Selong, LombokInsider.com – Jika dinilai dari segi keindahan, tidak salah jika pantai yang satu ini menjadi salah satu pantai terindah di Pulau Lombok. Air lautnya yang jernih, serta pasir putihnya yang dapat berubah menjadi pink karena pantulan sinar matahari, hanya dapat dinikmati sekitar pukul 7-9 pagi dan sore menjelang matahari terbenam jika cuaca cerah. Warna merah ini berasal dari koral, pecahan kerang, dan kalsium karbonat yang berasal dari hewan laut.

Keunikan inilah yang membuat pantai yang awalnya bernama Pantai Tangsi karena tempat itu sebelumnya merupakan genteng atau tangsi penjajah Jepang. Jejak-jejak peninggalan kolonial Jepang masih terlihat sampai sekarang. Di kawasan Pantai Pink terdapat gua dan meriam peninggalan Jepang.

Saat ini Pantai Pink kian dikenal oleh wisatawan maupun blogger baik melalui sosial media maupun berita dari mulut ke mulut. Pantai ini terletak di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.

Wisata Bahari

Di sekitar Pantai Pink juga terdapat beberapa gili yang dapat Anda kunjungi. Gili merupakan sebutan untuk pulau kecil yang ada di pulau Lombok. Gili Petelu dan Gili Temeak.

Banyak kegiatan wisata bahari yang dapat dilakukan saat mengunjungi Pantai Pink. Yang paling populer di sini adalah berenang, snorkeling, memancing atau berkunjung ke pulau-pulau kecil di sekitar Pantai Pink. Pantai Pink merupakan perairan dangkal dengan arus yang tenang sehingga memungkinkan untuk aktivitas berenang.

Akses ke Pantai Pink

Menuju Pantai Pink dapat dicapai melalui 2 jalur yakni darat dan laut. Melalui darat dengan rute Mataram – Praya – Jerowaru – Pantai Pink sekitar 2 jam dari pusat kota Mataram dan jalur darat-laut dengan rute Mataram – Praya – Keruak – Tanjung Luar. Tanjung Luar merupakan kawasan permukiman nelayan, dari sana dapat menggunakan perahu sekitar 40 menit menuju Pantai Pink.

Tiket Mahal

Sayang setelah semakin terkenal, beberapa waktu lalu Pantai Pink sempat bermasalah dengan tiket atau karcis masuk. Hal ini karena harga yang dipatok terasa cukup mahal untuk sekedar masuk dan menikmati keindahan sebuah pantai dengan fasilitas pendukung yang masih minim.

Harga tiket bahkan mencapai Rp50 ribu per orang untuk Wisatawan Mancanegara (wisman), sedangkan Wisatawan Nusantara (wisnus) dikenakan Rp10 ribu. Mahalnya tiket masuk ke objek wisata alam Pantai Pink ini dinilai cukup memberatkan wisatawan, bahkan membuat wisatawan merasa enggan berkunjung ke pantai tersebut.

“Sebelumnya, setiap hari ada seratus orang atau lebih, sekarang menurun drastis. Bahkan saking sepinya, beberapa waktu lalu saya lihat hanya ada beberapa orang saja yang datang,” ujar Jayadi, salah satu pelaku wisata di daerah ini.

Bahkan menurut Jayadi, pemberlakuan tiket masuk membuat wisatawan baik dalam dan luar negeri sangat terganggu karena dinilai terlalu mahal. Akibatnya, banyak wisatawan yang berjanji tidak akan berkunjung lagi ke Pantai Pink.

Sementara itu, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Rinjani Timur, Lombok Timur mengaku bahwa pemberlakuan tiket masuk tersebut bukan mengada-ada, melainkan karena mengikuti aturan Perda Propinsi NTB Nomor 6 Tahun 2016, tentang pemberlakuan tiket masuk di kawasan wisata.

Pihak KPHL mengaku, memberlakukan tiket masuk tersebut karena telah menjadi aturan yang ditetapkan Perda. Namun, untuk sementara, pihaknya akan menyiasati cara agar karcis masuk Pantai Pink tidak memberatkan wisatawan yang datang berkunjung.

Mengapa pantai berbayar, hal ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (UU 27/2007”) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (“UU 1/2014”).

Berdasarkan hal ini, pihak pemerintah memang berhak membuat Perda, namun mungkin besaran harga tiket tersebut harus dipertimbangkan lagi, sehingga tidak menimbulkan kekecewaan wisatawan yang datang berkunjung. Sehingga tidak berdampak negatif terhadap pariwisata NTB. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com