu untuk sekolah ke Alas,” kenang Johsan.

Di satu sisi pulau Bungin kami melihat pemadatan tanah dalam ukuran yang tak biasa, hampir satu kali lapangan bola luasnya. Saat kami tanyakan, ternyata ada salah satu warga mulai mengembangkan usaha property. Dengan dana yang ia miliki, warga itu menimbun lahan seluas mungkin untuk dijual kaplingan kepada warga lainnya yang akan membangun rumah. Bahkan ia menawarkan cicilan untuk lahan sekalian rumah panggungnya.

Sekolah Dasar Negeri 2 Bungin, adalah satu-satunya sekolah yang ada ditengah kampung Bungin. Sedangkan untuk anak anak sekolah tingkat pertama dan tingkat atas mereka membangun sekolah satu atap di atas bukit pulau seberang. Saat kami kunjungi Kantor Desa pun tengah dipugar, Bungin saat ini tengah membangun.

“Ke depan, kami akan mengembangkan Bungin menjadi tujuan wisata air dengan potensi budaya bahari yang kami miliki. Kami akan membangun restoran see food dan hotel terapung, menggelar event-event olah raga bahari seperti diving, snorkeling mungkin air boarding,” tegas Johsan.

Ya, Bungin tengah membangun! Diperlukan ratusan tahun lamanya untuk membangun Bungin seperti sekarang ini. Tak ada usaha property yang sesabar orang Bajo di Bungin. (LI/KM)

Pembangunan rumah di lahan reklamasi di Pulau Bungin

Pembangunan rumah di lahan reklamasi di Pulau Bungin

Keterbatasan rumput membuat kambing memakan kertas kardus.

Keterbatasan rumput membuat kambing memakan kertas kardus.

Pemandangan matahari tenggelam yang dramatis di Pulau Bungin

Pemandangan matahari tenggelam yang dramatis di Pulau Bungin

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono