Mataram, LombokInsider.com – Efek kerusuhan di Mako Brimob, bom gereja dan Mapoltabes Surabaya, serta Riau dan dikeluarkannya travel advice oleh beberapa negara, sejauh ini belum mengganggu atau berdampak bagi pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Pariwisata dan Ketua PHRI NTB, dikantor Dispar NTB. Selasa (14/5).

Travel advice yang sudah dikeluarkan oleh beberapa negara itu kan gradenya di bawah travel warning, ketika Gunung Agung meletus travel warning pun, sebetulnya tidak terlalu terganggu, sejauh ini masih stabil,” kata HL. Moh. Faozal, Kadispar NTB.

“Semoga travel advice ini tidak terlalu lama. Karena pemerintah sekarang sudah melakukan berbagai upaya untuk recovery dari dampak bom Surabaya dan lainnya, kita berharap travel advice tidak bertambah lagi,” lanjutnya.

“Kalaupun ada, yang merasakan dampak dari travel advice bukan city hotel tapi mungkin rekan-rekan di resort dan gili. Namun sejauh ini masih normal, tidak ada pembatalan booking sampai periode ini. Jadi tidak terlalu mengkhawatirkan, kalau travel warning baru mulai berhitung karena travel advice sifatnya masih himbauan, karena asuransi masih berlaku, mereka juga bisa keluar negeri dengan berbagai catatan,” jelas Faozal.

Menurut Kadispar NTB ini, strateginya ada di aparat keamanan, harus bisa secepatnya menstabilkan keadaan dari dampak bom itu dan ini sudah dilakukan, untuk di NTB juga baru pada level siaga, belum siaga 1.

“Kami bersama dengan asosiasi yang ada, didukung informasi dari pihak keamanan harus bisa menyakinkan bahwa Lombok dan Sumbawa itu aman bagi wisatawan untuk berlibur,” tegasnya.

Senada, Ketua PHRI NTB L. Abdul Hadi Faishal, menyatakan sejauh ini belum ada pengaruh dari travel advice yang telah dikeluarkan oleh lima negara tersebut.

“Sampai hari ini (Selasa, red) kita cek ke hotel hotel yang ada di Lombok, tak satu pun tamu batalkan reservasi dan booking, ini membuktikan meskipun ada kejadian di Surabaya dan Riau tapi pengaruh terhadap pariwisata Lombok tidak ada.

“Terkait dengan standar pengamanan, pengamanan kita setiap masuk kendaraan hotel terutama yang berbintang harus ada metal detector, itu wajar karena kita juga perlu meningkatkan kewaspadaan,” ucap Hadi.

“Saya beri ijin dan sampaikan permintaan maaf kepada tamu hotel yang mau masuk dengan terpaksa kami lakukan pengamanan karena ini bagian cara kita memberikan rasa aman kepada tamu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hadi menegaskan, jikapun kunjungan menurun, karena Ramadhan, jadi tidak berhubungan dengan terror bom yang terjadi. “Namun dengan adanya acara Pesona Khazanah Ramadhan (PKR) yang rutin, maka kami optimistis untuk tingkat hunian, bisa lebih baik, sama seperti tahun lalu.

“Sambut ramadhan ini, PHRI ada program Bulan Belanja Murah (BBM), ini salah satu upaya untuk menambah daya gedor wisatawan datang ke NTB. Akan ada diskon, dengan kesepakatan masing masing hotel, kisarannya ada 20-30 persen dari sebelumnya yang hanya 10-20, tergantung kebijakan hotel,” tegas Hadi.

Menurutnya, Ramadhan 2017 ada kenaikan 7-8 persen (okupansi) dibanding tahun sebelumnya karena ada PKR. Angka pastinya di antara 51-52 persen artinya ini sudah cukup tinggi karena saat Ramadhan biasanya terjun bebas, hingga 35 persen saja. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com